Tuesday, April 26, 2011

Ujian

Terhitung sejak tahun 2007, karena satu kejadian penting dan lainnya, aku meniatkan diri untuk selalu hidup dengan dasar kesyukuran, untuk terus menyadari dan mencari bukti kasih sayang Tuhan dalam hidupku, sehingga mengingatkanku untuk selalu ceria, berpositive thinking, anti mengeluh, tidak membenci dan iri terhadap nikmat orang lain. itu komitmen yang selalu kuniatkan.

Namun kadang, Tuhan tahu kapan saatnya manusia perlu diuji atas komitmen umat Nya.

Kira-kira sebulan yang lalu, tepat tengah malam pukul satu (okay, tengah malam harusnya pukul 12 yak?), hapeku berbunyi, seseorang menelponku. Karena benar-benar tertidur, antara sadar dan tidak, aku tidak mengangkat telepon itu. hingga dua kali. kemudian gantian HP Mas Anas yang berbunyi. Karena ak yakin penelepon itu adalah orang yang sama dengan yang menelponku tadi, aku meminta mas anas mengambil HP nya dan menjawab telepon tengah malam itu.

Benar saja, ternyata penelpon itu adalah Kakak mas anas yang berada di Malang, memberitahukan bahwa Mama (ibu mas Anas), terkena serangan stroke lagi (stroke pertama tahun 2008), dan sedang dibawa ke rumah sakit. Semua kantuk kami mendadak hilang seketika. sesaat setelah telepon ditutup, kami hanya diam terpaku, banyak pikiran yang mendadak mengantri dalam otak kami, sekaligus aku melihat raut kesedihan di wajah mas anas yang nggak bisa ditutupi.

Dan hampir tiap wiken sejak malam itu, kami pergi ke Malang untuk menjenguk Mama di rumah sakit. Kami selalu pulang ke Malang dengan penuh semangat dan harapan semoga kedatangan kami membawa kesembuhan bagi Mama, atau sekedar memulihkan ingatan Mama sepenuhnya. Meski seringkali, semangat yang tinggi itu mengelabuhi kemampuan fisik kami, hingga berujung pada demam dan flu tiap kali pulang dari Malang, tentu saja karena Jakarta-Malang (via Surabaya) dengan kereta yang memakan waktu sekitar 13 jam, plus dua jam bis dari Surabaya ke Malang ditempuh dalam 2 hari wiken saja, ternyata mampu menggoyahkan kekuatan fisik kami.

Hingga akhirnya dua kali wiken kami absen menjenguk Mama, selain untuk mengisi kekuatan fisik lagi, juga untuk menunggu dompet terisi lagi ;-) Mas Anas beberapa kali meminta maaf kepadaku, aku yakin dia juga nggak tau kenapa minta maaf...tapi yang jelas, kejadian ini membuat kami menyesuaikan beberapa mimpi di sana-sini, terutama tentang rencana-rencana kita di masa depan yang berkaitan dengan finansial *hayaahhh

Beberapa saat setelah Mama diperbolehkan pulang dari rumah sakit, aku mendapat kabar kalau adik laki-lakiku baru saja mendapat hasil CT scan (setelah merasa pusing yang tidak sembuh-sembuh), dan tim Sardjito dokter saat ini sedang proses "rapat" untuk mengambil tindakan (baca:operasi otak) dengan beberapa diagnosa kelainan yang harus segera ditangani. Melalui telepon, Ibu menceritakan detail gangguan yang dialami adiku karena penyakitnya itu, dengan beberapa kali terhenti dlm bercerita, tentu saja ibu menangis. Aku lantas berusaha membesarkan hati ibu, mengatakan bahwa semoga ini cara Allah memberikan surga bagi kita..mungkin kita belum punya cukup "poin" untuk lulus ujian masuk surga, sehingga kita diberi kesempatan ini. Dan tentu saja, mengatakan pada ibu untuk menganggap ini akan mudah,dan bahwa harta tidak dibawa mati (sebelumnya kita membahas perkiraan biaya operasi tersebut). Ibu mengatakan kalau senang mendengarnya, dan kami berusaha membahas hal yang lain (waktu itu ngomongin Indosat dan kucing di kosan! haha), dan telepon ditutup.

Meski terlihat sangat kuat dalam telepon, tapi tenggorokanku mulai tercekat ketika telepon ditutup, aku ingin menangis.

Dan sepertinya, saat ini kami harus ikhlas untuk bye-bye pada rencana-rencana kami di masa dpn... Aku dan mas anas memiliki tabungan di satu rekening khusus untuk menyiapkan mimpi masa depan kami tersebut,dengan label "apapun yang terjadi, rekening ini nggak akan tergoda untuk diambil". Tapi sepertinya, Mama, adik..dan keluarga itu lebih dari apapun. Semoga nanti dapat ganti yang lebih berkah dan banyak, amiiin.

Sepertinya, itulah cara Tuhan berbicara dengan kami, aku merasa tangan-tangan Nya sedang bekerja untuk skenario hidupku, untuk menyisipkan satu dan dua nilai kehidupan yang belum kumiliki... Aku dan mas anas bahu membahu mengingatkan untuk ikhlas, dan selalu berterima kasih atas segala nikmat kehidupan yang telah kita miliki. Inilah ujiannya, masih bisakah kami melihat nikmat dan kasih sayang Nya di tengah keadaan-keadaan ini? Masih ikhlas kah kami mengatakan "Tuhan, kami adalah hambamu yang selalu bersyukur" ?

Dan pagi itu,ketika berjalan kaki hendak menyeberang jalan menuju kantorku, aku melihat seorang perempuan berusia 40 tahunan dengan baju dan topi lusuh, tanpa alas kaki, menarik gerobak bertuliskan "beli barang bekas", berhenti di sampingku untuk ikut menyeberang. Dan setelah beberapa detik, dia menoleh ke arahku sambil mulai menyeberang: "Mari-mari nak...", aku menoleh ke arahnya dan masih ragu-ragu menyeberang (takut seperti biasa), dia berhenti di tengah jalan dan mengatakan "Mari nak menyeberang bareng ibu...", aku baru tersadar dan mulai menyeberang dengan cepat-cepat... Muka ibu itu terlihat sangat ceria, aku merasa dia tersenyum dengan sangat ringan dan mudah, seolah senyum itu selalu ada di wajahnya...

Ah.... di tengah usahaku menguasai hati dan pikiran supaya selalu berbaik sangka kepada Mu, lagi -lagi aku merasa Tuhan sekali lagi sedang mengajakku berbicara melalui ibu-ibu tadi. Raut wajahnya yang ringan, mudah tersenyum, ringan memberi bantuan...aku merasa sedang di dekat orang yang selalu bersyukur atas tiap keadaan, walaupun "hanya" mengandalkan uang dari barang bekas, walaupun terus mengais di bak sampah rumah mewah di Menteng, walaupun berpakaian lusuh, walaupun selalu berjalan tanpa alas kaki....

"say:"nothing can happen to me except what Allah has ordained for me, He is our Master. It is in Allah that the believers put their TRUST" " (At-Tawba 51)

Doakan mama dan adik cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala ya bloggers......

Banyak penarik gerobak pembeli barang bekas seperti ini di jalan-jalan sekitar Menteng.
Seorang teman bule ku pernah bertanya kepadaku: "What? mereka membeli barang bekas dari orang-orang kaya di sini? kenapa orang-orang kaya itu nggak memberinya aja?"

PS: Mas Anas yang saya sebut2 di atas adalah suamiku, lupa njelasin, hehehe

8 comments:

Anonymous said...

amin.semoga lekas sembuh mama dan adiknya mbak..

Momi said...

Allah selalu menyisipkan benang hikmah di bentangan kain kehidupan.. bersyukurlah diberikan kepekaan dan kelembutan hati untuk memetiknya Wien.. *terharu* dan semoga Allah berikan kebaikan juga kasih sayangNya pada mama mas Anas, adik wiwien dan semuanya.. *ikut berdoa* :)

Wiwien said...

@anonymous: amiiiin, makasih doanya ya, insya Allah terkabul

@mommy: amiiin, makasih mom,,bener,,kemampuan untuk menggali hikmah juga merupakan nikmat dibalik musibah ya mom, jd menjalaninya dengan senyum2 sendiri :)

Kiki Fauzia said...
This comment has been removed by the author.
Kiki Fauzia said...

Allah beserta orang-orang yang sabar dan ikhlas, Mbak. Dan beruntung Mbak tergolong orang yang pandai mengambil hikmah dari setiap ujian. Semoga Allah semakin menyayangimu dan keluargamu, Mbak :) Amieen.

Wiwien said...

Makasih ki, ini menulis juga untuk ngingetin diri sendiri...smoga berkah selalu ya hidup kita, amiin

wiwitprasetyono said...

Dan setelah membacanya, mengembalikan semangat untuk tetap "semangat" di tengah perasaan gak tentu pagi tadi! Thanks Wien :)

Wiwien said...

MAkasih wit! you're my inspiration too!

Post a Comment

 
Copyright 2010 Wien Wien Solution. Powered by Blogger
Blogger Templates created by DeluxeTemplates.net
Wordpress by Wpthemescreator
Blogger Showcase