Thursday, November 14, 2013

Pengalaman Mengajar



Hari ini untuk kedua kalinya saya mengajar. Kali ini masih dalam training yang diselenggarakan oleh Lembaga Teknik UI di Kampus Salemba, sama seperti ketika pertama kali saya mengajar. Saya diminta untuk memberikan materi terkait Kriteria Penilaian Proyek, khususnya kalau dalam kapasitas saya adalah yang dibiayai dari pinjaman luar negeri. So far, tema ini yang memang paling saya kuasai dan relevan dengan kapasitas pekerjaan saya di kantor. Sebelumnya, selama satu tahun (periodik, tidak sepanjang tahun), saya mendapat training terkait Project Assesment, yang tentu saja membahas kriteria penilaian proyek yang dimaksud.

OK selanjutnya saya tidak akan membahas detail materi paparan saya, kalau mau membahasnya lebih lanjut, bisa undang saya lagi sebagai pengajar..heheheh *ditimpuk penghapus

Hari ini, selesai mengajar, saya keluar kelas dengan rasa puas dan optimisme luar biasa. Di kelas saya tadi, pesertanya adalah para PNS yang berasal dari Pemda (Bappeda, Dinas PU, Setda Kabupaten, Kanwil Kemenag, Setda Pemkot, bahkan ada pula dosen dari STAIN), dari beberapa daerah di Indonesia. Saya takjub bagaimana mereka dengan SANGAT antusias menerima materi yang saya sampaikan, mereka juga aktif bertanya dan sharing pengalaman terkait materi saya dalam konteks mereka di daerah. Dari pertanyaan dan sharing-sharing mereka, saya merasakan bahwa mereka adalah orang yang idealis, padahal usia mereka sudah tidak muda lagi (ya tapi jangan bayangkan juga orang tua masuk kelas hehe, ya 35-40 tahun lah).

Sebagai contoh, mereka bercerita bahwa suatu ketika ada pihak dari pemerintah pusat datang dan menyampaikan akan membuat sebuah proyek infrastruktur bandara di kabupaten tersebut. Peserta training itu menjelaskan bahwa setelah dia mempelajari kembali dokumen RTRW atau dokumen perencanaan kota lainnya, sebenarnya proyek tersebut tidak ada dalam rencana tata kota mereka. Namun demikian, mereka tetap menyetujui pembangunan tersebut karena proyek tersebut sesuai prioritas nasional. Yang saya salut adalah, upaya dia untuk mempelajari kembali dokumen2 perencanaan kota yang sudah ada, dan dia gunakan untuk "mendebat" usulan proyek dari pemerintah pusat. Hal ini berbeda dengan kasus umum yang terjadi dimana proyek besar adalah sesuatu yang dinanti2 oleh daerah, apalagi jika itu proyeknya pemerintah pusat, artinya daerah tidak perlu menyediakan dana utamanya. Sebelumnya peserta ini menanyakan tentang poin-poin yang saya tulis sebagai syarat pemenuhan kesediaan tanah (saya menulis aapa yang sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah), namun peserta ini menambahkan perlunya menambah komponen RTRW yang jelas, karena hal itu bisa sangat mengganggu.

Peserta yang lain ada yang menanyakan salah satu contoh proyek yang tergolong berhasil dari Kementerian Pertanian, dalam hal ini adalah proyek FEATI yang dikoordinasikan di direktorat saya . Kebetulan ada salah satu peserta lain ada yang pernah terlibat dalam proyek itu di level daerah, dan memberikan gambaran bagaimana proyek tersebut diterima oleh masyarakat dan pelaksanaan proyeknya benar-benar melibatkan petani di wilayah kabupatennya. Hingga saat ini, proyek yang telah selesai tersebut masih sering dibicarakan oleh masyarakat karena manfaatnya masih dirasakan. Saya terhanyut mendengarkan penjelasan peserta tersebut, di samping sebenarnya saya tidak begitu tahu keberhasilan proyek itu di level gras root penerima manfaatnya. DI level kami di pusat, proyek itu memang sering pula disebut dan diusulkan untuk direplikasikan melalui pendanaan dari dana rupiah.

Di akhir paparan saya, setelah saya menutup sesi saya, saya sempat bertanya darimana mereka mengetahu informasi terkait training ini. Saya bertanya demikian karena kagum atas betapa besarnya cakupan peserta yang ada, bayangkan dari Pemkot Salatiga, Karawang,hingga Lombok Barat, Manado, dan Empat Lawang (ayoo googling dimana kabupaten itu!). Dan jawaban mereka justru lebih membuat saya kagum: "kami cari sendiri bu, dapat dari websitenya Bappenas (Pusbindiklatren). Kalau menunggu dari provinsi atau atasan, ga akan bisa sampai sini...". (untuk teman2 yang ingin mengikuti  beragam training dan diklat yang diselenggarakan Bappenas, bisa klik link ini).

Wow! Saya yang selama ini menginginkan sebuah training di negara yang masuk dalam "Wish List" tertohok juga dan menanyakan pada diri sendiri: "Apa yang sudah saya lakukan untuk mencari dan mengupayakannya sendiri?"

Lalu, sebelum saya akhirnya harus benar-benar pergi, mereka bertanya terkait suka duka saya menjadi Staf JFP (Jabatan Fungsional Perencana). Memang saya akui banyak sekali suka nya, walaupun saya belum pernah merasakan jadi staf non fungsional perencana. Intinya mereka menyampaikan keinginan mereka untuk mengambil jalur funsgional JFP. Saya jelaskan sebatas kemampuan dan pengetahuan saya. Saya sampaikan pula bahwa peserta training ini pada periode sebelumnya, ada satu orang dari Basarnas kalau saya tidak salah ingat, adalah satu-satunya JFP di lembaga tersebut, yang mengupayakan sendiri juga untuk jadi JFP. Alhasil sekarang, beliau banyak ditanyai temen2nya yang ingin jadi JFP juga tapi tidak tau harus bagaimana. Pernyataan saya tersebut ternyata membuat mereka bersemangat dan yakin untuk bisa mengupayakan menjadi JFP.

Ah, saya senang sekali hari ini. Saya seperti melihat sebenarnya ada banyak mutiara-mutiara di pedalaman yang bersinar cerah. Yang setiap harinya menjalankan pemerintahan ini dengan penuh semangat, yang ternyata gak selalu anak muda, yang gak selalu orang yang pandai bahasa inggris seperti mereka di pemerintah pusat, yang sangat semangat dan yang bisa diajak berbagi idealisme menjalankan negara.

Ah saya memang mengajar mereka hari ini, tapi saya yakin, apa yang saya dapatkan sama banyaknya dengan mereka, bahkan lebih!

*dan tak lupa sebelum pulang, pihak panitia memberikan amplop coklat dan tandatangan di atas materai kepada saya. Alhamdulillah :)

Monday, October 21, 2013

Celoteh Aisha: 17 Months


Sudah sadar ketika dipanggil "Aishaa.."

Alhamdulillah, di usia aisha 17 bulan ini, sebentar lagi 1,5 tahun, hal yang paliiiiing terlihat dari perkembangannya adalah "speech development", kalau orang jawa bilangnya "ngoceh". Banyak kata-kata baru yang mulai bisa dia tirukan dengan jelas, seperti "bobok", "duduk", "mimik", "pipis", "ayok", "bis" dan yang paling lucu: "anduk".  Kata-kata itu di samping beberapa kata lain yang sudah dia bisa sebelumnya seperti: "enak","tedes (pedes)",  "jatuh", "aduh", "ndak ada", "gajah", dsb..., dan tentu saja "mama", "papa".  Oh ya, walaupun Aisha udah tinggal sejak bayi di Jakarta, tapi alhamdulillah dia masih "medhok" hahaha. Sukses deh saya sebagai orang tua! *malah bangga*. Perkembangan lain yang cukup signifikan dari speech development Aisha adalah di usia ini, Aisha sudah mulai bisa merangkai 2 kata! Kalau sebelumnya Aisha hanya bicara satu kata demi satu kata, sekarang Aisha mulai bisa mengatakan: "Papa bobok", "Mama ndak ada",  "Ayta mam", ya walaupun rangkaiannya masih sebatas Subjek+Predikat, belum masuk ke S+P+O+K, *lu kira guru bahasa! hehe

Celotehan Aisha seringkali lucu, tapi lebih sering tak terduga... berikut beberapa yang saya ingat... hehe.

1. Bernyanyi...
Suatu ketika Aisha bergumam sendiri seperti orang menyanyi karena nadanya naik turun, kata-katanya gak putus2, tapi sama sekali ga jelas artinya, misalnya: "magama..tataga.. bla..bla.. (makin ga jelas, tapi nada suara naik turun)", dan tiba tiba ditutup dengan "uhuuu...uhuuu....uhuuu..." (nada lagu burung hantu). Haha rupanya dia dari tadi maksudnya nyanyi "Matahari terbenam, hari mulai malam...dst" (burung hantu). Lagu burung hantu ini lumayan sering dinyanyikan akhir2 ini, lagu lainnya adalah "Balonku ada lima"  dan "cicak-cicak di dinding". Kita taunya Aisha lagi nyanyi adalah pas tiba-tiba di tengah2 bergumam, dia berkata "doorrr" untuk lagu balonku, atau "Hap!" untuk lagu cicak.


All by herself: Naik sofa!
2. "Papa (selalu) bobok"
"Bobok" adalah kata-kata terbaru yang bisa diucapkan Aisha dengan sempurna hingga 17 bulan ini. Alhasil, dia seneng banget "menggunakan" kata "bobok" ini. Sekarang kalau mengajak saya untuk tidur, dia tidak hanya menarik2 saya ke kamar tidur, tetapi sambil berkata "ayok...bobok..". Oh, how sweet. Lucunya, ketika dia bermain robot2an kucing yang bisa berjalan sendiri, tiba2 dia membalik kucingnya sehingga kaki kucingnya gerak2 sendiri di atas (jawa: cekakaran), sambil tertawa, Aisha berkata: "bobok..bobok..". Ternyata kucingnya "dipaksa" bobok haha. Seringkali, ketika kami tidur bersama (Saya, Aisha dan papanya), Aisha bangun lebih dulu dan mengajak saya bermain, dan meninggalkan papanya yang masih tertidur manis. Saat bermain itulah Aisha berkata: "Papa ndak ada...", dan saya jawab: "Iya, papa bobok". Sejak saat itu, tiap kali kami bermain dan papanya nggak ikutan, Aisha selalu bergumam sendiri "papa bobok..papa bobok..". Haha, seperti nemu momen yang pas untuk mengucap bobok!


Aisha and papa
3. Tawa terindah
Di usia 17 bulan ini lah, Aisha makin  terlihat menunggu-nunggu orang tuanya pulang dari kantor sore hari. Alhamdulillah beberapa bulan terakhir, load pekerjaan kantor tidak terlalu tinggi, sehingga saya bisa pulang teng jam 4 dari kantor. Hal ini menjadikan Aisha seperti punya memori tersendiri bahwa "jam segini mama papa ku sebentar lagi pulang". Dan benar saja, sekitar jam 5an, Aisha sudah berlari ke arah jendela depan ketika mendengar suara motor mendekati rumah. Biasanya dia sedang bermain di ruang tengah, dan berlari ke depan menuju jendela ketika mendengar suara motor mirip kami. Kata embaknya, biasanya motor kami datang setelah Aisha 1-2 kali "keliru" mengira kami sudah datang. Dan yang dia lakukan ketika kami datang: melihat ke jendela, menjerit "aaaaa..." sambil tertawa lebar, lalu membuka pintu, dan mulai ngoceh tidak putus-putus, nunjuk dinding, mainan, lemari, taman, semuanya..entah apa yang dia ceritakan :)). Tapi pernah suatu kali, saya terlambat pulang ke rumah, hingga pukul 7 malam. Waktu itu ndilalah pas papanya dinas ke luar kota.  Ketika saya pulang, Aisha sudah BERDIRI menunggu di jendela, melihat keluar dan langsung berteriak "Mamaaaaa..." dan menjerit tertawa sangat senang. Hingga saat ini, saya merasa itu adalah tawa aisha paling bahagia yang pernah kulihat.



Loves watering
4. Toilet Training: Failed!
Well, aku belum benar-benar mencoba memberi Toilet Training sih. Cuma kemarin Aisha sempat kucoba tidak pakai pampers selama satu jam lebih. Salah juga sih gak pakein pampers pas anaknya habis minum air putih segaban. Alhasil dalam sejam itu, Aisha udah pipis 5 kali. Hari itu juga Aisha kuajari mengucap "pipis". sukses, dia bisa menirukan sempurna, tapi tetap belum bisa bilang pipis tiap sebelum atau sesudah pipis, jadi harus saya cek sendiri celananya secara rutin. Ketika ketahuan celananya basah itulah, saya bertanya ke Aisha "Pipis ya? tadi pipisnya dimana?", dan Aisha dengan semangatnya mengacungkan tempat dimana dia tadi pipis, sambil berkata "niiih..niih". Itu kalau beruntung, karena beberapa kali Aisha mengacungkan ke arah celananya sendiri ketika kutanya tadi pipis dimana. *yaiyalah pipisnya di celanaaaaa, tapi dimanaaaa celananya tadi dipipisiiiin?? :)))

Taman Suropati

5. Aisha is me..
Mulai bulan ke 17 ini pula, Aisha seperti sudah mengenali dirinya sendiri *jieeeh. Memang bulan-bulan sebelumnya juga sudah mulai kenal, bahkan bisa menyebut namanya sendiri ketika ditanya, tapi bulan ke 17 ini merupakan "milestone". Dia sudah 100% benar ketika ditanya "Aisha mana?" ("niiih.." sambil nepuk2 dada), juga beberapa kali meneriakkan namanya sendiri "Aytaaa...aytaaa..." ketika kami tengah sibuk melakukan aktifitas sendiri. Entah apa maksudnya, tapi kami mengartikan sebagai: "count me in...ikutkan aisha dalam aktifitas kaliaan.." hehe. Trus kemarin Aisha kami belikan boneka gajah, karena nemu yang lembut, mirip, dan murah. Sesuai tebakan, Aisha seneng banget (langsung teriak "gajah!" dan dinaikin!!---pdhl gak besar). Dan beberapa saat setelah itu, kami bertanya: "Ini gajahnya siapa?", dengan cepat dia jawab: "Ayta...". Haha giliran begini aja cepet :)))


Aisha's territory
OK, sepertinya itu dulu. Saya baru menyadari bahwa memiliki anak itu lucu, literally: LUCU, karena bikin ketawa, atau at least senyum2 sendiri haha. Ketika di bawah satu tahun dulu kan ya "lucu" tapi dalam artian "menggemaskan", kayak boneka gitu, lembut, halus, dan empuk!:)). Nah usia belasan bulan ini mungkin usia puncak kelucuan itu. Kenapa saya berkata begitu? Karena kakak ipar saya, anaknya umur 2,5 tahun sempat berkata: "Wah dek, anakku udah besar, udah gak lucu lagi..aku punya anak lagi aja apa ya..." *gubrakkkk

*langsung sign out

Ragunan Zoo



Tuesday, October 8, 2013

Dokter Anak Paling Keren Sedunia

*OK, judulnya lebay hehe..

Alkisah Aisha minggu lalu sakit. Awalnya hanya batuk sesekali, kemudian disusul batuk pake muntah, bersamaan dengan keluarnya lendir batuk. Mungkin lendirnya bikin gatel jadi reflek untuk dikeluarin, alhasil muntah deh. Dan ini terjadi beberapa kali dalam sehari, sehingga nyaris semua makanan yang dimakan Aisha, keluar semua seharian itu. Aisha jadi langsung tambah kuruus. Hal ini membuat saya izin dari kantor selama 3 hari dari Rabu-Jumat. Alhamdulillah dibolehkan oleh (para) atasan, dan didoakan semoga lekas sembuh. Kalau difikir2, ini adalah pertama kalinya saya izin kantor karena anak sakit, setelah 1,5 tahun usia aisha. Alhamdulillah, Aisha sangat jarang sakit.

Sejak hari pertama sakit, suami saya sudah sangat khawatir.  Selama ini saya lebih "kalem" dalam hal menyikapi sakit anak, dan tidak pernah punya pikiran untuk segera berobat ke dokter. Di hari ke 2, suami saya mulai mengajukan opsi untuk ke dokter. Sebenarnya kami memiliki prinsip yang sama terkait "Rational Used of Medicine/RUM", cuma suami saya jauh lebih gampang khawatir dan nggak sabaran untuk buru2 minum obat asal bisa CEPAT sembuh. Maka, supaya keinginan suami saya untuk membawa Aisha ke dokter bisa "kusetujui", dia mencari-cari dokter yang terkenal dengan RUM nya. Selama ini di Depok kita belum pernah nemu dokter yang cocok dengan prinsip kami, sudah ganti dokter sekian kali untuk imunisasi, malah  semakin membuat kita "hopeless" untuk nemu yang cocok di Depok.

Akhirnya suami saya nemu juga dokter yang recomended di "Markas Sehat" di daerah Ragunan. Dari penjelasan suami, saya langsung yakin ini pasti recomended, apalagi jaraknya masih terjangkau juga dari rumah. Sebenarnya ada opsi lain yaitu di Kemang Medical Center, tapi  katanya untuk periksa ke sana perlu waktu booking seminggu sebelumnya... whaat??ampun deh, bisa2 udah sembuh anakku (lah ya bagus dong??hehe).

Singkat cerita, di hari ketiga Aisha sakit, sampai juga lah saya di Markas Sehat, dan dapat seorang dokter anak senior (50 tahunan lebih) namanya Dokter Wati. daaaaannn...pembicaraan/konsultasi saya dengan dokter itu membuatku jumpalitan gedubrakan, entah mau seneng atau sedih, yang jelas kaget bin terheran-heran.....

Pertama-tama, dokter menanyakan anaknya sakit apa? hari pertama muntah berapa kali? hari kedua berapa kali? hari ketiga (hari itu) berapa kali? BAB per hari selama sakit berapa kali? encer atau tidak? Saya jawab hari pertama muntah 5 kali tapi semua makanan keluar semua, hari kedua 4 kali mungkin (lupa), hari ketiga baru sekali dan makanan udah ga keluar, cuma lendir aja dikiit. BAB juga sekitar 3 kali sehari (biasnaya sehari sekali), bahkan di hari ke 3 belum BAB. Dan ternyata jawaban saya itu membuat saya "diceramahi" (baca: diomelin) habis-habisan:

Dokter: "Ah ibuuu...kalau cuma begini ngapain harus ke dokter?! Ibu baca-baca dong.. itu sakitnya sudah mau sembuh, dan masih wajar. Tuh anaknya aja masih bisa nangis kenceng" 

(saya melongo--ini dokter nggak butuh duit apa yak)
Dokter lagi: " Ibu harus banyak baca-baca, ikut milis sehat, buka web nya milis sehat, penyakit anak ibu ada semua di sana jadi ga perlu dibawa kesini yang seperti ini. Ibu-ibu jaman sekarang maunya cari dokter yang RUM, tapi dikit-dikit ke dokter, nggak mau belajar sendiri, nanti kalau dokternya korupsi gimana kayak ketua MK? kita juga manusia lo bu...."

Saya takjub dan mengingat-ingat semalem mimpi apa. Gak tau mau bilang apa, tapi saya sempatkan untuk tertawa nyengir, dan nyelertuk: "iya dok, habisnya saya khawatir soalnya semua makanan keluar semua, dan sekarang anaknya cuma mau makan dikit2...itu beratnya juga langsung turun dok..."

Sambil meriksa mata,  lubang telinga dan mulut aisha pake senter khusus, bu dokter menjawab:
"Ya wajar dong Bu, namanya anak sakit ga doyan makan, kalau ibu sakit aja juga ga mau makan kan?" 

Saya masih bersikukuh untuk bertanya mengapa berat badan anak saya kecil? apakah perlu suplemen makanan? apakah perlu tambahan zat besi karena katanya kekurangan zat besi bisa bikin kurus. dan ini berakhir dengan kuliah "sesi kedua" yang dijelaskan lagi bahwa anak kurus bisa beragam, dan ADB (Anemia Defisiensi Besi) itu hanya salah satunya, tapi untuk mengatakan itu harus via tes lab skrining zat besi... Jangan asal kasih tambahan multivitamin, daan lagi2 dibilang itu semua ada di milissehat itu.  Lalu Bu dokter menuliskan pesan di selembar kertas yang kemudian diberikan pada saya untuk dibawa pulang, bertuliskan:
1. Pasca infeksi virus GE (Gastro Enteritis)- Ringan
2. Lain kali jangan lupa minum oralit!
3. Ibu please join milis sehat@yahoogorups.com---belajar di www.milissehat.web.id
5. Skrining ADB

Dokter itu juga memberikan sebuah brosur tentang serangkaian "kuliah" yang diadakan komunitas sinergi dokter dan pasien di sini.

Di akhir sesi, dokter menanyakan tentang bagaimana imunisasi anak saya. Saya bilang terkahir imunisasi pas imunisasi campak, pernah terkena cacar air (jadi ga perlu imunisasi cacar), dan saya belum ambil MMR. saya masih bingung mau ambil MMR atau tidak karena katanya bukan imunisasi wajib, dan katanya ada efek samping terkait autis. Daaan lagi2, saya diceramahin untuk tidak membesarkan anak berdasar katanya2, suruh buka web milis sehat, ikut diskusi, ada semua ttg MMR. dan dijelaskan pula kalau MMR berbahaya, semua vaksin pasti sudah ditarik bu.

Hufffttt...............campur aduk perasaan saya saat itu, antara seneng banget ketemu dokter yang kucari selama ini, dan juga menyalahkan diri sendiri karena selama ini memang kurang mendedikasikan waktu untuk "belajar" tentang ini, juga menyalahkan suami karena membuatku diomelin dokter sendirian-----suami kerja, saya bolos. hahaaa.

Benar saja, saya tidak mendapat obat apapun untuk sakit anak saya (dan alhamdulillah di hari ketiga itu juga anak saya sembuh). Hanya diberikan rujukan ke lab untuk menjalani skrining ADB.

Dan sebelum pulang, saya dapat jackpotnya:

Dokter: "Ibu bekerja kan?"
Saya: "Iya dok..."
Dokter: "Dimana?"
Saya: "Bappenas dok"
Dokter: "Aduuuuhh Ibu...itu malah kerja di Bappenas kan harusnya terbuka untuk jadi pasien cerdas, baca-baca dan belajar buk!!"
(tertunduk malu)

PS: Sesampai di luar ruang praktik, saya baru sadar dan bertanya-tanya apakah dokter sebenarnya tau apa itu Bappenas. hahhahaha.

Thursday, September 19, 2013

Daftar PNS Nggak Ya?

"Time Flies...Orientasi CPNS Bappenas Tahun 2009"
Berhubung sekarang sedang "diobral" pendaftaran CPNS di hampir seluruh kementerian, saya akan turut meramaikan topik ini, termasuk juga untuk menjawab beberapa teman ke saya tentang:...sebaiknya daftar ga ya? jadi PNS ngapain aja ya? gajinya berapa ya? Kerjaannya ngapain aja yaMungkin ini bisa jadi seri ke 2 dari tulisan tentang tes CPNS saya sebelumnya di sini.Oh ya, untuk membatasai pembahasan, tulisan ini membahas untuk tes CPNS bagi lulusan S1 ya..yang nantinya akan menjadi PNS golongan IIIA.

Tulisan ini akan saya mulai dengan menceritakan mengapa saya mendaftar jadi CPNS dulu.

Motivasi
Hingga  saat ini sebenarnya saya juga nggak tau kenapa saya ingin jadi PNS (hahaha). Pertama kali daftar dulu, saya cuma ingin bekerja setelah lulus kuliah, dan kebetulan saat itu sedang ramai bukaan CPNS seperti sekarang ini. Saya yang sebenarnya saat itu pengin jadi Dosen, dan sudah mulai membantu beberapa dosen dalam menyiapkan kelasnya, tergoda juga untuk daftar PNS seperti teman2 seangkatan saya. Waktu itu saya mendaftar di beberapa Kementerian yang membutuhkan jurusan HI, dan syukur alhamdulillah saya justru diterima di Kementerian yang paling keren dan prestisius sedunia (ga boleh protes sama pengakuan sepihak penulis! hehe). Tapi saran saya bagi teman2 yang mau daftar, pastikan dulu motivasi teman2 apa (jangan kayak saya hehe) dan "tembaklah" kementerian yang menurut teman2 keren saja, bukan random seperti saya dulu. Beruntung sekali saya diterimanya di Bappenas, nggak membayangkan kalau ternyata saya diterima di suatu Kementerian yang ternyata "salah jurusan" bagi saya. Karena once kita keterima PNS di suatu kementerian, berarti seumur hidup akan kita habiskan di sana. Walaupun tentu saja, pilihan untuk keluar dari PNS atau pindah kementerian pasti bisa. Nah, belakangan saya tau bahwa motivasi saya menjadi PNS adalah untuk "bekerja" yaaa nggak salah2 amat, karena justru bermodal motivasi bekerja itu, saya mencintai pekerjaan saya, yang besar atau kecil, pasti berkontribusi bagi pembangunan Indonesia, setidaknya di sebagian pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi  yang merupakan lingkup kerja saya (insya Allah).

Kementerian Apa?
Kementerian terbaik adalah Kementerian yang sesuai dengan minat (orang bule mengatakan passion) kita, dan memiliki budaya kerja yang efektif. Kalau untuk minat, saya nggak akan bahas di sini karena hanya kita sendiri yang bisa menentukan, dan memerlukan penelusuran mendalam apakah tupoksi kementerian tersebut sesuai dengan minat dan kemampuan kita. Tapi hal lain yang paling penting adalah: menilai budaya kerja di suatu kementerian tersebut, misalnya dengan mengajukan pertanyaan2 ini untuk kita jawab sendiri melalui riset kecil:
-Apakah kementerian tersebut memiliki banyak pekerjaan? (ugly truth, semakin banyak pekerjaan, semakin efektif kita bekerja--semakin sedikit pekerjaan, semakin besar potensi malas2an)
-Bagaimana potensi pengembangan kapasitas staf nya? (misalnya pelatihan2 dll--ini hampir semua kementerian sudah lumayan bagus sih kayaknya; termasuk  juga potensi sekolah lanjutan--S2 dan S3 mungkin--bisa dilihat dari komposisi pendidikan stafnya)
-Apakah kementerian tersebut memiliki jenjang karir yang jelas dan fair?
-Apakah hierarki atasan dan bawahan sangat absolut? (misalnya..kalau dulu ada bercandaan: staf CPNS jangan2 disuruh buatin kopi atau bawain tas si bos--hehe)
-Apakah kementerian tersebut sudah "bersih" dalam mengelola perjalanan dinas? hehe spesifik ya, tapi yah..ini bisa jadi salah satu tolak ukur seberapa "civilized" nya kementerian tersebut.
-hingga pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah di Kementerian tersebut banyak yang membolos? apakah banyak yang lembur? apakah banyak yang muda dan ganteng dan kaya? *mulai nglantur...

Kerjaannya Gimana?
Ketika awal-awal diterima jadi CPNS dulu, selama tahun-tahun pertama isinya cuma training..training...dan training.... Menurutku sih masa paling asik hehe..apalagi saya habis lulus kuliah jadi belum siap2 banget untuk bekerja. Training itu merupakan training wajib, mulai dari team building di Puncak, orientasi kantor selama seminggu, trus diklat perencana selama---1,5 bulan (kyknya), trus Diklat Prajabatan selama seminggu...dan ditutup dengan diklat perencana pertama (lanjutan) selama 2,5 bulan di Bandung. Baik banget kan pemerintah dalam mempersiapkan abdi negara nya? :) Teorinya, dengan berbekal training tersebut, kita lebih siap secara substansi untuk bekerja di kementerian kita (untuk diklat2 perencana itu), dan memiliki semangat kebersamaan dengan sesama PNS di kementerian lain (Diklat Prajabatan). Dan so far, dari training2 tersebut, saya optimis bahwa anak-anak muda yang menjadi PNS di berbagai kementerian tersebut siap membuat perubahan (insya Allah). Di sela-sela training itu, kita juga sudah mulai bekerja di kantor. Intinya, kalau kita bekerja di Kementerian, itu kan membuat policy/kebijakan dalam berbagai sekala: nasional, skala program/proyek, atau skala kantor (misal yang bekerja di bagian biro SDM atau biro umum), dalam berbagai jangka waktu: 5 tahun, 1 tahun, atau periode tertentu (misalnya proyek). Nah, untuk mencapai tujuan itu, banyak jenis pekerjaan yang kita kerjakan: dari menyiapkan substansi pemaparan/presentasi (menyusun latar belakang, sasaran, dan kebijakan itu sendiri), bertanya/berkonsultasi dengan pihak lain, sampai  mengunjungi lapangan, menulis notulen, laporan, menyelenggarakan rapat,mengirim undangan, dan fotokopi! Kadang ada masanya pekerjaan sedang banyak, ada masa pula pekerjaan sudah selesai.

Tekanan Kerjanya Gimana?
Menurutku, salah satu hal utama yang merupakan enaknya jadi PNS adalah tekanan kerja yang cukup kecil, sehingga kita bisa tampil all out. Tekanan kerja di sini dalam artian untuk dipecat jadi PNS ya. Kalaupun pekerjaan kita super banyak sampai lembur-lembur, bos galak dan perfeksionis, tapi itu masih lebih baik dibandingkan kalau kita juga punya kemungkinan dipecat atau diberhentikan dengan seenaknya. Saya membayangkan mungkin di swasta begitu ya: harus perform, kalau tidak dipecat. Walaupun saya sepakat kalau kita harus perform dimanapun kita berada. Justru karena hampir tidak ada ketakutan dipecat itu, kita harus all out...harus total...harus menyelesaikan pekerjaan sejauuuh kemampuan kita dengan bebas. Nikmatilah masa-masa sibuk dan lembur karena kita menjadi sangat produktif dan menikmati wiken, dan syukurilah masa-masa nganggur dengan meminjam buku-buku bagus di perpustakaan (ada juga lo perpusnya!). Karena bagaimanapun, masa lembur dan masa nganggur kita dibayar dengan menggunakan tax payer's money.

Gajinya Gimana?
Walaupun bukan yang utama, tapi gaji penting juga untuk dibahas, apalagi untuk teman2 pria, yang nantinya akan menjadi tulang punggung keluarga. Gaji PNS sebenarnya standar, semua golongan III A itu sama semua (kayaknya sih ya?). Yang membedakan kan sekarang ada istilah "remunerasi", tunjangan selain gaji. Konon remunerasi ini juga beda2 tiap Kementerian. Selain itu, ada pula honor terkait kegiatan tambahan yang kita kerjakan, misalnya kegiatan Kajian dan pembuatan Policy Paper. Kenapa tambahan? karena itu bukan tupoksi utama dari pekerjaan kita. Konon katanya, semua honor tambahan tersebut akan dihilangkan, dan dialihkan menjadi "gaji tunggal/all-in" yang lebih besar. Katanya sistem ini mulai tahun depan, tapi nggak tahu juga, namanya juga konon. Jadi PNS akan digaji dengan sistem pekerja swasta, yang gajinya besar tapi sudah, tidak ada tambahan apapun lagi selama sebulan itu. Menurutku sistem ini bagus banget sih, soalnya  kita sebagai PNS juga "bangga" karena bisa dengan bebas menyebut gaji kita berapa (ngga kayak sekarang yang selalu "dicurigai" mendapat saweran banyak sekali), juga untuk menghitung kepastian jumlah pendapatan kita sebulan, hal ini sangat berguna khususnya yang mau ambil kredit2 KPR atau barang lainnya... *curcol deh*. Kalau dibandingkan dengan gaji swasta gimana? Yaa....berhubung saya nggak tahu gaji swasta seperti nggak tahunya teman-teman tentang gaji saya, jadi yaa saya nggak tau juga gimana perbandingannya hahaha (piye sih!). Tapi satu hal yang pasti, kalau kata suami saya: saling memberitahu nominal gaji itu masih enak saat kita pertama kali bekerja, tapi kalau sudah beberapa tahun bekerja, itu sudah tergantung "mekanisme pasar" dan keberuntungan kita, apalagi buat yang bekerja di swasta dan sering dibajak perusahaan lain, hehe... iya kan? Tapi insya Allah, gaji PNS di jakarta cukup untuk hidup dengan layak dan berkeluarga di Jakarta, no worries.

Ndaftarnya Gimana?
Tahun ini, hampir semua Kementerian membuka lowongan CPNS. Untuk informasi lengkapnya bisa dilihat di www.menpan.go.id, dan tentu saja di website masing-masing kementerian yang diminati. Khusus untuk tempat saya bekerja., setelah tahun lalu moratorium, tahun ini Bappenas membuka kembali lowongan CPNS memperebutkan 47 posisi (kalau nggak salah itung saya), dengan deadline 22 September 2013, lebih lanjut bisa lihat di sini. Dulu saat awal-awal saya kerja di Jakarta, saya ingat waktu itu naik taksi dari depan kantor Bappenas. Supir taksi tanya ke saya apakah saya PNS di Bappenas, saya jawab iya. Selanjutnya, dia berkata: "Bayar berapa dulu mbak?",  saat itu saya merasa marah setengah mati, saya terdiam beberapa saat, berusaha tahan nafas dan bertanya: "Maksudnya apa ya Pak?", dan justru dia melanjutkan "Atau punya Saudara di sana? kan biasanya gitu...".  Saya ingin menjelaskan panjang lebar kepada bapak itu, bagaimana saya 5 kali pulang pergi dari Jogja ke Jakarta naik kereta untuk mengikuti setiap rangkaian tes di Bappenas, bagaimana saya harus mencari tumpangan di Jakarta untuk tes2 tersebut, bagaimana saya menghafal kosakata dalam buku-buku TPA yang super tebal itu, atau bagaimana saya berdoa setiap malam memohon hasil yang terbaik dari Allah, dan bagaimana saya setiap detik merefresh website Bappenas ketika hari H pengumuman hasil tes CPNS tersebut. Tapi yang keluar dari mulut saya hanya: "Tidak bayar, Pak. Saya juga tidak punya saudara di Jakarta. Bapak kalau mau daftar juga bisa, kalau berkualitas juga pasti diterima."  

"Siapa bisa, dia bisa...."

Akhir kata, dari lubuk hati yang paling dalam, saya mengajak teman-teman yang benar-benar ingin berkontribusi bagi Indonesia untuk mendaftar menjadi CPNS tahun ini. Kita semua ingin kan melihat  Indonesia bisa sukses membangun infrastuktur ini itu dari ujung Sabang sampai Merauke, ingin melihat masyarakat miskin berhasil mendapatkan kehidupan yang layak, ingin melihat setiap anak-anak mendapatkan pendidikan yang berkualitas, dan ingin melihat Indonesia menjadi negara maju... Mengapa tidak menjadi bagian dari perubahan itu? Jangan tunggu kami (pemerintah) mewujudkannya, tapi bantulah kami mewujudkannya...bergabunglah bersama kami!

*iklan layanan masyarakat ini tidak dipersembahkan oleh Kementerian manapun, hahahha



Thursday, September 5, 2013

Aisha's Development: 15 Months

Aisha enjoys morning walks in our neighborhoods
I am writing this post merely for reminder and measure on how my baby's development this far. Oh well, actually I have an obsession to have development update EACH month, to take picture of my baby EACH day....but what can I say? I'm just too lazy, my brain forgets, my camera uncharged, and my excuse is the biggest of all hehehe. But above all, I still manage to regularly read  Babycenter on my baby's development since the site send me email once a week to review the baby's development in each week. This website helps me alot to understand my baby behaviour and what to expect from her. So, this is my review on Aisha's Development up to, and especially in, her 15 months age.

Speech Development
Aisha in her 15 months can be considered as "full human being". She start to fully "understand the world" since last month, in her 15 months, when we went home for Mudik, meeting our friends and family in Malang and Jogjakarta. She, who already mumbling since her 8 months, suddenly became TALKING deliberatly like: "apa tu?", "Kunces" (kucing), "Tedes" (pedes), "ya", "dak" (nggak), "gadah" (gajah),  "nda ada" (nggak ada), "aduh", "aammaan" (amiin), and "mbah".. this words are beside some basic words she already mastered before, like: mama, papa, mam..mam (nenen), apa, and dadah..
She insist to wear adult T-Shirt, gift to my husband from his friend
When she wears something (glasses, hat, headbands), she will be very happy when we show her that she is beautiful (bring her to the mirror, show her the photo result)

Understanding Commands
But most of all, the most amazing development in her 15-16 months old is her complete response for our order. We can ask her to take her own shoes from the "lemari sepatu"  simply by saying: "Aisha mau ikut mama? kalau ikut, ambil sepatu sendiri", and she cheerly come to the Lemari, open the Pintu lemari, and correctly chose her own shoes which located side by side to our shoes. Actually the first time this thing happened was heroic, I myself almost cry hehehe....Because at the first time I didn't expect she would understand or even do my order. So after that, my world is changing into beautiful world a mother could wish: I can ask her to close the door, ask her to take her own drinking bottle, ask  her to take a bath (then she will try to open her clother--never success), ask her to go to sleep (then she will be heading to our bedroom), ask her to deliver things to my husband (from important thing like a handphone, to silly thing like a pillow--just to test her, hehehe), and any other command which she will do them happily. I am now thinking what other new commands I can give her next time hahhaha.
"Nginjen..."

She doesn't want Papa leave...

Replicating Behaviour
This symptoms become very obvious in this 15 month as well. Aisha who previously only "watch" whatever we adults do, now starts to replicate this in her own way. She who usually doesn't like to wear hat or her jilab, suddenly wants to wear some Mukena/Rukuh when seeing me praying, and then she will do "sujud" when I do the same during Sholat. She also like to say "aduuuuh", after we coincidentally said that. Also she like to TAKE OVER whatever we do: gardening, opening refrigerator, sorting vegetables, reading newspaper, handling remote control, sitting in the couch,,all...
She ask to take over the watering from me

Do like a master...

And very happy!


Wants to join us in the dining table

Telling Informations
This is one of the most interesting part of her development this months. She likes to tell us informations, as if she is the only one who knows!! hahaha. So when we arrive at home from the office (usually at 5.30pm ), she starts to speak (or so) very fast, excited, while pointing whatever object she try to tell us. She sometimes point out the sky while saying "cepatamatupata,..."---we never understand, or points her toys and says the same: "cepatamatupata...tapata..."(and continue), and she is very happy when we respond her "story" with our excited face, as if we were understand haha. But if nothing feels intersted for her that day (maybe), Aisha will point out herself and say "mama...mama...tu papa..papa..", I dont know what she means but it seems that she try to tell us that she is mama, or she is papa, or she is "ayta..", sometimes she correctly said her name as "Ayta", but most of the time she also get confused whether her name "mama" or "papa".. haha baby!
Daily ritual: take whatever in my bag
One..two..three.. and she actions like this...
Praying with mama....
On Playing with Other Babies
Just as normal development stage, Aisha in this 15 months age just can not play WITH other babies, she can play TOGETHER with other babies, but in her each own way, and own toys. Actually she seems to be interested with other children, but she still shy in expressing herself infront of other baby/new people. Maybe this is because she kind of never meet people, as she always with the babysitter when me and my husband working. So what can we do as parents is just to bring him wherever we go to meet our friends during weekend, or push some interactions  with our guest at home. We believe that her courage will grow when she starts to attend playgroups, but we are thinking to send her for playgroup at least after her 2 years age. However, we are very happy that, although we never teach to do so, Aisha is able to share toys with other friends. This happens most of the time when we come to playground in a mall, or even with her toys at home when baby guest visiting. Also, since she stay at home all the time during the weekdays, she seems very enjoy when visiting somewhere during weekend. She will directly (walking by herself) explore the bookstores, the supermarket, zoo, lake and gardens near the house.

First time biking in two wheels bike, looks nervous (and sleepy??)

Enjoys playing with Nayla, our guest...
In Gramedia
Physical Development
Aisha starts to walk in her end of 14 months. And I think walking is the biggest milestone for baby: once she starts to walk, she starts to understand most of everything. I don't know whether there is correlations on this, but this happen to Aisha. In her 15 months today, Aisha has 6 teeth, realtively few comparing to other baby in her age. Also, her hairs are still few and not thick enough, but we have no worry for this as me and my husband happened to have little hairwhen we were baby. Aisha's weight is 10 kilograms, can not be considered fat at all, and even a little skinny. But we have no worries too since Aisha remains active and seems healthy. 

Todler..
Enjoys walking here and there in the store
Well I think that's all for now. And most importantly, in her 15 Months old up to now, Aisha still enjoys  breastmilk from her mother! What a compliment from myself, haha... 9 months to go for breastfeeding her, and I am not really looking forward to that. Breastfeeding is so precious moments.

To sum up, this quotes indeed reflect how do we feel:

indeed...

Monday, June 3, 2013

A Late Anniversary Note

Jadi mulai hari ini, saya berjanji untuk selalu menulis catatan bagi anniversary pernikahan kami, walaupun catatan untuk anniversary pertama saya kecepetan dan berjudul "Almost Anniversary", anniversary tahun ini note nya datang super telat. Gakapapa, yang penting tetap semangat dan sesuai target #okesip

Di usia pernikahan kedua kami, saya baru benar-benar menyadari bahwa saya sudah menikah and my life will never be the same again *muka serius, *benerin posisi duduk.

Alhamdulillah, menginjak tahun kedua tersebut, kami bisa menempati rumah baru kami, yang kecil, yang jauh, yang ndeso, dan yang milik kami sendiri :) Dengan perjuangan sepanjang tahun untuk menghemat uang jajan, menyeleksi film yang ditonton di bioskop kala wiken, mencoreti restoran2 mahal, daan..tutup mata dari gadget baru (khususnya suami, kalau saya mah kagak mudeng begituan). Suami memasrahkan sepenuhnya tabungan di tanganku, untuk kukelola, dan untuk diam-diam kutambahi. Walaupun sesekali berkurang juga karena tergoda tiket 0 rupiah dari Air Asia untuk menengok memori di Singapura, atau sekedar pulang kampung ke Malang dan Jogja (eh berima!), alhamdulillah..bulan Februari 2012, saya beranikan diri mengajukan proposal pembelian rumah ke suami. Dan alam seperti mengamini, hanya perlu waktu 3 minggu bagi kami untuk menemukan rumah yang pas di hati (well, prakteknya, kami sudah beberapa kali cuci mata lihat2 rumah sejak sebelum menikah, tapi uang tidak bisa diajak kompromi, haha). Dengan tinggal jauh dari orang tua kami berdua, rumah (benar-benar rumah secara fisik), memiliki arti yang sangat mendalam bagi kami, baik itu dari sisi identitas, ataupun sekuritas (perasaan aman dan nyaman).  Alhamdulillah, tepat saat kelahiran Aisha, KPR kami disetujui, dan sesaat setelah itu, batu pertama diletakkan.

Dengan kepindahan kami di rumah tersebut, dimulai pulai cerita perjalanan kami berangkat ke kantor. Beruntung kami bisa selalu berangkat ke kantor bersama, terimakasih kepada PT. KAI yang telah mensponsori romantisme perjalanan kami ke kantor, dari sama-sama mengejar kereta untuk bisa tiba di kantor tepat waktu, sama-sama baca buku di tengah sesaknya gerbong, sama-sama terjebak lebih dari satu jam di Stasiun Pasar Minggu gara-gara gangguan sinyal, sampai tidak sengaja saling bertemu di gerbong yang sama ketika pulang kantor. Meskipun kereta adalah hal yang selalu dan setiap hari kita jumpai, namun tak habis-habisnya kita membahas masalah kereta ini, dari kritik, makian, pujian,saran, dan entah berapa kali Ignathius Jonan dan Dahlan Iskan kami bawa-bawa dalam diskusi, bahkan Jokowi pun bisa ikut terseret kalau lagi hoki. Pokoknya diskusi kami bisa lama, bisa seru, seolah-olah penting, seolah-olah serius, padahal kita hanya sepasang suami istri yang sudah langsung lupa dengan urusan kereta kalau sudah ketemu Aisha.

Di tahun kedua pernikahan ini pula, saya  berkaca-kaca ketika mendapati suami membawakan oleh-oleh dari tugas di luar kota. Di tempat kerja yang barunya kini, suami saya jadi cukup sering bertugas ke luar kota, dan dari setiap tempat itu, tak lupa kami (saya dan Aisha), selalu dibawakannya oleh-oleh yang SANGAT spesifik, yang nggak kebayang bagaimana dia memilihkannya. Spesifik itu misalnya: dress dan rok nya Aisha (walaupun menurutku sih kemahalan gara2 suami gak tau biasanya harga baju bayi berapa), baju kerja ku (yang sangat muslimah hampir sedengkul! haha), gelang kalung dari batu-batu Martapura (yang harus berulang kali tanya ke ibu2 untuk milih model yang katanya bagus seperti apa), dan juga sendal mainku gara-gara tau aku kalau jalan2 pasti pakai sepatu :) Meskipun saya juga cukup sering ke luar kota, tapi mendapati oleh-oleh dari suami dari luar kota itu rasanya seperti papa pulang membawa cinta, hahahaha (lebay).

Hal lain yang akan slalu teringat di tahun kedua pernikahan kami adalah perjuangan kami dalam memberikan ASI untuk Aisha. Walaupun suami saya tidak menyusui (ok, ga perlu kutulis kenapa kan?), tapi gelar pejuang ASI pantas kusematkan di dada suamiku, walaupun tidak ada Air Susu di sana (ok jayus). Keputusan kuatku untuk memberikan ASI awalnya justru datang dari suamiku yang *dengan sotoynya* mengkuliahiku tentang asi yang didapatnya dari kultwit @IDAyahASI, juga membelikanku pompa asi Medela di ITC Ambasador (dan meminta pelayan toko untuk mempraktekkan cara pakainya!) saat aku sedang melahirkan di rumah sakit. Juga dengan kesediaannya menjaga Aisha (dan memberikan botol Asi), saat kutinggal dinas bermalam di luar kota. Dan menyarankanku tas cooler Asi yang bagus apa, membandingkan berbagai merk blue ice, juga mengantarkanku ke toko Asibayi untuk membelikan peralatan ini itu, yang seringnya aku kelupaan satu dan lain hal, dan harus diantar balik lagi (kalo udah gini sambil cemberut sih nganternya haha). But my point is, I might not be that excellent if I were MAN. At this point, I learn that there is another form of saying I love you in marriage.

Okay, this can get veeery long... Saya akan mengakhiri catatan ini dengan memanjatkan doa untuk suami saya, semoga Allah selalu menjaga  kesetiaan hatinya, ketajaman fikirnya, keramahan hatinya,kebaikan sikapnya, kelapangan jiwanya, kekuatan fisiknya, dan yang paling penting: keteguhan imannya.

Happy belated anniversary my dear husband, 
Thanks for making me falling in love many times, always with the same person.....
When he drives us directly from the office to Aisha's doctor for  immunization.

Sunday, May 19, 2013

Another Transit in Singapore

So this is my 3rd time transit in Changi Airport, the previous two were transit to Vienna and Ho Chi Minh.  For me, Singapore is not just a neighbouring country. Arriving in Singapore remains me of a fully spirited student life, although very limitted in scholarships, but happiness in meeting new international friends is very limitted. And most of those good friendships remain up to now. I enjoy reading Strait Times, which always share optimisim, yet kind of boring comparing to Indonesian newspaper haha. But this remains me on my killing time night, reading Strait Times in the common hall for free, and end up with playing some cards with Indian friends. While writing

So, this is me again, waiting my flight to Moscow that later will bring me to Dushanbe. Another inovation offered by changei is that they give us USD 40 voucher to shop in changi airpor because we use Singapore airlines. How magnificent is that! And i directly run to Times Bookstore, picks 2 music books for my sweetheart that i left at home for a week, Aisha.

Okay, this is 2.30am, my flight is ready to depart, hope i can write again in Domdodedovo Airport, Moscow.

Monday, March 18, 2013

Investasi Akhirat

Siang ini ada ceramah 7 menit selepas sholat dhuhur di musholla kantor. Pembahasannya tentang "anak sebagai investasi akhirat". Dikisahkan bahwa si Bapak penceramah ini, Dr.Agus, memiliki seorang teman yang suka sekali menikmati waktu makan siang dengan jajan makanan yang enak di sekitar lokasi kantor. Terus saja itu dilakukan, sampai anaknya memulai hidup di pesantren. Sesaat setelah itu, ketika diajak makan, jawaban temannya itu adalah : "wah saya tidak bisa lagi enak makan-makan begitu kalau ingat anak saya di pesantren makan apa".

Begitulah perumpamaan kehidupann di surga, jika tanpa disertai sanak keluarga. Segalanya indah, tapi ada yang kurang.

Beberapa hal yang bisa kita upayakan untuk menjadikan anak sebagai investasi yang bernilai di akhirat adalah:
1. Jagalah setiap harta yang kita belanjakan, khususnya yang ditujukan ke anak kita (maksudnya pastikan bersih dan halal).Ada cerita tentang seorang suami yang istrinya sedang sakit dan harus menggendong2 anaknya yg menangis karena  minta ASI. ada tetangga yang mencoba menawarkan asi nya, tp ditolak dengan halus. ternyata karena alasan dia tidak tau apa dan dari mana tetangga itu mendapatkan makanannya (yg berpengaruh kepada asi). kelak, bayi itu menjadi satu-satunya (?) orang yang menjadi imam di masijidil Aqsa dan Masjid Nabawi, namanya...lupa :p

2. Menjaga ucapan kita sebagai orangtua. Ada cerita tentang seorang ibu yang tengah selesai masak karena akan menyambut tamu-tamu di rumahnya. tiba-tiba anaknya yg maih kecil masuk rumah dari bermain di luar, dan menaburkan tanah ke atas masakan-masakannya. Ibu itu sangat kesal, tapi yang keluar dari mulutnya adalah "keluar sana dan jadilah imam masijidil harom!". Dan jadilah dia.

3. Sebaik2 pengajaran adalah teladan. Maka bersikaplah yang layak dicontoh oleh anak, setiap saat, sepanjang waktu (ini ada contoh ceritanya juga tapi lupa :p)

Sepulang dari musholla itu siang ini..ada satu hal yang menari-nari dengan gelisah di pikiran saya:  Jika saya saja masih bertanya-tanya apa iya saya pantas masuk surga, bagaimana saya bisa membawa anak saya?
Indahnya kehijauan kebun teh di Bandung, apalagi indahnya surga, apalagi bisa bawa anaknya .

Wednesday, January 2, 2013

Resolusi 2013

gambar diambil random dari google
Meskipun saya tidak sepenuhnya menganut aliran tahun baru Masehi, tapi emang udah telat untuk membuat resolusi tahun baru Hijriah, hehe. Alhasil, berkaca pada evaluasi tahun 2012 dimana saya merasa banyak tambal sulam di sana sini akibat dijalani tanpa target, inilah resolusi saya tahun ini:

1. Sholat di awal waktu
Sebenarnya malu nulis ini sebagai resolusi, karena  sholat merupakan syarat pertama setelah syahadat bagi siapapun yang menyatakan diri sebagai orang Islam.jadi seharusnya semua orang Islam sudah mahir dalam menjalankan sholat. Tapi ya nyatanya sepanjang tahun 2012 kemarin sholat saya jujul-jujulan: sholat dhuhur kejujul ashar, sholat maghrib kejujul isyak. Beruntunglah kamu yang tidak tahu arti kata jujul dan kejujul, karena saya ga akan ngasihtau haha. Okelah, meskipun malu2, semoga belum terlambat bagi saya (dan kita semua), untuk memperbaiki keislaman ini dan tidak lagi tersindir ketika mendengar "Maka celakalah orang-orang yang shalat....", karena lanjutan dari ayat itu adalah "....yaitu orang-orang yang (tetap shalat, tetapi) lalai dalam sholatnya"

2. Disiplin membayar zakat 2,5% dari penghasilan saya dan suami
Resolusi saya dalam hal ibadah rasanya masih pada tataran wajib. Saya tau ini sederhana dan mudah, tapi bagi saya ini butuh tekad yang kuat dan gak mudah goyah #berima.

3. Mengumpulkan KUM total minimal 167 poin pada batch pertama tahun ini
Ini adalah resolusiku untuk urusan kerjaan di kantor. Buat para buruh pemerintah pasti tau apa yang dimaksud dengan dunia KUM ini. Buat yang nggak tau, ya gapapa, ak juga gak tau2 amat sih sebenarnya. Nah..menilik pengalaman dan tahun 2012 dimana saya jatuh bangun nyiapin KUM, maka saya beresolusi memenuhi angka KUM pada batch pertama tahun 2013 ini (kabarnya sih sekitar April/Mei). Sebagai deadliner sejati, KUM yang (secara teori) seharusnya dipersiapkan sepanjang tahun, maka kukerjakan dalam waktu seminggu saja. Selesai? iya selesai. Puas? iya puas banget. Hasilnya bagus? nah ituuuuuuu!!!!  Pokoknya ga bakal diulang lagi deh kayak tahun lalu!
*btw KUM kepanjangannya apaan ya??

4. Melakukan Independent Traveling bersama suami dan anak (bukan perjalanan dinas)
Tahun 2012 lalu saya menyimpulkan bahwa perjalanan dinas untuk urusan kerjaan tidak dapat menggantikan perjalanan liburan yang dilakukan secara pribadi! Pengalaman saya 4 hari berlibur di Singapura bersama suami pada Februari 2012 (waktu itu amsih hamil), ternyata jauh jauuuh lebiiiihhhh berharga dan puasss jika dibandingkan dengan beberapa kali perjalanan dinas tahun 2012 ke Bali, Batam, Medan,dan juga Hanoi. Oleh karenanya, kemanapun itu, saya bertekad (mengumpulkan uang) untuk bisa melakukan perjalanan keluarga/liburan.

5.Mengisi kitchen set dengan seperangkat perabotan yang cantik 
Nah ini resolusi untuk urusan rumah tangga di rumah. Sebenarnya resolusinya sederhana buanget sih, yaitu beli perabot cantik untuk ditaruh di dalam kitchen set. Namun rencana ini ketunda2 terus mengingat sebenarnya perabot yang seadanya (peninggalan dari jaman kos dulu) juga udah ada, dan tentu saja karena alasan budget constraint (alamak gaya bener bahasaku, bilang aja duit cekak). Nah rencananya, saya pengin beli set tempat bumbu, set tempat penyimpan cadangan bahan makanan, dan set gelas canti, disertai hiasan-hiasan bunga untuk dapur! Kemarin udah liat2 di Ace dan Informa, alhasil pulang ke rumah baru berhasil membawa kalkulasi harganya aja haha! perabotan masih ketinggalan euy!


Udah kayaknya itu dulu. Bismillah, dengan memohon berkah kepada Allah SWT untuk memantapkan hati, dan mengambil pembaca sekalian sebagai saksi, saya berjanji akan berusaha sekeras yang saya bisa untuk KONSISTEN dan menjalankan resolusi ini sepanjang tahun hingga Desember 2013. Insya Allah.

Nawaitu ---(bener gak sih nulisnya).

PS: tulisan ini spesial untuk teman2 Peace Generation, Aik, Nisa, Wiwit,Sony, Fikri, Dite, Aldy Tegos, Mere, Ranggi, Bimas,Dewi, Ratna,Astrid Ave,Dondi (daan semuanyaa) yang entah kenapa ketika mendengar "resolusi tahun baru", kalianlah yang terfikir di kepalaku. Mungkin karena pertama dan terakhir aku ikut duduk melingkar membuat resolusi tahun baru, adalah di rumahku di tengah malam di samping sawah (tahun 2008?). Dan saat itu masing-masing dari kita membuat resolusi yang tinnggi, yang keren, yang muluk-muluk, dan yang (ternyata) gagal. hahahaha. I miss that spirit of free hope, of the unlimited, of the power of dream, of buaya muda

Wednesday, December 26, 2012

Eating while Traveling

Salah satu hal yang sangat "menguntungkan" dari metode BLW (Baby Led Weaning) yang sedikit sudah saya bahas di posting sebelumnya, adalah sangat praktis dan mudah untuk membawa anak makan bersama ketika kita jalan2 di luar. Yang perlu dilakukan hanyalah meminjam highchair dari restoran, memilih makanan sehat yang bs dimakan bayi (mengingat bayi tidak perlu puree, jd nyaris dia bs makan "apa aja"), dan voilaaa...bersiaplah untuk mendapati betapa pintarnya anak kita makan sendiri :D

Gambar di atas adalah ketika minggu lalu Aisha saya ajak menginap satu malam dalam acara kantor di sebuah hotel di Bogor. Dan yang kulakukan hanyalah mengambil buah2 dari meja buffee, dan membiarkannya sangat excited dengan sepiring penuh makanan di depannya!

Sudah beberapa kali Aisha saya ajak makan di luar, dan kebanyakan saya bawa bekal untuk Aisha dari rumah, terutama jika udah tau nanti makanan yang akan kami makan tidak sesuai untuknya. Beberapa makanan yang pernah saya bawa adalah kentang wortel kukus, brokoli kukus, buah naga, dan pisang. Makanan itu dipilih karena memiliki potensi berantakan yang paling kecil ( walaupun pisang kurang recomended karena nodanya bisa kemana-mana).

Ini ketika diajak jalan2 tanpa persiapan (karena mikirnya cuma sebentar n ga mampir makan, jd ga bawa apa2). Alhasil ketika makan di rumah makan yg spesialis pancake (opo to kok lali), aisha cuma ta kasih potongan2 buah segar dari Fruit Pancake yang kupesan..dan restonya ga menyediakan highchair. Alhasil beginilah adanya...

Kayaknya ini dulu deh *sambil lirik dokumen di samping meja kerja*,disambung lagi #BLW edisi yang lainnya, next episode sepertinya tentang bagaimana reaksi para kakek nenek (ortuku)  tentang cara Aisha makan, mengingat ortuku datang ke Jakarta minggu ini.   

Salam dadah!

Tuesday, December 11, 2012

Cara Aisha Makan

Aisha and her papaya (7 months)
 Setelah berjibaku dengan ASI eksklusif selama 6 bulan, anakku Aisha akhirnya memulai makan pertamanya sejak 1,5 bulan yang lalu. Rasanya lega campur bangga bisa memberikan ASI eksklusif kepada anak saya selama setengah tahun (dan akan berlanjut hingga umur 2 tahun), sebuah waktu yang tidak sebentar, khususnya bagi worling mom dengan intensitas keluar kota yang cukup tinggi.

Setelah diskusi dan mempelajari banyak metode ini dan itu, akhirnya kami (saya dan suami), memutuskan untuk mengajarkan makan Aisha dengan metode Baby-Led Weaning/BLW. Sebuah metode lama, tapi baru "tren" beberapa tahun terakhir ini, walaupun keputusan untuk ber-BLW ini tentu saja bukan karena mengikuti tren. Alasan utama kami adalah karena metode ini sangat masuk akal, dan menyenangkan! Menyenangkan bagi bayi, dan juga bagi kami yang "menontonnya".

BLW pada prinsipnya adalah mengajarkan bayi untuk makan sendiri, sejak pertama kali dia mulai dikenalkan pada makanan (usia 6 bulan). Jadi bayi didudukkan (biasanya umur 6 bulan blm bs duduk tegak sendiri, jd bayi ditopang/diganjel bantal di kursinya), dan dihadapkan pada makanan2 untuk bisa dia ambil SENDIRI. Makanan yang disajikan pun berupa makanan padat, bukan bubur, dan juga bukan puree (makanan yang diblender). Untuk memudahkan bayi menggenggam makanan, maka makanan tersebut dipotong-potong sebesar jari (finger foods). Jadi teorinya, bayi akan melihat melihat makanan di hadapannya, mengambilnya, memasukkan ke mulutnya, mengunyah, dan menelannya :) *lebih lengkap mengenai metode ini bisa meluncur ke http://www.babyledweaning-indonesia.com/

Apakah Bisa?
Pertanyaan ini juga selalu muncul di kepala kami ketika Aisha mendekati usia 6 bulan. Bahkan saya sengaja tidak memberitahu ortu dan mertua tentang metode ini, sebelum Aisha berhasil. Mengingat kami tinggal sendiri di Jakarta, hal ini memungkinkan untuk dilakukan, hehe. Pertama kali Aisha ber-BLW adalah makan mangga. Dengan ketakutan dan penuh harap, kami menyaksikan Aisha mengambil mangga pertamanya dan memasukkan ke mulut! Tak berapa lama, ada potongan mangga yang keluar, rupanya Aisha menggigit mangga terlalu besar. Di gigitan kedua, Aisha terlihat mulai mengunyah, dan menelannya dengan mata agak mendelik...orang bilang "keselek". Mas Anas sempet keder juga melihat Aisha kesulitan nelan seperti ini. Tapi ak yang udah kekeuh, meyakinkan kalau tidak apa-apa dan fase ini memang fase belajar yang harus dilalui. Dan benar saja, seperti yang dijelaskan pada teori BLW, setelah adegan keselek itu, Aisha mengulang lg gigit mangga dengan santainya, seolah olah tidak terjadi apa-apa.
Pertama kali makan (6 bulan)

Perlu waktu kira-kira 5-10 kali makan (3 harian) bagi Aisha untuk sepenuhnya bisa mengunyah tanpa kesedak sama sekali. Sampai akhirnya dia udah tau kalau makan itu ya dikunyah, baru ditelan. Dan alhamdulillah hinggga saat ini, Aisha udah makan sendiri dengan jumlah yang selalu meningkat dari minggu ke minggu. Kebayang dulu pas pertama kali makan, paling total yang masuk cuma satu-dua potong... Tapi sekarang udah banyak, bisa jadi hampir bersih piring Aisha, khususnya untuk makanan-makanan yang dia suka. Hingga saat ini (umur 7,5 bulan), makanan yang udah dimakan Aisha diantaranya mangga, pepaya, kentang kukus, brokoli kukus, kembang kol kukus melon, jeruk, zukini, pisang, apel, pir, lontong nasi, labu parang, wortel, buah naga, tahu kukus, paha ayam (rebus), ikan tuna, buncis, kacang panjang...dan lupa.

Kalau aku lihat polanya, Aisha paliiiing suka kalau makan makanan yang belum pernah dia makan. Jadi kadang aku berharap setiap hari ada penemuan makanan baru di dunia ini, hehe.

Aisha and tomatto
Kayaknya ini dulu deh sharingnya *sambil lihat jam dinding di kantor yang mendekati jam 5*. So far saya puas dengan metode ini,dan bangga melihat Aisha  TERNYATA bisa makan sendiri. Di masa yang akan datang, bayi BLW diharapkan jadi happy eater , terhindar dari gerakan tutup mulut, dan lebih tidak pilih2 dalam hal makanan. Jadi ketika besar nanti, bayi BLW akan mau makan apa aja, at least mau mencoba dulu (teorinya sih begitu, hehe).
Aisha and her favorite broccoli (6,5 months)


 Tulisan ini spesial untuk Novi, sebagai kado atas keberhasilannya mendapatkan beasiswa S3 ke Australia *pede amat sih gw ngasih kado beginian doang hahaha :))

Thursday, September 6, 2012

Transkrip Percakapan dengan Joki 3 in 1 Pagi Ini

Di barisan kursi belakang supir dalam bis 213:

Wiwien (Wi): "Anaknya umur berapa bu? kelihatannya semuran dengan anak saya..."
Ibu Joki (IJ): "Oh, jalan lima bulan ini.. anak mbak?"

Wi : "oh ya sama, saya empat bulan *ya gak sama sih ya :)).  Itu pipinya merah2..alergi ya bu? kayak anak saya.."
IJ : "Bukan, ini kena air susu saya..tajem air susu saya, jdnya kalau kena pipi jadi gtu" *no idea air susu tajem itu kayak apa

Wi : "Wah masih asi ya bu? bagus banget itu..."*langsung nembak ke misi
IJ  : "Masih..ya tapi saya kasih susu SG* karena saya kan di jalan gini.."

Wi : "oh, dipompa aja bu, ini saya di kantor bawa2 ginian, mompa asi buat dikasihin besok" *sambil nunjukin cooler bag
IJ  : "Wah nggak bisa...air susu saya dikiiit..anak saya aja masih mangap2 kalau habis nenen..kalau dah dikasih makan baru deh diem, seneng dia.."

Wi ; "kok udah dikasih makan bu...makan apa? sejak kapan?"
IJ : "Waa udah lama, udah sejak dia bisa nelen..lepas umur 40 hari juga udah saya kasih N*stle..kalau pisang nggak suka dia..kadang juga dibeliin Cer*lac sama pelanggan saya, kan dia juga punya bayi umur 10 bulan" *itu siapa sih pelanggan 3 in 1 nya, gak mudeng bangettt

Wi: "Wah malah makanan yg nggak instan kayak pisang gak suka ya anaknya"
IJ : "Iyaa, kan enakan N*stle itu, rasanya manis" *mulai melongo

Wi: "Ooo gitu...pantes anaknya malah suka ya..padahal kasihan lo bu, sebenarnya perutnya dia baru siap makan kalau udah 6 bulan...ASI aja udah cukup, malah lebih bagus gizinya.."
IJ : "haha..iya sih, kalau nurut dokter juga gitu, pernah diomelin juga tapi saya iya2in aja..habis gimana, anaknya yang doyan..kan dia cowok ya jadi makan minumnya kuat...kalau air susu doang ntar jadi apa badannya"

Wi : ...... *melongo *bingung mau respon apa
IJ : "ini seminggu dua kali juga ta kasih air tajin...biar keker.."

Wi: ....*pingsan

Friday, August 31, 2012

Elegi Pagi Hari

Sumber foto: Media Indonesia, diambil dari sini
Sejak menjadi warga pinggiran Jakarta alias Jakarta coret, aku berangkat ke kantor bersama Mas Anas. Berhubung kantor suami terletak di Sudirman, maka aku akan turun di depan kantornya dan melanjutkan perjalanan dengan naik bus 213 sampai depan kantorku.

Pemandangan paling menarik perhatianku ketika naik bis ini adalah adanya penumpang rutin yang baru naik dari Sudirman dan turun di sekitar jalan Diponegoro, jalan dimana kantorku berada. Mereka adalah Joki 3 in 1.

Seperti pagi ini. Di sampingku duduk seorang ibu paruh baya (maksudnya paruh baya apaan sih?haha), pokoknya dia berusia sekitar 40 tahunan, menggendong seorang bayi yang tertidur pulas, memakai kupluk dan di mukanya belepotan diberi bedak yang wangi baunya. Aku sangat yakin bayi itu masih kecil, jauh lebih kecil dari Aisha yang masih 4 bulan. Dan benar saja, setelah kutanya, usia bayi laki-laki itu baru 2 bulan.

Dari percakapan singkat kami, ada satu hal yang membuatku tercekat sepanjang pagi ini : "Masih nenen, bu?", dan si ibu menjawab "Iya masih, tapi saya kan joki, jadi saya tambah susu botol...", belum sempat saya cengok dan memberikan respon, si ibu sudah berpamitan mau turun "Mari mbak, saya turun di sini..."


Ibu itu lantas turun dan berjalan cepat-cepat menuju "posisi" nya menjadi Joki kembali. Tak henti-hentinya kupandangai bayi di gendongannya,sambil mendoakan semoga Tuhan melindungi masa kecilnya, hingga tumbuh menjadi manusia dewasa yang lembut hatinya. Semoga keberlimpahan kasih sayang selalu mengalir pada kalian, anak-anak kecil dalam gendongan joki.

PS: elegi berdasar KBBI berarti syair yang mengandung ungkapan duka cita *aku juga baru ngeh artinya :p.

Monday, August 27, 2012

Ujian ASIX

Aisha and her ASI bottle
Pemberian ASI exclusive (ASIX) selama 6 bulan memang sangat membutuhkan komitmen yang tinggi.

Baru separuh perjalanan, dalam usia Aisha yang belum juga genap 4 bulan, saya ditawari kesempatan yang sangat saya tunggu dan inginkan, tetapi harus meninggalkan bayi saya selama 2 minggu penuh, terpisah ribuan kilo daratan dan lautan.

Setelah lama berdiskusi dengan suami, dan lebih lama lagi berdiskusi dengan diri sendiri, akhirnya saya memutuskan untuk... melepaskan kesempatan itu.

Selain khawatir Aisha menjadi bingung puting (karena diberikan dot non-stop), juga  lebih khawatir ASI saya berhenti berporduksi/berkurang karena tidak pernah dilakukan pelekatan bayi.

Insya Allah....madhep marep mantep, saya akan memberikan ASI kepada bayi saya hingga dua tahun lamanya. Itu adalah HAK anak saya.

Tentang mimpi saya? biar kutitip pada Tuhan dan semoga Dia menggantinya dengan yang lebih baik. 

Monday, August 13, 2012

Pregnancy with Zero Complaint

Saat menulis ini, aku sedang menikmati hari2 terakhir masa cuti melahirkan selama 3 bulan. Artinya, saya sudah melahirkan dong, hehe. Sejak hamil dulu, aku berjanji untuk menulis tentang kehamilanku ketika bisa “mengakhiri” masa kehamilan dengan sukses. Alhasil, alangkah senangnya ketika bisa melahirkan dengan proses yang sangat cepat, partus normal (ceilah bahasanya gaya partus2an segala), yang ada di pikiranku saat itu adalah : aku harus nulis di blog, haha!

Jadi alkisah, alhamdulillah selama hamil ak benar-benar sangat super fit. Yes, dengan  sangat dan super karena memang terhitung selama 9 bulan hamil, ak gak pernah sakit, flu atau sakit yang biasa kuderita sebelum hamil. Badan juga terasa sehat dan ringan, hanya naik 10 kilo hingga melahirkan, dengan berat bayi yang tergolong “besar” yaitu 3,4 kilo. Dengan kondisi seperti itu, ak bisa tetap menjalankan banyak hal luar biasa yang bahkan tidak kulakukan ketika hamil...diantaranya sempat terbang ke Medan dan Jogja saat usia hamil 5 bulan, ke  Singapura saat 6 bulan, dan terakhir ke Vietnam (Hanoi, bukan Ho Chi Minh!), saat mendekati 7 bulan *kalo yang ini dipikir2 ngeri juga. Belum lagi kalau ada acara kantor di bogor dan main2 ke bandung saat wiken, udah gak terhitung berapa kali. Bahkan di sebulan pertama kehamilan (tentu belum ketahuan kalau hamil), ak puasa sebulan (Cuma bolong 3 hari di awal), trus mudik terbang ke Jogja, dan dilanjut lagi naik pesawat ke Surabaya, lalu lanjut naik BUS UMUM (!) ke Tuban dan  Malang (ga ada direct flight Jogja-Malang).

That was really an amazing 9 months. Dan semua itu ditutup dengan persalinan normal yang hanya memakan waktu kontraksi dari bukaan 1 hingga lengkap selama 5 jam (padahal sebelumnya udah horor dikasitau kalau anak pertama biasanya kontraksi minimal selama 15 jam).—mungkin cerita tentang ini akan diulas belakangan *kalau inget. Dan, terakhir, hal yang paling dikhawatirkan ibu2 muda *dan gaya* ketika hamil, yaitu takut berat badan ga bisa pulih setelah melahirkan, alhamdulillah beratku langsung turun 5 kg sejak keluar RS, dan sebulan keluar dari RS, beratku jadi 49,alias sekilo lebih kurus dari sebelum hamil, hingga sekarang. *kalo ini awalnya gara2 belum nemu rewang jadi ngerjain semua2 sendiri.

Oh ya, don’t get me wrong ya teman2, maksud dan tujuanku menulis ini bukannya ingin menjadi @mamayeaaah yang sepertinya sangat sempurna sbg seorang mama, ak hanya mau mengajak para ibu2 untuk nggak takut hamil (kayak aku dulu, hehe). Yes, ak dulu awalnya sempat merasa nggak PD juga ketika hamil, takut nggak sanggup, takut nggak bisa., bahkan: takut melahirkan! Dan ternyata, adegan di tv tentang ibu2 melahirkan yang dramatis itu, telah meracuni pikiran dengan sangat salahnya.

Okeey, mungkin ada beberapa hal yang bisa ku-share sekedar “tips and trick” kehamilan with zero complaint *ceilah

1. Pesan Klasik:  Penuhi Nutrisi Ibu Hamil
Beruntung rasanya bisa nemu dokter kandungan yang cocok sejak konsultasi pertama. Kami periksa di YPK Menteng, dengan pertimbangan dekat dari rumah di menteng (rumah orang), juga pelayanannya yang standar Menteng (yeahh), tapi harganya gak semahal RSIA di sebelahnya (heheheuu). Oh ya, juga karena konon Dian Sastro dan Krisdayanti juga melahirkan di sini lohhh :p. Anyway, akhirnya atas saran dari SPOG kami di sana (boleh sebut nama gak sih?), ak akhirnya meminum tiga multivitamin dari Amway Nutrilite yang tidak mengandung bahan kimia dan nutrisinya lengkap, berupa Omega dari Minyak Ikan Salmon untuk perkembangan otak dan antioksidan darah (kayaknya), sama ekstrak sayuran, dan tablet kalsium-magnesium (konon katanya pemberian kalsium tanpa magnesium adalah “sia-sia” ). Kerennya lagi, dokternya ini gak ngasih obat apapun, cuma rekomendasi utk konsumsi  multivitamin nutrilite itu aja yang bisa kubeli bebas di pasaran. Dokternya Cuma bilang :”Coba deh anda google Amway Nutrilite, nanti silakan kalau mau konsumsi, bisa dibeli di mana saja”.  Ak juga disarankan untuk meminum susu cair (Ultramilk, Diamond) instead of susu bubuk ataupun susu hamil, karena lebih alami dan kandungan kalsium nya terjaga. Alhasil, selama 9 bulan hamil, ak gak mengalami yang namanya pegal2 tulang pungggung. Pernah seminggu sakit punggung tp karena memang seminggu sebelumnya berhenti minum susu cair..setelah digenjot lagi, sakitnya hilang.

2. Pregnancy is About Physical Exercise
Sebenarnya ini kebetulan, tapi memang semasa hamil, banyak kegiatan fisik yang kulakukan, bahkan mungkin lebih banyak dari sebelum hamil. Pertama, jalan kaki sebanyak 2 kilo sehari. Waktu itu aku tinggal dengan jarak 1 kilo dari kantor. Jika sebelum hamil aku berangkat kantor bareng suami (diantar), maka sejak hamil malah jadi semangat untuk jalan kaki ke kantor pulang pergi sebanyak 2 kilo di pagi dan sore. Juga hobiku yang senang jalan-jalan di Car free Day hari minggu di Sudirman. Walaupun suami males2an ikutan, tetep diseret dah. Juga seringnya jalan-jalan di car free day sebagai ajang ngumpul ama temen2 tercinta dari jogja. Saat hamil itu juga, ndilalah kami (ak dan suami) sempat berjalan berkilo-kilo di Singapura selama 4 hari. Kenapa ndilalah? Karena kita udah beli tiket sejak sebelum hamil akibat korban promo Rp.0 dari sebuah maskapai penerbangan asal Malaysia *yeaah. Waktu itu suami sempet khawatir juga apa aku kuat dan akan tetep dipakai itu tiket. Tapi sat itu malah kujawab “Kalau Mas gak mau berangkat, aku berangkat sendiri”. Sewot abis deh pokoknya saking semangatnya. haha

3. Do Not Always Think You are Pregnant
Jangan memasang label di badan bahwa kita sedang hamil, sehingga selalu berfikir boleh ini nggak ya, boleh itu nggak ya..takut ini, takut itu..sehingga membuat kita merasa ragu-ragu, tidak nyaman, dan atau malah merasa terbebani dengan kehamilan. Hamil adalah proses alamiah, our baby is super smart so that she can survive in her own way. Bahkan ekstrimnya: kita dieeem aja, perut kita itu bakalan bear sendiri dan lahir sendiri itu bayi =D. Jadi intinya, asalh gaya hidup kita sebelum hamil ini "normal" dan nggak ekstrim (merokok, minum alkohol, atlet gulat, dkk), kita bisa hidup sama persis seperti sebelum hamil : jalan kaki masih bisa, naik turun tangga ok, memasak lancar, bekerja juga sama aja. Mungkin hal2 yang dihindari hanyalah sushi atau junk food, tapi memang seberapa sering sih kita makan sushi kl pas gak hamil? Jadi nggak bakal kerasa deh kl menghindari sushi selama 9 bulan, tau2 udah lahir aja :p Untuk duren, es krim, coklat, nanas, dan makanan lainnya yang difitnah tidak boleh dimakan bumil---bohong ah! 
Ok jadi intinya,supaya ketika hamil nggak tersiksa dengan banyaknya pantangan,  milikilah gaya hidup sehat selagi sebelum hamil..*haha pinter yah saran ku! :p

Segitu dulu, kepada seluruh ibu-ibu muda di seluruh dunia perblog-an, ayo hamil! :D

*PS: tulisan ini sudah kubuat selagi cuti melahirkan di rumah, tetapi baru *sempat dan ingat* posting sebulan setelah ngantor, itu aja karena diingetin my fans TIARA :p

Our First Anniversary @ Singapore during 6th month
Office Training @ Bali during 6,5 Month
Ho Chi Minh !


 
Copyright 2010 Wien Wien Solution. Powered by Blogger
Blogger Templates created by DeluxeTemplates.net
Wordpress by Wpthemescreator
Blogger Showcase