Wednesday, July 6, 2011

Yang Menjaga Diri dari Meminta-minta

Hari mulai gelap ketika aku pulang kantor kemarin, kira2 menjelang maghrib, pukul setengah 6 sore. Seperti biasa, aku pulang jalan kaki dengan cepat-cepat, selain karena ingin segera sampai rumah, juga biar kayak orang bule yang kl berjalan cepat sekali *haha. Tak berapa jauh di belakangku, terdapat seorang bapak-bapak yang juga berjalan cepat. Mukanya nggak tampak jelas karena memang jarak kami tidak cukup dekat. Dengan bekal kecurigaan dan rasa waspada, aku memacu langkah dengan cepat, namun tak berapa lama ternyata bapak itu mendahuluiku dengan mudahnya....lega karena ternyata kecurigaanku tidak terbukti (ternyata Bapak itu nggak ngejar aku, hehe).

Pandanganku langsung tertuju pada penampilan bapak itu, kaosnya coklat muda (campuran hijau kusam dan coklat) dengan topi kain dan sandal jepit yang sudah "tepos" (sangat tipis karena sering digunakan), dan ternyata dia menenteng kotak kayu kecil yang bertuliskan "semir sepatu" lengkap dengan sandal jepit biru yg bagus dan bersih di dalam kotak tersebut. Entah kenapa hatiku tergetar melihat Bapak itu, dia berjalan dengan ringan dan sangat cepat, mungkin karena dia terbiasa berjalan setiap harinya. Dia berjalan jauh cepat mendahuluiku, sampai akhirnya kami terhenti bersama di palang kereta api ketika kereta akan lewat.

Waktu itu kereta sudah selesai lewat, tetapi palang kereta tetap belum dibuka. Meski demikian, tetap beberapa sepeda motor menerabas palang, dan semakin banyak saja yang ikutan menerabas walaupun petugas KAI berlari keluar gardu jaga berteriak2 mengingatkan kalau masih akan ada satu kereta lagi yang lewat. Di tengah aku cuma geleng-geleng kepala melihat kesemrawutan tersebut, bapak semir sepatu tadi ternyata berjalan mendekati kerumunan motor di baris depan palang kereta, mengingatkan mereka untuk tidak menyeberang rel karena masih ada satu kereta lagi yang lewat. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi aku cuma melongo melihat kejadian itu, hingga palang kereta itu dibuka dan Bapak semir sepatu itu kembali berjalan cepat dan menghilang di tikungan.

Dan Tuhan sepertinya masih memberiku kesempatan untuk dipertemukan lagi dengan bapak itu saat makan siang di belakang kantor hari berikutnya. Bapak itu berjalan menawarkan jasa semir sepatu di antara orang2 yang sedang makan, atau tepatnya berkeliling2 di antara orang2 yang sibuk makan dan tidak menggubris kehadirannya--Bapaknya juga tau diri untuk tidak random menawari semua orang, hanya orang2 yang terlihat tidak ngobrol/terlihat tidak menunduk serius makan. Waktu itu belum ada seorangpun yang menyemirkan sepatu padanya, hingga dia sampai di depan tempatku makan, "Mbak mau semir sepatu?"katanya sambil tersenyum sangat lebar, meski wajahnya pucat dan lesu.

Dan singkat cerita, dia sudah selesai menyemirkan sepatuku dan meletakkan sepatuku di bawah kakiku (*aneh rasanya ada orang menunduk naruh sepatuku gini). Sesaat saat itu juga aku langsung bilang, "makasih Pak" walaupun belum membayar, dan Bapak itu membalas "saya yang makasih Mbak". Maka bisa ditebak, ketika aku mengulurkan uang, mukanya senang sekali dan langsung nyerocos mendoakan kebaikanku dan rejekiku, dengan segala kesyukuran yang terpancar di wajahnya.

Ahh....lagi-lagi ada yang bergejolak dalam diriku. Di tengah hingar-bingar kota Jakarta dengan segala kemewahan dan kebutuhan hidup yang tak ada habisnya, ternyata ada orang yang mencukupkan diri dengan apa yang dia terima. Dia melakukan apa saja yang dia bisa untuk membuktikan bahwa kasih sayang Tuhan tidak terbatas bagi mereka yang bekerja nyaman di ruang ber-AC, bagi mereka yang punya modal, bagi mereka yang pintar dan dianugerahi keberuntungan mendapatkan kemudahan rejeki.

Ah, orang-orang seperti itulah yang seharusnya kita beri rejeki... Orang yang tidak dianugerahi nikmatnya pekerjaan seperti layaknya kita, tapi terus berusaha...yang selalu menampakkan syukur di wajahnya...yang sebenarnya selalu kekurangan, tapi menahan diri dari meminta-minta....

7 comments:

Anis said...

Seperti pagi ini win, di lampu merah aku berhenti di sebelah truk dengan bapak-bapak bergerombol di atasnya. Senyum mereka itu lho, rasanya diliat ringan amat. Padahal bisa jadi kerja mereka nantinya lebih bermandi keringat daripada aku. Lha aku kerja ja kadang masih sambil nekuk muka *eh, emang bisa ya :D
Pelajaran ada di sekeliling kita ya win, tinggal kitanya aja yang jeli melihat dan mengambil hikmah ato gak ;)

Wiwien said...

betul nis....mariii saling membantu! :)

alinechandra said...

membaca blogmu selalu bisa membawa 'kesegaran' tersendiri utk jiwa, wien. thx for sharing.. =')

Wiwien said...

Ah..makasih aline...ditunggu laporan kulinernya lagi..sukses membuatku berasa ikut makan, hehe

punyaRINDU said...

hoaaaa paling gak tahan win sama cerita yang begini. btw kamu makan dimana win ada bapaka itu? pernah dulu aku makan di resto tepat sebelahnya hotel arya duta, ada bapak-bapak macam begini juga. bikin lidah sepet kalau liat orang yang begini.perut laper tapi gak tega di depan mata ada orang yang begini, mau ngasih juga rada gak mungkin secara dia bukan pengemis T.T

btw, aku habis baca ceritamu terharu banget tapi begitu baca komennya alin langsung ngekek huahaha puitis kali bahasa dia :D

Wiwien said...

hahah...aku baca komenmu di awal juga ikutan terharu nduk, tp komenmu di akhri ttg aline jg jadi bikin ngekek :))

btw ak inget ndu dl pas kuliah kamu sering bgt beli barang2 yg ga kamu butuhin di penjual keliling tanpa nawar (pdhl bagi kita harganya mahal bgt), waktu itu kamu blg "ak nggak tega soalnya kl nawar", dan kita orang2 yg gak punya duit ini cuma melongo waktu itu

sekarang aku tau maksudmu ndu...
dan di jakarta ini jurang "punya duit" dengan "gak punya duit"sama sekali adalah jauuuhhh banget

alinechandra said...

ya habis memang bener sih. Kalo lagi emosi, baca blognya wiwien pst jadi "adem" lagi. hehehee..

Post a Comment

 
Copyright 2010 Wien Wien Solution. Powered by Blogger
Blogger Templates created by DeluxeTemplates.net
Wordpress by Wpthemescreator
Blogger Showcase