Showing posts with label Cerita di Kantor. Show all posts
Showing posts with label Cerita di Kantor. Show all posts

Thursday, November 14, 2013

Pengalaman Mengajar



Hari ini untuk kedua kalinya saya mengajar. Kali ini masih dalam training yang diselenggarakan oleh Lembaga Teknik UI di Kampus Salemba, sama seperti ketika pertama kali saya mengajar. Saya diminta untuk memberikan materi terkait Kriteria Penilaian Proyek, khususnya kalau dalam kapasitas saya adalah yang dibiayai dari pinjaman luar negeri. So far, tema ini yang memang paling saya kuasai dan relevan dengan kapasitas pekerjaan saya di kantor. Sebelumnya, selama satu tahun (periodik, tidak sepanjang tahun), saya mendapat training terkait Project Assesment, yang tentu saja membahas kriteria penilaian proyek yang dimaksud.

OK selanjutnya saya tidak akan membahas detail materi paparan saya, kalau mau membahasnya lebih lanjut, bisa undang saya lagi sebagai pengajar..heheheh *ditimpuk penghapus

Hari ini, selesai mengajar, saya keluar kelas dengan rasa puas dan optimisme luar biasa. Di kelas saya tadi, pesertanya adalah para PNS yang berasal dari Pemda (Bappeda, Dinas PU, Setda Kabupaten, Kanwil Kemenag, Setda Pemkot, bahkan ada pula dosen dari STAIN), dari beberapa daerah di Indonesia. Saya takjub bagaimana mereka dengan SANGAT antusias menerima materi yang saya sampaikan, mereka juga aktif bertanya dan sharing pengalaman terkait materi saya dalam konteks mereka di daerah. Dari pertanyaan dan sharing-sharing mereka, saya merasakan bahwa mereka adalah orang yang idealis, padahal usia mereka sudah tidak muda lagi (ya tapi jangan bayangkan juga orang tua masuk kelas hehe, ya 35-40 tahun lah).

Sebagai contoh, mereka bercerita bahwa suatu ketika ada pihak dari pemerintah pusat datang dan menyampaikan akan membuat sebuah proyek infrastruktur bandara di kabupaten tersebut. Peserta training itu menjelaskan bahwa setelah dia mempelajari kembali dokumen RTRW atau dokumen perencanaan kota lainnya, sebenarnya proyek tersebut tidak ada dalam rencana tata kota mereka. Namun demikian, mereka tetap menyetujui pembangunan tersebut karena proyek tersebut sesuai prioritas nasional. Yang saya salut adalah, upaya dia untuk mempelajari kembali dokumen2 perencanaan kota yang sudah ada, dan dia gunakan untuk "mendebat" usulan proyek dari pemerintah pusat. Hal ini berbeda dengan kasus umum yang terjadi dimana proyek besar adalah sesuatu yang dinanti2 oleh daerah, apalagi jika itu proyeknya pemerintah pusat, artinya daerah tidak perlu menyediakan dana utamanya. Sebelumnya peserta ini menanyakan tentang poin-poin yang saya tulis sebagai syarat pemenuhan kesediaan tanah (saya menulis aapa yang sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah), namun peserta ini menambahkan perlunya menambah komponen RTRW yang jelas, karena hal itu bisa sangat mengganggu.

Peserta yang lain ada yang menanyakan salah satu contoh proyek yang tergolong berhasil dari Kementerian Pertanian, dalam hal ini adalah proyek FEATI yang dikoordinasikan di direktorat saya . Kebetulan ada salah satu peserta lain ada yang pernah terlibat dalam proyek itu di level daerah, dan memberikan gambaran bagaimana proyek tersebut diterima oleh masyarakat dan pelaksanaan proyeknya benar-benar melibatkan petani di wilayah kabupatennya. Hingga saat ini, proyek yang telah selesai tersebut masih sering dibicarakan oleh masyarakat karena manfaatnya masih dirasakan. Saya terhanyut mendengarkan penjelasan peserta tersebut, di samping sebenarnya saya tidak begitu tahu keberhasilan proyek itu di level gras root penerima manfaatnya. DI level kami di pusat, proyek itu memang sering pula disebut dan diusulkan untuk direplikasikan melalui pendanaan dari dana rupiah.

Di akhir paparan saya, setelah saya menutup sesi saya, saya sempat bertanya darimana mereka mengetahu informasi terkait training ini. Saya bertanya demikian karena kagum atas betapa besarnya cakupan peserta yang ada, bayangkan dari Pemkot Salatiga, Karawang,hingga Lombok Barat, Manado, dan Empat Lawang (ayoo googling dimana kabupaten itu!). Dan jawaban mereka justru lebih membuat saya kagum: "kami cari sendiri bu, dapat dari websitenya Bappenas (Pusbindiklatren). Kalau menunggu dari provinsi atau atasan, ga akan bisa sampai sini...". (untuk teman2 yang ingin mengikuti  beragam training dan diklat yang diselenggarakan Bappenas, bisa klik link ini).

Wow! Saya yang selama ini menginginkan sebuah training di negara yang masuk dalam "Wish List" tertohok juga dan menanyakan pada diri sendiri: "Apa yang sudah saya lakukan untuk mencari dan mengupayakannya sendiri?"

Lalu, sebelum saya akhirnya harus benar-benar pergi, mereka bertanya terkait suka duka saya menjadi Staf JFP (Jabatan Fungsional Perencana). Memang saya akui banyak sekali suka nya, walaupun saya belum pernah merasakan jadi staf non fungsional perencana. Intinya mereka menyampaikan keinginan mereka untuk mengambil jalur funsgional JFP. Saya jelaskan sebatas kemampuan dan pengetahuan saya. Saya sampaikan pula bahwa peserta training ini pada periode sebelumnya, ada satu orang dari Basarnas kalau saya tidak salah ingat, adalah satu-satunya JFP di lembaga tersebut, yang mengupayakan sendiri juga untuk jadi JFP. Alhasil sekarang, beliau banyak ditanyai temen2nya yang ingin jadi JFP juga tapi tidak tau harus bagaimana. Pernyataan saya tersebut ternyata membuat mereka bersemangat dan yakin untuk bisa mengupayakan menjadi JFP.

Ah, saya senang sekali hari ini. Saya seperti melihat sebenarnya ada banyak mutiara-mutiara di pedalaman yang bersinar cerah. Yang setiap harinya menjalankan pemerintahan ini dengan penuh semangat, yang ternyata gak selalu anak muda, yang gak selalu orang yang pandai bahasa inggris seperti mereka di pemerintah pusat, yang sangat semangat dan yang bisa diajak berbagi idealisme menjalankan negara.

Ah saya memang mengajar mereka hari ini, tapi saya yakin, apa yang saya dapatkan sama banyaknya dengan mereka, bahkan lebih!

*dan tak lupa sebelum pulang, pihak panitia memberikan amplop coklat dan tandatangan di atas materai kepada saya. Alhamdulillah :)

Thursday, September 19, 2013

Daftar PNS Nggak Ya?

"Time Flies...Orientasi CPNS Bappenas Tahun 2009"
Berhubung sekarang sedang "diobral" pendaftaran CPNS di hampir seluruh kementerian, saya akan turut meramaikan topik ini, termasuk juga untuk menjawab beberapa teman ke saya tentang:...sebaiknya daftar ga ya? jadi PNS ngapain aja ya? gajinya berapa ya? Kerjaannya ngapain aja yaMungkin ini bisa jadi seri ke 2 dari tulisan tentang tes CPNS saya sebelumnya di sini.Oh ya, untuk membatasai pembahasan, tulisan ini membahas untuk tes CPNS bagi lulusan S1 ya..yang nantinya akan menjadi PNS golongan IIIA.

Tulisan ini akan saya mulai dengan menceritakan mengapa saya mendaftar jadi CPNS dulu.

Motivasi
Hingga  saat ini sebenarnya saya juga nggak tau kenapa saya ingin jadi PNS (hahaha). Pertama kali daftar dulu, saya cuma ingin bekerja setelah lulus kuliah, dan kebetulan saat itu sedang ramai bukaan CPNS seperti sekarang ini. Saya yang sebenarnya saat itu pengin jadi Dosen, dan sudah mulai membantu beberapa dosen dalam menyiapkan kelasnya, tergoda juga untuk daftar PNS seperti teman2 seangkatan saya. Waktu itu saya mendaftar di beberapa Kementerian yang membutuhkan jurusan HI, dan syukur alhamdulillah saya justru diterima di Kementerian yang paling keren dan prestisius sedunia (ga boleh protes sama pengakuan sepihak penulis! hehe). Tapi saran saya bagi teman2 yang mau daftar, pastikan dulu motivasi teman2 apa (jangan kayak saya hehe) dan "tembaklah" kementerian yang menurut teman2 keren saja, bukan random seperti saya dulu. Beruntung sekali saya diterimanya di Bappenas, nggak membayangkan kalau ternyata saya diterima di suatu Kementerian yang ternyata "salah jurusan" bagi saya. Karena once kita keterima PNS di suatu kementerian, berarti seumur hidup akan kita habiskan di sana. Walaupun tentu saja, pilihan untuk keluar dari PNS atau pindah kementerian pasti bisa. Nah, belakangan saya tau bahwa motivasi saya menjadi PNS adalah untuk "bekerja" yaaa nggak salah2 amat, karena justru bermodal motivasi bekerja itu, saya mencintai pekerjaan saya, yang besar atau kecil, pasti berkontribusi bagi pembangunan Indonesia, setidaknya di sebagian pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi  yang merupakan lingkup kerja saya (insya Allah).

Kementerian Apa?
Kementerian terbaik adalah Kementerian yang sesuai dengan minat (orang bule mengatakan passion) kita, dan memiliki budaya kerja yang efektif. Kalau untuk minat, saya nggak akan bahas di sini karena hanya kita sendiri yang bisa menentukan, dan memerlukan penelusuran mendalam apakah tupoksi kementerian tersebut sesuai dengan minat dan kemampuan kita. Tapi hal lain yang paling penting adalah: menilai budaya kerja di suatu kementerian tersebut, misalnya dengan mengajukan pertanyaan2 ini untuk kita jawab sendiri melalui riset kecil:
-Apakah kementerian tersebut memiliki banyak pekerjaan? (ugly truth, semakin banyak pekerjaan, semakin efektif kita bekerja--semakin sedikit pekerjaan, semakin besar potensi malas2an)
-Bagaimana potensi pengembangan kapasitas staf nya? (misalnya pelatihan2 dll--ini hampir semua kementerian sudah lumayan bagus sih kayaknya; termasuk  juga potensi sekolah lanjutan--S2 dan S3 mungkin--bisa dilihat dari komposisi pendidikan stafnya)
-Apakah kementerian tersebut memiliki jenjang karir yang jelas dan fair?
-Apakah hierarki atasan dan bawahan sangat absolut? (misalnya..kalau dulu ada bercandaan: staf CPNS jangan2 disuruh buatin kopi atau bawain tas si bos--hehe)
-Apakah kementerian tersebut sudah "bersih" dalam mengelola perjalanan dinas? hehe spesifik ya, tapi yah..ini bisa jadi salah satu tolak ukur seberapa "civilized" nya kementerian tersebut.
-hingga pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah di Kementerian tersebut banyak yang membolos? apakah banyak yang lembur? apakah banyak yang muda dan ganteng dan kaya? *mulai nglantur...

Kerjaannya Gimana?
Ketika awal-awal diterima jadi CPNS dulu, selama tahun-tahun pertama isinya cuma training..training...dan training.... Menurutku sih masa paling asik hehe..apalagi saya habis lulus kuliah jadi belum siap2 banget untuk bekerja. Training itu merupakan training wajib, mulai dari team building di Puncak, orientasi kantor selama seminggu, trus diklat perencana selama---1,5 bulan (kyknya), trus Diklat Prajabatan selama seminggu...dan ditutup dengan diklat perencana pertama (lanjutan) selama 2,5 bulan di Bandung. Baik banget kan pemerintah dalam mempersiapkan abdi negara nya? :) Teorinya, dengan berbekal training tersebut, kita lebih siap secara substansi untuk bekerja di kementerian kita (untuk diklat2 perencana itu), dan memiliki semangat kebersamaan dengan sesama PNS di kementerian lain (Diklat Prajabatan). Dan so far, dari training2 tersebut, saya optimis bahwa anak-anak muda yang menjadi PNS di berbagai kementerian tersebut siap membuat perubahan (insya Allah). Di sela-sela training itu, kita juga sudah mulai bekerja di kantor. Intinya, kalau kita bekerja di Kementerian, itu kan membuat policy/kebijakan dalam berbagai sekala: nasional, skala program/proyek, atau skala kantor (misal yang bekerja di bagian biro SDM atau biro umum), dalam berbagai jangka waktu: 5 tahun, 1 tahun, atau periode tertentu (misalnya proyek). Nah, untuk mencapai tujuan itu, banyak jenis pekerjaan yang kita kerjakan: dari menyiapkan substansi pemaparan/presentasi (menyusun latar belakang, sasaran, dan kebijakan itu sendiri), bertanya/berkonsultasi dengan pihak lain, sampai  mengunjungi lapangan, menulis notulen, laporan, menyelenggarakan rapat,mengirim undangan, dan fotokopi! Kadang ada masanya pekerjaan sedang banyak, ada masa pula pekerjaan sudah selesai.

Tekanan Kerjanya Gimana?
Menurutku, salah satu hal utama yang merupakan enaknya jadi PNS adalah tekanan kerja yang cukup kecil, sehingga kita bisa tampil all out. Tekanan kerja di sini dalam artian untuk dipecat jadi PNS ya. Kalaupun pekerjaan kita super banyak sampai lembur-lembur, bos galak dan perfeksionis, tapi itu masih lebih baik dibandingkan kalau kita juga punya kemungkinan dipecat atau diberhentikan dengan seenaknya. Saya membayangkan mungkin di swasta begitu ya: harus perform, kalau tidak dipecat. Walaupun saya sepakat kalau kita harus perform dimanapun kita berada. Justru karena hampir tidak ada ketakutan dipecat itu, kita harus all out...harus total...harus menyelesaikan pekerjaan sejauuuh kemampuan kita dengan bebas. Nikmatilah masa-masa sibuk dan lembur karena kita menjadi sangat produktif dan menikmati wiken, dan syukurilah masa-masa nganggur dengan meminjam buku-buku bagus di perpustakaan (ada juga lo perpusnya!). Karena bagaimanapun, masa lembur dan masa nganggur kita dibayar dengan menggunakan tax payer's money.

Gajinya Gimana?
Walaupun bukan yang utama, tapi gaji penting juga untuk dibahas, apalagi untuk teman2 pria, yang nantinya akan menjadi tulang punggung keluarga. Gaji PNS sebenarnya standar, semua golongan III A itu sama semua (kayaknya sih ya?). Yang membedakan kan sekarang ada istilah "remunerasi", tunjangan selain gaji. Konon remunerasi ini juga beda2 tiap Kementerian. Selain itu, ada pula honor terkait kegiatan tambahan yang kita kerjakan, misalnya kegiatan Kajian dan pembuatan Policy Paper. Kenapa tambahan? karena itu bukan tupoksi utama dari pekerjaan kita. Konon katanya, semua honor tambahan tersebut akan dihilangkan, dan dialihkan menjadi "gaji tunggal/all-in" yang lebih besar. Katanya sistem ini mulai tahun depan, tapi nggak tahu juga, namanya juga konon. Jadi PNS akan digaji dengan sistem pekerja swasta, yang gajinya besar tapi sudah, tidak ada tambahan apapun lagi selama sebulan itu. Menurutku sistem ini bagus banget sih, soalnya  kita sebagai PNS juga "bangga" karena bisa dengan bebas menyebut gaji kita berapa (ngga kayak sekarang yang selalu "dicurigai" mendapat saweran banyak sekali), juga untuk menghitung kepastian jumlah pendapatan kita sebulan, hal ini sangat berguna khususnya yang mau ambil kredit2 KPR atau barang lainnya... *curcol deh*. Kalau dibandingkan dengan gaji swasta gimana? Yaa....berhubung saya nggak tahu gaji swasta seperti nggak tahunya teman-teman tentang gaji saya, jadi yaa saya nggak tau juga gimana perbandingannya hahaha (piye sih!). Tapi satu hal yang pasti, kalau kata suami saya: saling memberitahu nominal gaji itu masih enak saat kita pertama kali bekerja, tapi kalau sudah beberapa tahun bekerja, itu sudah tergantung "mekanisme pasar" dan keberuntungan kita, apalagi buat yang bekerja di swasta dan sering dibajak perusahaan lain, hehe... iya kan? Tapi insya Allah, gaji PNS di jakarta cukup untuk hidup dengan layak dan berkeluarga di Jakarta, no worries.

Ndaftarnya Gimana?
Tahun ini, hampir semua Kementerian membuka lowongan CPNS. Untuk informasi lengkapnya bisa dilihat di www.menpan.go.id, dan tentu saja di website masing-masing kementerian yang diminati. Khusus untuk tempat saya bekerja., setelah tahun lalu moratorium, tahun ini Bappenas membuka kembali lowongan CPNS memperebutkan 47 posisi (kalau nggak salah itung saya), dengan deadline 22 September 2013, lebih lanjut bisa lihat di sini. Dulu saat awal-awal saya kerja di Jakarta, saya ingat waktu itu naik taksi dari depan kantor Bappenas. Supir taksi tanya ke saya apakah saya PNS di Bappenas, saya jawab iya. Selanjutnya, dia berkata: "Bayar berapa dulu mbak?",  saat itu saya merasa marah setengah mati, saya terdiam beberapa saat, berusaha tahan nafas dan bertanya: "Maksudnya apa ya Pak?", dan justru dia melanjutkan "Atau punya Saudara di sana? kan biasanya gitu...".  Saya ingin menjelaskan panjang lebar kepada bapak itu, bagaimana saya 5 kali pulang pergi dari Jogja ke Jakarta naik kereta untuk mengikuti setiap rangkaian tes di Bappenas, bagaimana saya harus mencari tumpangan di Jakarta untuk tes2 tersebut, bagaimana saya menghafal kosakata dalam buku-buku TPA yang super tebal itu, atau bagaimana saya berdoa setiap malam memohon hasil yang terbaik dari Allah, dan bagaimana saya setiap detik merefresh website Bappenas ketika hari H pengumuman hasil tes CPNS tersebut. Tapi yang keluar dari mulut saya hanya: "Tidak bayar, Pak. Saya juga tidak punya saudara di Jakarta. Bapak kalau mau daftar juga bisa, kalau berkualitas juga pasti diterima."  

"Siapa bisa, dia bisa...."

Akhir kata, dari lubuk hati yang paling dalam, saya mengajak teman-teman yang benar-benar ingin berkontribusi bagi Indonesia untuk mendaftar menjadi CPNS tahun ini. Kita semua ingin kan melihat  Indonesia bisa sukses membangun infrastuktur ini itu dari ujung Sabang sampai Merauke, ingin melihat masyarakat miskin berhasil mendapatkan kehidupan yang layak, ingin melihat setiap anak-anak mendapatkan pendidikan yang berkualitas, dan ingin melihat Indonesia menjadi negara maju... Mengapa tidak menjadi bagian dari perubahan itu? Jangan tunggu kami (pemerintah) mewujudkannya, tapi bantulah kami mewujudkannya...bergabunglah bersama kami!

*iklan layanan masyarakat ini tidak dipersembahkan oleh Kementerian manapun, hahahha



Monday, March 18, 2013

Investasi Akhirat

Siang ini ada ceramah 7 menit selepas sholat dhuhur di musholla kantor. Pembahasannya tentang "anak sebagai investasi akhirat". Dikisahkan bahwa si Bapak penceramah ini, Dr.Agus, memiliki seorang teman yang suka sekali menikmati waktu makan siang dengan jajan makanan yang enak di sekitar lokasi kantor. Terus saja itu dilakukan, sampai anaknya memulai hidup di pesantren. Sesaat setelah itu, ketika diajak makan, jawaban temannya itu adalah : "wah saya tidak bisa lagi enak makan-makan begitu kalau ingat anak saya di pesantren makan apa".

Begitulah perumpamaan kehidupann di surga, jika tanpa disertai sanak keluarga. Segalanya indah, tapi ada yang kurang.

Beberapa hal yang bisa kita upayakan untuk menjadikan anak sebagai investasi yang bernilai di akhirat adalah:
1. Jagalah setiap harta yang kita belanjakan, khususnya yang ditujukan ke anak kita (maksudnya pastikan bersih dan halal).Ada cerita tentang seorang suami yang istrinya sedang sakit dan harus menggendong2 anaknya yg menangis karena  minta ASI. ada tetangga yang mencoba menawarkan asi nya, tp ditolak dengan halus. ternyata karena alasan dia tidak tau apa dan dari mana tetangga itu mendapatkan makanannya (yg berpengaruh kepada asi). kelak, bayi itu menjadi satu-satunya (?) orang yang menjadi imam di masijidil Aqsa dan Masjid Nabawi, namanya...lupa :p

2. Menjaga ucapan kita sebagai orangtua. Ada cerita tentang seorang ibu yang tengah selesai masak karena akan menyambut tamu-tamu di rumahnya. tiba-tiba anaknya yg maih kecil masuk rumah dari bermain di luar, dan menaburkan tanah ke atas masakan-masakannya. Ibu itu sangat kesal, tapi yang keluar dari mulutnya adalah "keluar sana dan jadilah imam masijidil harom!". Dan jadilah dia.

3. Sebaik2 pengajaran adalah teladan. Maka bersikaplah yang layak dicontoh oleh anak, setiap saat, sepanjang waktu (ini ada contoh ceritanya juga tapi lupa :p)

Sepulang dari musholla itu siang ini..ada satu hal yang menari-nari dengan gelisah di pikiran saya:  Jika saya saja masih bertanya-tanya apa iya saya pantas masuk surga, bagaimana saya bisa membawa anak saya?
Indahnya kehijauan kebun teh di Bandung, apalagi indahnya surga, apalagi bisa bawa anaknya .

Wednesday, November 24, 2010

Menabung


Beberapa hari terakhir, aku sedang giat-giatnya belajar tentang menabung dan investasi (baca: belajar doang,hahaha). Singkat cerita, kusimpulkan bahwa menabung dan investasi memang memerlukan upaya yang sungguh-sungguh, disertai niat yang teguh, dan tekad yang kuat *jiaah. Jadi tidak otomatis kalau penghasilan besar, pasti akan langsung bisa menabung. Tidak. Semua itu tergantung dari niat, tekad, dan rencana.

Dan benar saja..
Siang tadi aku pulang ke kantor dari acara meeting di luar, naik taksi, dengan argo yang harus kubayar 14 ribu sekian (anggaplah 15 ribu). Sesampai di kantor, kubayarlah supir taksi itu dengan uang 100 ribu yang merupakan satu-satunya uang di dompetku selain beberapa keping uang receh. Bisa ditebak, si supir taksi tidak ada kembalian, cuma ada 50 ribuan, dua lembar. Melihat taksi ku berhenti lama di depan loby, seorang bapak satpam yang kukenal menghampri kami, dan meminta taksi untuk maju karena ada mobil yang akan menurunkan penumpangnya di loby kantor juga. Maka kubuka lah kaca taksi, dan bapak itu menyapaku dengan "ada apa mbak?", maksudnya, kenapa aku nggak turun2 juga dari taksi dan malah dari tadi nanya2 ma si tukang taksi itu dan mengaduk2 isi tas ku. Spontan aku tanya dengan hopeless "Maaf Pak, bisa pecah uang nggak ya?" meskipun aku udah berfikir siapa lagi yang bisa kutanyain ya, karena maaf, aku nggak menduga pak satpam itu menyimpan uang pecahan sebanyak itu.

Tentu saja aku salah, bapak satpam itu langsung mengatakan "Oooh..punya mbak, sebentar..sebentar..." dan dia kemudian masuk ke pos satpam, sambil kuikuti di belakangnya. Dia mengeluarkan sesuatu dari lemari kecil di pos itu, dan akhirnya mengeluarkan lembaran2 uang seribuan, dua ribuan,lima ribuan, dan yang terbesar 10 ribuan, dan menjajarnya di meja. "Maaf mbak receh banget nggak papa ya?". Uang-uang itu sudah ditata rapi per-sepuluhribu (tau kan maksudnya? setiap 10 lembar uang seribu, dia membungkusnya dengan memberi lipatan sebagai penanda, juga setiap dua lembar uang 5ribu dilipat lagi, dst.). Dan singkat cerita, aku bayarlah transaksiku ke supir taksi dengan suksesnya.

Sepanjang jalan dari pos satpam itu menuju ruanganku, aku tak henti-hentinya salut dan malu pada pak satpam ku itu. Setelah melihat uang-uang itu, aku tau betul dr mana pak satpam itu mendapatkannnya. Sebagai orang yang menggunakan jasanya untuk menitipkan motorku dan meminta tolong mengeluarkan motor ketika terjepit motor lainnya di parkiran,aku tau uang-uang itu kemungkinan dari pemberian penghuni kantor yang membawa mobil dan motor. Pak satpam itu tentu saja nggak pernah meminta tips sama sekali, bahkan raut berharap di wajahnya pun tidak ada. Aku yakin kebanyakan pemakai kendaraan sepertiku memberinya bukan karena jasanya, tapi lebih karena kebaikannya, karena keramahnnya menyapa kami setiap pagi, ringan tangannya membantu kami, dan lebih karena kesyukuran kami apalagi ketikat tau bapak itu adalah satpam honorer saja, diantara puluhan satpam honorer dan negeri yang lainnya di kantor kami.

Ah, aku hanya ngak pernah menyangka, bapak itu mengumpulkan sedikit demi sedikit dari yang dia terima, sedemikian niatnya....

Betul, nabung yuk!!

PS: gambar uang di atas adalah uang recehan hasil penukaran

Tuesday, February 9, 2010

yang setia menemani perjalanan

Hari ini aku pulang dari kantor lebih malam dari biasanya. Bukan karena aku rajin, tapi tepat ketika aku selesai merapikan meja dan tas, atasanku mengatakan kalau memesankan mie rebus untuk makan malam, bersama dengan 9 orang lain yang masih tinggal di ruanganku. Karena masih banyak orang yang tinggal (total di ruanganku hanya 16 orang), akhirnya aku dengan senang hati tinggal lebih lama di kantor, toh sesampai di rumah pasti juga mencari makan, fikirku.

Sambil menunggu pesanan, ada beberapa pekerjaan yang kurapikan, tapi lebih banyak membuka berita2 di media online dan sesekali chatting.

Di pojok ruangan, di dekat pintu, duduk seorang bapak sedang membaca kompas hari ini. wajahnya terlihat sangat tertarik membaca halaman demi halaman, yang aku yakin hampir semua telah dibacanya karena sudah hampir dua jam bapak itu membaca koran tersebut. Aku tahu dia sedang menunggu, tapi sama sekali tidak tampak raut "kemrungsung" atau kesal di wajahnya. Dia tidak pernah melihat jam, atau tidak pernah pula melihat pintu tertutup di sampingnya, yang berisi seseorang yang ditunggunya, sejak dua jam yang lalu, atau bahkan sejak bapak itu datang ke kantor ini pagi-pagi sekali hari ini.

Dan dia lakukan hal itu setiap hari, dari pagi hingga malam. Setiap kali sembari menunggu, bapak itu rajin sekali menawarkan bantuan kepada kami untuk melakukan apa saja yang bisa dia kerjakan, dari membantu memfoto kopi, menyajikan makanan, menyambungkan telepon, sampai wira wiri sana sini mengantar dan mencari-cari surat. Jika sedang dibantu bapak itu, saya seperti selalu diingatkan untuk ringan tangan, mengutamakan orang lain, dan tidak mengeluh.

Bapak itu adalah supir direktur kami, bapak supir tersebut mengantarkan pak direktur yang datang pagi hari pukul 7 sebelum seluruh staffnya datang, dan pulang malam hari minimal pukul 7, setelah semua staffnya pulang.

dan hari ini, pukul 20.00, aku masih melihat bapak supir duduk di samping pintu direktur. kali ini beliau bersandar pada dinding, tertidur.

bahkan dalam tidurnya, bapak sopir itu masih mengajarkan padaku kesetiaan hati untuk mengabdi....

Friday, January 29, 2010

Ashgabat dan Gurbanguly Berdimuhamedow

Pelajaran penting hari ini : ternyata negara Turkmenistan itu terletak di EROPA TENGAH, bukan di Afrika. Jangan sampai hal ini keliru di depan atasan mu apalagi ketika atasanmu sudah tahu kalau kamu anak HI ;-) ;-)

don't ask me why i wrote about this in my blog!

(ps: Ashgabat adalah ibukota Turkmenistan, dan Gurbanguly Berdimuhamedow adalah presidennya)

Friday, January 22, 2010

Es Krim VS Teh Hangat

Bismillah.

Aku ingin mulai menulis ini lagi dengan sesuatu yang baik, walaupun aku harus mengakui ada beberapa hal yang tidak baik (menurutku) sedang terjadi.

Biasanya yah, hal-hal yang tidak baik itu adalah sesuatu yang tidak sesuai keinginan kita.
Misalnya nih, kita pengin es krim, dan liat temen2 lagi pada makan es krim juga...eh ternyata pas kita mau beli es krim, tiba2 hujan deress bgt dan cuaca jadi dingin, jadi es krim gak sesuai lagi sama kita. Nah pada saat itu kita gak sadar kalau sebenarnya secangkir teh hangat dengan krimer adalah sesuatu yang sangat pas dengan kita. Padahal teh krimer hangat itu sudah dibuatkan di depan kita, tapi teteeep mata kita membayangkan es krim yang telah kita rencanakan, sambil tetep melihat orang-orang yang sedang menghabiskan es krim nya.

walaupun aku bisa menutup cerita itu dengan satu kata: "That's life", tp mari kita seolah-olah menjadi akademisi yg bersikap selalu mencari dasar dari perilaku yang seperti itu:

1. Kita kurang bersyukur sehingga tidak pandai menerima segala hal yang sudah diberikan pada kita.

2. Kita kurang cerdas karena tidak pandai melihat hal/perspektif lain dari suatu kejadian.

3. Kita terlalu ndeso karena jarang makan es krim. ha..ha..ha.


PS: blog ini ditulis sambil minum secangkir teh hangat dengan krimer ;-P

Monday, December 7, 2009

Bappenas

I'm coming your way..........

I LOVE YOU
 
Copyright 2010 Wien Wien Solution. Powered by Blogger
Blogger Templates created by DeluxeTemplates.net
Wordpress by Wpthemescreator
Blogger Showcase