Monday, September 7, 2009

Pagi Itu Mengajariku Sesuatu


Perlu waktu dua bulan bagiku untuk menyadari bahwa ada orang yang sama yang membersihkan lantai koridor di tempat aku beraktivitas sehari-hari.

Pagi itu aku datang terlambat jam 9.30 saat hari sudah mulai panas. Tak ada hal lain yang kufikirkan kecuali cara tercepat samapai di mejaku , sambil mengingat keras berharap tidak ada janjian yang kulewatkan sebelum aku tiba pagi ini. Mungkin kalau ada yang melihat wajahku saat itu, pasti akan terlihat 5 tahun lebih tua dari umurku yang 17 tahun, haha :p .

Anyway, sampai juga lah aku di lantai dua. mejaku hanya 10 detik dari tempatku berdiri saat itu. dan kulihatlah seorang Bapak yang kurus, mungkin 55 Tahun , yang tiba-tiba menghentikan aktivitasnya, menepi di pinggir koridor sambil menarik ember di sampingnya, dan memberiku jalan untuk lewat. Bapak itu seolah membaca wajahku dengan : "Oi..siapapun di depanku, aku lagi buru2, jangan diganggu..!". Dan dengan senyum lebar, sangat lebar, Bapak itu menganggukkan kepalanya sambil memegang alat pel rapat2 ke bajunya yang memakai baju dan celana seragam biru, bertuliskan "Petugas Kebersihan".

Aku lupa saat itu sempat berhenti atau tidak, tapi sebelum berlalu, aku sempat tersenyum sekilas. Sedetik kemudian, aku sudah masuk ruangan yang dingin.

Pagi itu aku menyadari ada yang salah dengan diriku.

Kadang rasanya aku menyalahkan tugas, rutinitas dan berurusan dengan orang-orang yang tidak bersahabat telah membuatku kehilangan percakapan kecil dalam diriku. bahkan hingga membuatku tersenyum hanya untuk membalas senyuman orang. aku malu melihat sikap Bapak tadi yang terasa sekali tidak meminta balasan. ah, sudah lama sekali aku belajar tentang ketulusan, ternyata pagi ini aku diingatkan lagi bahwa aku masih jauh dari nilai A. saat itu aku berjanji akan memulai percakapan kecil lagi dg diri ini, dengan sesuatu yg di dalam sini, dengan jiwa dan hati.

Siang hari menjelang Ashar, aku hendak pergi ke kamar kecil yang berada di luar ruangan kami. artinya, aku harus keluar melewati koridor lagi. saat itu aku melihat bapak itu (God! Bapaknya bekerja dua kali sehari ya di koridor ini??--kenapa aku baru sadar sekarang). Maka, kusempatkanlah berhenti dan menyapa.

Dengan keseharianku menggunakan bahasa jawa halus di rumah, aku sukses mengawali pembicaraan saat itu. Pernah nggak, kita lagi bicara sama orang, dan kita bisa merasakan bahwa lawan bicara kita senang bicara dengan kita... itulah yang kurasakan saat itu.

Si Bapak ternyata sudah bertahun-tahun menekuni pekerjaannya sekarang, namun baru beberapa bulan bekerja di koridor itu. Dua kali sehari beliau membersihkan seluruh koridor lantai 2. Aku sempat keceplosan bertanya dengan bahasa Indonesia, yang dijawabnya dengan gugup. percakapan kembali lancar ketika aku teringat untuk bicara jawa lagi. Beliau kemudian menceritakan tentang obat2 pel yang dia guanakn untuk lantai koridor ini. Wajahnya terlihat ringan. seolah dari cara bicara dan wajahnya terbaca: "pekerjaanku ini sangat menyenangkan, hidupku sangat ringan dan menenangkan..."


Ketika kuceritakan pada Ibu, Ibu menanggapi dengan hal lain yang tidak kufikirkan sebelumnya:
"Orang seperti itulah Wien yang seharusnya diberi. Orang yang kekurangan, tapi terus bekerja. Dia selalu mencukupkan dirinya, tidak merasa kekurangan dan tidak meminta."

Saat melihat matahari pagi dalam perjalananku hari berikutnya, aku menyadari betapa maha kasihnya Tuhan dalam hidupku, aku nya saja yang nggak pandai bersyukur.

ps: Judul ini pernah digunakan untuk posting di blog yang lain. Bahkan setelah dua tahun lebih, aku masih saja teringat judul ini. Well, keterbatasan ide saja ding :p

3 comments:

luthfi said...

tulisanmu oke Win..

itsmekiki said...

keep writing, mbak wien!
keep on your passion on it :)

Anonymous said...

mengharukan...

Post a Comment

 
Copyright 2010 Wien Wien Solution. Powered by Blogger
Blogger Templates created by DeluxeTemplates.net
Wordpress by Wpthemescreator
Blogger Showcase