Showing posts with label menikah. Show all posts
Showing posts with label menikah. Show all posts

Friday, February 10, 2012

Almost Anniversary


Yesterday my and my husband went to our SPOG as what we always do every month since around 6 months ago. Since I still have the meeting in the office up to 6.30 pm, he went to the hospital first to "queue",since the my doctor will see the patients on the first come first come first serve basis. I just feels normal when he did this since he often do many many things for me. I realize how special it is when he updated a status on social media into "go to the "pregnancy doctor" without the pregnant wife". Ah,yes, my husband, a man, after finishing his job in the office and the field, voluntarily went to see the pregnancy doctor, where there are full of pregnant women. And still, he was doing it as if it was so normal,as if it is his "job" that the has to do. And so, I made him wait in the hospital around one hour until I finished my meeting in the office.

Let's get back to several days before,and probably several months before,when other usual things starts to happen. Normally, he will be home from the office earlier than me since he starts the office at 7am, while I start at 9 am. So,when I can't be home at 5pm,and he already had rest at home, he always told me "I will pick you". And he always do. When I said I'm ready to go home, he directly goes to my office at anytime,so far the latest recorded is at 11 pm! But what makes me sometimes hurt is that when I asked him to pick me when he just arrived at home for 15 minutes, or when he has to wait outside my office for quite sometimes since I (still) can't leave the office. And yet, he welcomes me smilingly, as if what I do is normal, as if picking me up is the thing he should do.

When I am alone in the house, and I can see him in every small part in our room. As I clean the house,I see his passion when I saw his business card/namecard dropped from the drawer.What interesting about his business card is that he get "hijacked" to other company which is a lot better than his previous one. Also that now his works is a lot related to his passion. And when he told me about his job, I can't be proud more. He is also the one who teach me to find my passion, that my job is not my career, that I can do more outside my job. He wants me to be big, to be brave, to break the glass ceiling that hinder me. Ah,you're like the "hati kecil" that always say courage to me.

Also when I am his with friends. It makes me realize that there is a very clear distinct definition of "friends" and "people". He doesn't have a big number of good friends, but his good friends are very very loyal to him. I can't say no more. His friends remember every detail of him and his family, his friends wants to see him wherever they have chance, they talk positive things, support each other sincerely, and is very happy when my husband aske them to do something. And most of all, his friends welcome me very very warmly. But my husband is also doing anything he can for his friends too, from picking them one by one in their house that located in reverse direction, until giving things that my husband himself needs and wants. Ah,again,it is very simple, but I think this is what is meant by the saying: "what the friends are for". I don't think I ever feel that one before.

Ah,this everything makes me realize that I am not the one who deserve to love my husband. In fact, he is surrounded by people love him. So when it is time for our first anniversary next week, I can no longer say I love you. An I love you is not enough. I'm lucky to realize how God has blessed you with sincerity, passion, smart brain, and cheerfulness.

Happy anniversary my husband, me and the whole universe love you very much.

*the picture is his first flower he ever gave to me as he said he would only give me flower when we already married :p

Tuesday, April 26, 2011

Ujian

Terhitung sejak tahun 2007, karena satu kejadian penting dan lainnya, aku meniatkan diri untuk selalu hidup dengan dasar kesyukuran, untuk terus menyadari dan mencari bukti kasih sayang Tuhan dalam hidupku, sehingga mengingatkanku untuk selalu ceria, berpositive thinking, anti mengeluh, tidak membenci dan iri terhadap nikmat orang lain. itu komitmen yang selalu kuniatkan.

Namun kadang, Tuhan tahu kapan saatnya manusia perlu diuji atas komitmen umat Nya.

Kira-kira sebulan yang lalu, tepat tengah malam pukul satu (okay, tengah malam harusnya pukul 12 yak?), hapeku berbunyi, seseorang menelponku. Karena benar-benar tertidur, antara sadar dan tidak, aku tidak mengangkat telepon itu. hingga dua kali. kemudian gantian HP Mas Anas yang berbunyi. Karena ak yakin penelepon itu adalah orang yang sama dengan yang menelponku tadi, aku meminta mas anas mengambil HP nya dan menjawab telepon tengah malam itu.

Benar saja, ternyata penelpon itu adalah Kakak mas anas yang berada di Malang, memberitahukan bahwa Mama (ibu mas Anas), terkena serangan stroke lagi (stroke pertama tahun 2008), dan sedang dibawa ke rumah sakit. Semua kantuk kami mendadak hilang seketika. sesaat setelah telepon ditutup, kami hanya diam terpaku, banyak pikiran yang mendadak mengantri dalam otak kami, sekaligus aku melihat raut kesedihan di wajah mas anas yang nggak bisa ditutupi.

Dan hampir tiap wiken sejak malam itu, kami pergi ke Malang untuk menjenguk Mama di rumah sakit. Kami selalu pulang ke Malang dengan penuh semangat dan harapan semoga kedatangan kami membawa kesembuhan bagi Mama, atau sekedar memulihkan ingatan Mama sepenuhnya. Meski seringkali, semangat yang tinggi itu mengelabuhi kemampuan fisik kami, hingga berujung pada demam dan flu tiap kali pulang dari Malang, tentu saja karena Jakarta-Malang (via Surabaya) dengan kereta yang memakan waktu sekitar 13 jam, plus dua jam bis dari Surabaya ke Malang ditempuh dalam 2 hari wiken saja, ternyata mampu menggoyahkan kekuatan fisik kami.

Hingga akhirnya dua kali wiken kami absen menjenguk Mama, selain untuk mengisi kekuatan fisik lagi, juga untuk menunggu dompet terisi lagi ;-) Mas Anas beberapa kali meminta maaf kepadaku, aku yakin dia juga nggak tau kenapa minta maaf...tapi yang jelas, kejadian ini membuat kami menyesuaikan beberapa mimpi di sana-sini, terutama tentang rencana-rencana kita di masa depan yang berkaitan dengan finansial *hayaahhh

Beberapa saat setelah Mama diperbolehkan pulang dari rumah sakit, aku mendapat kabar kalau adik laki-lakiku baru saja mendapat hasil CT scan (setelah merasa pusing yang tidak sembuh-sembuh), dan tim Sardjito dokter saat ini sedang proses "rapat" untuk mengambil tindakan (baca:operasi otak) dengan beberapa diagnosa kelainan yang harus segera ditangani. Melalui telepon, Ibu menceritakan detail gangguan yang dialami adiku karena penyakitnya itu, dengan beberapa kali terhenti dlm bercerita, tentu saja ibu menangis. Aku lantas berusaha membesarkan hati ibu, mengatakan bahwa semoga ini cara Allah memberikan surga bagi kita..mungkin kita belum punya cukup "poin" untuk lulus ujian masuk surga, sehingga kita diberi kesempatan ini. Dan tentu saja, mengatakan pada ibu untuk menganggap ini akan mudah,dan bahwa harta tidak dibawa mati (sebelumnya kita membahas perkiraan biaya operasi tersebut). Ibu mengatakan kalau senang mendengarnya, dan kami berusaha membahas hal yang lain (waktu itu ngomongin Indosat dan kucing di kosan! haha), dan telepon ditutup.

Meski terlihat sangat kuat dalam telepon, tapi tenggorokanku mulai tercekat ketika telepon ditutup, aku ingin menangis.

Dan sepertinya, saat ini kami harus ikhlas untuk bye-bye pada rencana-rencana kami di masa dpn... Aku dan mas anas memiliki tabungan di satu rekening khusus untuk menyiapkan mimpi masa depan kami tersebut,dengan label "apapun yang terjadi, rekening ini nggak akan tergoda untuk diambil". Tapi sepertinya, Mama, adik..dan keluarga itu lebih dari apapun. Semoga nanti dapat ganti yang lebih berkah dan banyak, amiiin.

Sepertinya, itulah cara Tuhan berbicara dengan kami, aku merasa tangan-tangan Nya sedang bekerja untuk skenario hidupku, untuk menyisipkan satu dan dua nilai kehidupan yang belum kumiliki... Aku dan mas anas bahu membahu mengingatkan untuk ikhlas, dan selalu berterima kasih atas segala nikmat kehidupan yang telah kita miliki. Inilah ujiannya, masih bisakah kami melihat nikmat dan kasih sayang Nya di tengah keadaan-keadaan ini? Masih ikhlas kah kami mengatakan "Tuhan, kami adalah hambamu yang selalu bersyukur" ?

Dan pagi itu,ketika berjalan kaki hendak menyeberang jalan menuju kantorku, aku melihat seorang perempuan berusia 40 tahunan dengan baju dan topi lusuh, tanpa alas kaki, menarik gerobak bertuliskan "beli barang bekas", berhenti di sampingku untuk ikut menyeberang. Dan setelah beberapa detik, dia menoleh ke arahku sambil mulai menyeberang: "Mari-mari nak...", aku menoleh ke arahnya dan masih ragu-ragu menyeberang (takut seperti biasa), dia berhenti di tengah jalan dan mengatakan "Mari nak menyeberang bareng ibu...", aku baru tersadar dan mulai menyeberang dengan cepat-cepat... Muka ibu itu terlihat sangat ceria, aku merasa dia tersenyum dengan sangat ringan dan mudah, seolah senyum itu selalu ada di wajahnya...

Ah.... di tengah usahaku menguasai hati dan pikiran supaya selalu berbaik sangka kepada Mu, lagi -lagi aku merasa Tuhan sekali lagi sedang mengajakku berbicara melalui ibu-ibu tadi. Raut wajahnya yang ringan, mudah tersenyum, ringan memberi bantuan...aku merasa sedang di dekat orang yang selalu bersyukur atas tiap keadaan, walaupun "hanya" mengandalkan uang dari barang bekas, walaupun terus mengais di bak sampah rumah mewah di Menteng, walaupun berpakaian lusuh, walaupun selalu berjalan tanpa alas kaki....

"say:"nothing can happen to me except what Allah has ordained for me, He is our Master. It is in Allah that the believers put their TRUST" " (At-Tawba 51)

Doakan mama dan adik cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala ya bloggers......

Banyak penarik gerobak pembeli barang bekas seperti ini di jalan-jalan sekitar Menteng.
Seorang teman bule ku pernah bertanya kepadaku: "What? mereka membeli barang bekas dari orang-orang kaya di sini? kenapa orang-orang kaya itu nggak memberinya aja?"

PS: Mas Anas yang saya sebut2 di atas adalah suamiku, lupa njelasin, hehehe

Monday, March 7, 2011

Rasanya Menikah

Hehe,geli juga kalo membaca ulang judul blog ini: Rasanya Menikah. Tapi itulah pertanyaan yang belakangan paling sering kudengar tiap ketemu orang-orang, sejak menikah sebulan yang lalu (yaiks,udah sebulan aja): "Gimana rasanya nikah?". Biasanya aku akan kebingungan menjawab pertanyaan itu, dan pengin bertanya ulang meminta pertanyaan yg lebih spesifik, misal dia mau tanya pestanya, akadnya,persiapannya, atau malem harinya (bukain kado maksudnya, hehe), tapi seingatku jawaban yang selalu keluar dr mulutku hanyalah: "hehehehe". Sungguh jawaban yang tidak memuaskan.

Nah oke, untuk menjawab pertanyaan itu, mungkin aku bisa ceritakan beberapa cerita yang bisa kuceritakan (mbulet).

1. Hari H
Alhamdulillah ketika hari H, ketegangan tidak seperti yang kubayangkan. Semua berjalan smooth, kebisingan orang2 yang bertanya tentang ini itu juga tidak terjadi. Bahkan ketika periasku bilang "mbak ini siap2 ya, konde untuk jilbabnya akan terasa berat", tapi ketika dipasang...voila, aku gak merasakan apa2, ringan! Apalagi ketika kulihat wajahku di cermin, cantiknyooo! (hahahaha,okee,aku janji narsis skali ini aja, jangan berhenti mbaca yak). Selama acara berlangsung, aku dan si mas saling memastikan bahwa kami tetap tersenyum,selalu tersenyum sepanjang waktu, selain untuk menghormati tamu, juga karena kami meng-hire fotografer candid (hehehe). Tapi ternyata cara untuk "sadar senyum" ini efektif untuk menjaga keceriaan sepanjang acara. dan benar saja, di akhir acara, aku bilang pada keluargaku kalau aku sama sekali nggak merasa capek, dan jawaban mereka simpel: "tentu saja, orang bahagia mana ada capeknya".

Nah, kayaknya kunci utama untuk tampil fit dan prima saat menikah hari H adalah: settinglah hati anda supaya tetap bahagia!

2. Hari hari pertama menikah
Dari beberapa blog yang kubaca, ternyata hal ini terjadi juga pada pasangan muda lainnya: belum menyadari kalau sudah hidup bersama! Beberapa diantaranya misalnya, masih menyebut pasangan dengan istilah "pacar" intead of "suami/istri", masih kaget2 ketika keluar kamar mandi dan ada orang lain di kamar, bahkan lebih cepat untuk tidur jika saling memunggungi daripada berhadap2an, haha.

Daan...itu terjadi juga pada kami.. jadi kayaknya untuk yang satu ini, aku gak bisa ngasih saran seharusnya gimana :))

Sesaat setelah akad nikah selesai dilangsungkan, petugas KUA bertanya kepada mas: "Apakah anda sudah punya istri?", dan dengan spontan mas menjawab: "belum", lalu petugas KUA nya berkata: "naah, baru aja nikah, udah lupa kalau beristri". hahaha, skak mat :))


3. Sakit
Seminggu setelah resepsi pernikahan, kami berangkat ke Jakarta. Aku merasa itulah masa sebenar2nya menikah, sudah tidak bersama bapak ibu dan papa mama mertua lagi, adik kakak, juga segenap pakde budhe om tante dan kakek nenek. Saat itulah kami mulai merasa menjadi satu pasang, bukan lagi satu-satu yang digabung. Suatu ketika, aku sakit sampai harus nggak masuk kantor. Dengan perasaan bersalah karena nggak bisa menyiapkan sarapan seperti biasanya, aku malah dibawa ke puskesmas (dokter terdekat dr kosan yang buka pagi hari itu). saat diperiksa itu, aku melihat mas mengirimkan sms kepada atasannya, meminta izin masuk siang karena memeriksakan istri ke dokter. dan kejadian pagi itu, cukup membuatku berjanji untuk sekuat tenaga menjaga kesehatan. (oh ya, OOT, ternyata memeriksakan di puskesmas itu gratis tis..lengkap dengan obatnya, dan...sembuh!)

cuma pose, hehehe
4. Kesepian
Selain itu, menikah juga lebih mudah membuat kita merasa kesepian kalau di rumah sendirian, dari makna sebenarnya (baca: kangen), sampai kejadian-kejadian sepele. Misalnya, dapur di kosan kami berada di lantai 1, sementara kamar kami di lantai 2. Sebisa mungkin aku memasak ketika mas belum pulang, atau sedang ke masjid, kecuali kalau memang kita berencana memasak bersama mencoba resep baru (hehehe, untung mas seneng masak juga). Tapi semalem aku masih masak saat mas udah pulang. Dan saat sedang memasak itu, ak mendengar suara langkah kaki menuruni tangga. Ternyata mas turun menghampiriku sambil brgumam "di atas sendirian...". hahahaha *I'm blushing :D*gambar diambil random

Daan..begitulah cerita kami diawali. Semoga Allah menghimpun yang terserak di antara kami, memberkahi kami berdua, meningkatkan kualitas keturunan kami, menjadikan kami pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah, serta pemberi rasa aman dan tentram bagi umat. Amiin. (doa yang nyontek).

Yang terpenting dari semua itu, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang menyadari betapa besar kuasa Tuhan yang telah menjodohkan manusia, dan betapa maha kasih sayangnya Tuhan dalam hidup kita dengan menumbuhkan cinta kasih diantara manusia yang begitu banyak jumlahnya di dunia ini. Subhanallah.

Wednesday, February 2, 2011

Persiapan Menikah

Akhirnyaaa aku menulis juga posting ini dengan judul yang vulgar...nah, jadi ternyata sodara-sodara, menikah itu emang perlu persiapan (yaelah, baru nyadar win? :p). Maksudku gini, sejak awal konsep pernikahan kami (olalaa udah pake kami-kami an aja sekarang), adalah pernikahan sederhana, mengundang orang dekat, menjamu dg sederhana, bersalaman, dan pulang, diperkirakan total waktu 1,5 jam maksimal dengan undangan yang tidak begitu banyak.

Sejak awal aku meyakini bahwa semuanya akan biasa saja, saya tetap bekerja setiap hari, tetap tinggal di kosan seperti biasa, dan tetap bermain kesana sini.. Tapi ternyata, suatu ketika jerawatku mulai bermunculan, tiba-tiba sakit sering perut (bisa jadi maag sih), dan yang paling kelihatan adalah sariawan! :D Maka,untuk pertama kalinya aku takjub dengan diri sendiri: wow,mungkin saya stress juga! haha :))

Nah, supaya tidak beralut-larut dalam jerawat dan sariawan, mari kita tuangkan semuanya ke dalam tulisan, biar lebih produktif dan jadi kenangan :-)

Apa saja persiapan menikah itu (yang udah saya lakukan)?
1. Belajar
Ibarat mau ujian, aku dulu menyengajakan untuk belajar dari buku-buku dan internet tentang menikah, baik itu tentang hak dan kewajiban suami istri, psikologi nya dan juga biologisnya ;-) Pokoknya seperti belajar "Married for Beginners" lah, hehe. Maklumlah, aku benar-benar belajar dari nol sejak diajak nikah *malu*. Untungnya ada beberapa teman yang udah nikah, jadi bisa tanya tanya, juga krn aku mau nikah, trus ada yang ngasih buku "Menjadi Pengantin Sepanjang Masa" (yeaah), trus berburu diskonan di Ulang Tahun Gramedia, dan sampai dibela2in beli buku online karena harganya diskon 20 %. Itu prosesnya, mengenai hasilnya kayak apa, mohon doanya teman-teman yaa semoga sukses;-) Dan buat yg mau kasih tips n trik, mash terbuka lebar diterima, hehe.
Tips: kalau emang udah pengin nikah, belajarlah dari sekarang, jgn SKS-an kayak saya :D

2. Urusan KUA
Nah ini cukup menyita perhatian kami karena kami tinggal di Jakarta, si mas asli Jawa Timur, dan kami akan menikah di Jogja! Mantep kan? alhasil, kami mengandalkan jasa pengiriman untuk mengirim dokumen (foto, KTP, kartu keluarga, surat pengantar KUA di Jawa timur) dikirim ke jakarta, ditandatangani, dan dikirim lagi ke Jogja untuk diurus di KUA jogja. daan bisa ditebak, ditengah-tengah itu ada masalah pengiriman, maka kami kirim ulang karena dokumen pertama nggak nyampai, haha. Kami memang berniat untuk meminimalisir pulang kampung untuk menghemat biaya. Seingat kami, dalam proses persiapan ini, kami hanya pulang beberapa kali, yaitu 1. Kenalan dengan orang tuaku, 2.Lamaran (ya, mudik berikutnya langsung lamaran), 3. Kunjungan ke Tuban (menjawab lamaran). Awalnya kami fikir ini sudah cukup, tapi ternyata kami harus mudik ke Jogja sekali lagi kemarin karena ada Verifikasi dari KUA terhadap calon penganten, daaannn ternyata dalam verifikasi itu yang harus kami lakukan adalah: tanda tangan saja! (haha, kirain mau diwawancara penuh keseriusan atau diperiksa kadar kegantengan dan kecantikan kami, tiwas udah dandan *bercanda*)
Tips: berbeda dengan tips poin nomor 1, untuk tips urusan KUA ini, jangan ngurus di KUA dr sekarang kl belum tau kapan nikah atau belum tau nikah ma siapa, hehe. Prosesnya gampang kok, asal gak kayak bus AKAP aja (Antar Kota Antar Propinsi) :p

3. Tes Kesehatan Pra Nikah
Ini sebagai syarat dari KUA di Jogja (kenapa di Jogja, karena aku ga tau apakah KUA lain juga mensyaratkan, soalnya temenku nikah di Jakarta belum ditanyain ttg tes kesehatan ini). Tes kesehatan ini bisa dilakukan di mana saja (ga harus di jogja) asal di puskesmas/rumah sakit negeri. Dan berhubung kemarin harus pulang ke Jogja untuk urusan KUA, maka sekalian lah tes kesehatan di Jogja, tentunya lebih murah. Di tes ini, kita dapat form "Tes Kesehatan Pra Nikah" (sebelumnya ngurus surat pengantar dulu dari kelurahan). Tes ini terdiri dari serangkain tes urine (untuk melihat kehamilan), darah, gigi, suntik imunisasi tetanus bagi calon perempuan, konsultasi gizi dan terakhir konsultasi psikologi. Saat menjalani ini, aku merasa, hmm..program pemerintah bagus juga ternyata...
Tips: tes kesehatan ini hanya untuk syarat administratif, kecuali kita emang pengin medical check up yg "beneran", mending cek aja di puskesmas, kalau di Laboratorium swasta bisa sampai 2 jutaan.

4. Ubo Rampe Pernikahan
Nah ini macem-macem,dari mulai undangan, suvenir, gedung, katering, baju, susunan acara, prosesi akad, dkk. No comment deh *tiba-tiba sakit perut, hahaha
PS: Ubo Rampe itu maksudku segala hal yang berkatian dengan pesta pernikahan, kalau arti sesungguhnya apa itu ubo rampe, aku nggak tahu :D

5. Cuti Nikah
Nah menurutku yang paling penting dari cuti nikah adalah: pastikan jadwal cuti kita dan jadwal cuti (calon)pasangan kita adalah sama...maksudnya, ngapain ambil cuti lama-lama kalau toh pasangan kita ternyata udah masuk kerja..bisa-bisa honeymoon tanpa honey ntar :D

Okee sepertinya itu dulu persiapan yang bisa (ingat) untuk diceritakan. Oh ya, kami juga telah membuat blog pernikahan di weddingannouncer.com (www.anas-wiwien.weddingannouncer.com). Sebenarnya kami cuma tau dari teman juga yang udah nikah dengan memanfaatkan website itu, tapi ternyata dari komentar teman-teman di buku tamu web kami, banyak yg bilang websitenya inovatif dan touching. Hehe, jadi mungkin bs dicoba ntar buat teman-teman yang berencana menikah juga, gratis kok websitenya!

Mohon doa teman-teman semoga rencana pernikahan kami lancar, dan pernikahan kami tersebut penuh berkah, penuh cinta, ketenteraman dan dirahmati oleh Allah SWT (sakinah, mawaddah, wa rohmah). Amiiiiin.

ps: gambar di atas diambil random dari Google, adalah gambar Halte Busway Dukuh Atas, tempat pertama kali kami bertemu kembali di Jakarta :p

Wednesday, January 19, 2011

Insya Allah Menikah

and with the warm heart and full smile, not to forget followed by submitting to God's will, I finally decide to accept somebody's plan to make a collaboration with the rest of my life...

*ternyata deg-degan juga nulisnya.

Daan..di antara posting blog ku yang sebelum-sebelumnya yang memang *gak*serius, mungkin postingan pertama di tahun 2011 ini menjadi yang paling serius sepanjang hidup saya.

Insya Allah saya akan menikah, teman-teman....

Saya tau mungkin akan ada beberapa pertanyaan yang muncul, dari pertanyaan "kapan" dan "sama siapa", hingga pertanyaan "kok bisa", hehe.

Mampir yaa bloggers....

http://anas-wiwien.weddingannouncer.com/

Mohon doa setulus hati semoga saya dan si mas mampu membentuk keluarga sakinah, mawaddah, wa rohmah dan mampu memberikan cahaya bagi kehidupan dunia akhirat. Amiiin.
 
Copyright 2010 Wien Wien Solution. Powered by Blogger
Blogger Templates created by DeluxeTemplates.net
Wordpress by Wpthemescreator
Blogger Showcase