Tuesday, December 31, 2013
Be Kind to The Unkind...
Monday, March 18, 2013
Investasi Akhirat
Begitulah perumpamaan kehidupann di surga, jika tanpa disertai sanak keluarga. Segalanya indah, tapi ada yang kurang.
Beberapa hal yang bisa kita upayakan untuk menjadikan anak sebagai investasi yang bernilai di akhirat adalah:
1. Jagalah setiap harta yang kita belanjakan, khususnya yang ditujukan ke anak kita (maksudnya pastikan bersih dan halal).Ada cerita tentang seorang suami yang istrinya sedang sakit dan harus menggendong2 anaknya yg menangis karena minta ASI. ada tetangga yang mencoba menawarkan asi nya, tp ditolak dengan halus. ternyata karena alasan dia tidak tau apa dan dari mana tetangga itu mendapatkan makanannya (yg berpengaruh kepada asi). kelak, bayi itu menjadi satu-satunya (?) orang yang menjadi imam di masijidil Aqsa dan Masjid Nabawi, namanya...lupa :p
2. Menjaga ucapan kita sebagai orangtua. Ada cerita tentang seorang ibu yang tengah selesai masak karena akan menyambut tamu-tamu di rumahnya. tiba-tiba anaknya yg maih kecil masuk rumah dari bermain di luar, dan menaburkan tanah ke atas masakan-masakannya. Ibu itu sangat kesal, tapi yang keluar dari mulutnya adalah "keluar sana dan jadilah imam masijidil harom!". Dan jadilah dia.
3. Sebaik2 pengajaran adalah teladan. Maka bersikaplah yang layak dicontoh oleh anak, setiap saat, sepanjang waktu (ini ada contoh ceritanya juga tapi lupa :p)
| Indahnya kehijauan kebun teh di Bandung, apalagi indahnya surga, apalagi bisa bawa anaknya . |
Wednesday, January 2, 2013
Resolusi 2013
![]() |
| gambar diambil random dari google |
1. Sholat di awal waktu
Sebenarnya malu nulis ini sebagai resolusi, karena sholat merupakan syarat pertama setelah syahadat bagi siapapun yang menyatakan diri sebagai orang Islam.jadi seharusnya semua orang Islam sudah mahir dalam menjalankan sholat. Tapi ya nyatanya sepanjang tahun 2012 kemarin sholat saya jujul-jujulan: sholat dhuhur kejujul ashar, sholat maghrib kejujul isyak. Beruntunglah kamu yang tidak tahu arti kata jujul dan kejujul, karena saya ga akan ngasihtau haha. Okelah, meskipun malu2, semoga belum terlambat bagi saya (dan kita semua), untuk memperbaiki keislaman ini dan tidak lagi tersindir ketika mendengar "Maka celakalah orang-orang yang shalat....", karena lanjutan dari ayat itu adalah "....yaitu orang-orang yang (tetap shalat, tetapi) lalai dalam sholatnya"
2. Disiplin membayar zakat 2,5% dari penghasilan saya dan suami
Resolusi saya dalam hal ibadah rasanya masih pada tataran wajib. Saya tau ini sederhana dan mudah, tapi bagi saya ini butuh tekad yang kuat dan gak mudah goyah #berima.
3. Mengumpulkan KUM total minimal 167 poin pada batch pertama tahun ini
Ini adalah resolusiku untuk urusan kerjaan di kantor. Buat para buruh pemerintah pasti tau apa yang dimaksud dengan dunia KUM ini. Buat yang nggak tau, ya gapapa, ak juga gak tau2 amat sih sebenarnya. Nah..menilik pengalaman dan tahun 2012 dimana saya jatuh bangun nyiapin KUM, maka saya beresolusi memenuhi angka KUM pada batch pertama tahun 2013 ini (kabarnya sih sekitar April/Mei). Sebagai deadliner sejati, KUM yang (secara teori) seharusnya dipersiapkan sepanjang tahun, maka kukerjakan dalam waktu seminggu saja. Selesai? iya selesai. Puas? iya puas banget. Hasilnya bagus? nah ituuuuuuu!!!! Pokoknya ga bakal diulang lagi deh kayak tahun lalu!
*btw KUM kepanjangannya apaan ya??
4. Melakukan Independent Traveling bersama suami dan anak (bukan perjalanan dinas)
Tahun 2012 lalu saya menyimpulkan bahwa perjalanan dinas untuk urusan kerjaan tidak dapat menggantikan perjalanan liburan yang dilakukan secara pribadi! Pengalaman saya 4 hari berlibur di Singapura bersama suami pada Februari 2012 (waktu itu amsih hamil), ternyata jauh jauuuh lebiiiihhhh berharga dan puasss jika dibandingkan dengan beberapa kali perjalanan dinas tahun 2012 ke Bali, Batam, Medan,dan juga Hanoi. Oleh karenanya, kemanapun itu, saya bertekad (mengumpulkan uang) untuk bisa melakukan perjalanan keluarga/liburan.
5.Mengisi kitchen set dengan seperangkat perabotan yang cantik
Nah ini resolusi untuk urusan rumah tangga di rumah. Sebenarnya resolusinya sederhana buanget sih, yaitu beli perabot cantik untuk ditaruh di dalam kitchen set. Namun rencana ini ketunda2 terus mengingat sebenarnya perabot yang seadanya (peninggalan dari jaman kos dulu) juga udah ada, dan tentu saja karena alasan budget constraint (alamak gaya bener bahasaku, bilang aja duit cekak). Nah rencananya, saya pengin beli set tempat bumbu, set tempat penyimpan cadangan bahan makanan, dan set gelas canti, disertai hiasan-hiasan bunga untuk dapur! Kemarin udah liat2 di Ace dan Informa, alhasil pulang ke rumah baru berhasil membawa kalkulasi harganya aja haha! perabotan masih ketinggalan euy!
Udah kayaknya itu dulu. Bismillah, dengan memohon berkah kepada Allah SWT untuk memantapkan hati, dan mengambil pembaca sekalian sebagai saksi, saya berjanji akan berusaha sekeras yang saya bisa untuk KONSISTEN dan menjalankan resolusi ini sepanjang tahun hingga Desember 2013. Insya Allah.
Nawaitu ---(bener gak sih nulisnya).
PS: tulisan ini spesial untuk teman2 Peace Generation, Aik, Nisa, Wiwit,Sony, Fikri, Dite, Aldy Tegos, Mere, Ranggi, Bimas,Dewi, Ratna,Astrid Ave,Dondi (daan semuanyaa) yang entah kenapa ketika mendengar "resolusi tahun baru", kalianlah yang terfikir di kepalaku. Mungkin karena pertama dan terakhir aku ikut duduk melingkar membuat resolusi tahun baru, adalah di rumahku di tengah malam di samping sawah (tahun 2008?). Dan saat itu masing-masing dari kita membuat resolusi yang tinnggi, yang keren, yang muluk-muluk, dan yang (ternyata) gagal. hahahaha. I miss that spirit of free hope, of the unlimited, of the power of dream, of buaya muda
Friday, August 31, 2012
Elegi Pagi Hari
![]() |
| Sumber foto: Media Indonesia, diambil dari sini |
Pemandangan paling menarik perhatianku ketika naik bis ini adalah adanya penumpang rutin yang baru naik dari Sudirman dan turun di sekitar jalan Diponegoro, jalan dimana kantorku berada. Mereka adalah Joki 3 in 1.
Seperti pagi ini. Di sampingku duduk seorang ibu paruh baya (maksudnya paruh baya apaan sih?haha), pokoknya dia berusia sekitar 40 tahunan, menggendong seorang bayi yang tertidur pulas, memakai kupluk dan di mukanya belepotan diberi bedak yang wangi baunya. Aku sangat yakin bayi itu masih kecil, jauh lebih kecil dari Aisha yang masih 4 bulan. Dan benar saja, setelah kutanya, usia bayi laki-laki itu baru 2 bulan.
Dari percakapan singkat kami, ada satu hal yang membuatku tercekat sepanjang pagi ini : "Masih nenen, bu?", dan si ibu menjawab "Iya masih, tapi saya kan joki, jadi saya tambah susu botol...", belum sempat saya cengok dan memberikan respon, si ibu sudah berpamitan mau turun "Mari mbak, saya turun di sini..."
Ibu itu lantas turun dan berjalan cepat-cepat menuju "posisi" nya menjadi Joki kembali. Tak henti-hentinya kupandangai bayi di gendongannya,sambil mendoakan semoga Tuhan melindungi masa kecilnya, hingga tumbuh menjadi manusia dewasa yang lembut hatinya. Semoga keberlimpahan kasih sayang selalu mengalir pada kalian, anak-anak kecil dalam gendongan joki.
PS: elegi berdasar KBBI berarti syair yang mengandung ungkapan duka cita *aku juga baru ngeh artinya :p.
Tuesday, January 10, 2012
Pesan dari Jalan
Beberapa bulan terakhir ini, aku ke kantor dengan jalan kaki dari kosan. Bukan karena ingin terlihat keren seolah berbudaya jalan kaki seperti bule *ya kali*, tapi as simple as karena ga ada kendaraan buat ngantor haha. Sejak awal kerja di sebuah kantor di bilangan Menteng, aku sangat memimpikan bisa tinggal di -kosan- di kawasan Menteng yang menurutku the best living environment in Jakarta. Namun sayang karena keterbatasan biaya untuk tinggal di Menteng sebelum nikah, maka terpilihlah kawasan elit lain di Jakarta sebagai tempat tinggalku: Salemba, yang berjarak sekitar 4-5 kilo dari kantor. Nah singkat cerita, sekarang, sejak menikah, aku tinggal di dekat kantor bersama suamiku, tinggal di sebuah rumah besar dan luas, setinggi dua lantai, milik......ibu kosku (biar sombong asal bukan rumah sendiri *sounds wrong*).
Menempuh perjalanan tiap pagi sepanjang 1,1 kilometer, cukup membuat ku sangat bersyukur karena berat badanku turun #eh karena setiap hari rasanya Tuhan tak berhenti memberikan kuliah-kuliah kehidupannya padaku.
Biasanya aku baru keluar dari kosan sekitar pukul setengah 8an, setelah membeli sayur di tukang sayur yang lewat, tapi lebih sering aku membeli sayur dalam jumlah banyak, jadi paling beli di tukang sayur tiap 3 hari sekali supaya lebih efektif *padahal malas*. Sepanjang jalan, aku akan bertemu tukang sayur lain yang juga sesekali aku beli kalau tukang sayur langganan belum lewat. Ketika berpapasan,biasanya dia akan menyapa "mbak e..", seperti sudah tau kalau aku udah beli dari tukang sayur yang lain, dan begitu saja..dia ikhlas membiarkanku berlalu tanpa membeli (*lha emang suruh gimana?).
Suatu pagi, aku menjumpai seorang bapak yang tiba2 mangkal di pinggir jalan depan masjid dengan dua pikulan keranjang berisi rambutan. kenapa aku bilang tiba2? karena biasanya tidak ada yang berjualan di situ. Melihat si bapak yang sudah sangat tua (usia 70 tahunan), karena salut atas kemauannya untuk masih mau bekerja, aku memutuskan membeli seikat rambutan seharga 6 ribu. Tadinya kubayar 10 ribu supaya si bapak bisa ambil kembaliannya, tapi akhirnya bapaknya malah meminta supaya ambil saja dua ikat rambutan dengan uang 10 ribu itu, buat pelaris karena rupanya aku pembeli pertama pagi itu. Dari percakapan singkat, ternyata dia datang dari pondok gede, didrop naik mobil di tempat yang berbeda2 bersama teman-teman pedagang rambutan yang lain.
Dengan dua ikat besar rambutan (plus daun-daunnya), aku mulai kebingungan akan kuapakan rambutan itu. Tidak mungkin kubawa pulang sepulang dari kantor karena seharian itu aku akan tugas ke Bogor sampai esok harinya. Ditaruh kantor pun terlalu banyak karena sebagian orang juga akan ikut ke Bogor. Di tengah kebingungan itu, aku melihat sekeluarga terdiri dari bapak, ibu, dan 4-5 anaknya dengan usia beragam, yang paling kecil sekitar 8 tahun, yang paling besar laki-laki mungkin 17an tahun. Mereka semua berjalan kaki, si bapak rupanya pencari barang bekas karena saat itu dia membawa karung sangat besar dan sesekali berhenti memungut bekas gelas aqua dan yang lainnya. Sementara anak-anaknya berjalan di depannya, diikuti ibunya. Beberapa anak mereka itu mengenakan kaos lusuh yang kebesaran, yang merupakan kaos-kaos "sponsor" karena semua nya ada tulisan perusahaan tertentu, mulai dari bank M*ndiri, produk cat, dan lainnya. Awalnya aku cukup menyangsikan apa yang dilakukan keluarga itu, kalau dilihat dari muka, muka si bapak dan ibunya cukup keras, dahi slalu berkerut, rambut berantakan, kulit gelap dan terkesan galak. Ketika tengah memperhatikan satu-satu wajah mereka, aku mendapati bahwa salah seorang anak yang paling besar, tidak memiliki kedua tangan. Wajahnya ceria nampak masih anak-anak badannya terlihat sudah dewasa.
Aku ingin memberi sesuatu pada keluarga itu, tapi ternyata uang terakhir yang kupunya adalah uang 10 ribu untuk beli rambutan tadi :)) *emang sengaja gak sedia byk cash di dompet *di atm juga enggak sih haha. Tapi masa pagi2 ngasih rambutan?? kan rambutan bikin perut perih dan penuh gas kalau belum makan... Tapi singkat cerita, aku memutuskan untuk memberikan rambutan karena cuma itu yang kupunya, yang surprisingly diterima dengan muka sumringah dari si ibu dan bapaknya, ternyata kalau tersenyum, aura galak mereka langsung ilang. Lalu kami berpisah, dan sesaat aku menoleh, bapak-ibu dan anak- anak itu berkerumun memakan rambutan tadi di pagi hari!
Aku lalu melanjutkan langkah ke kantor dengan sangat ringan, seolah ada sebongkah kebahagiaan yang baru saja kuterima. Perjalananku juga disambut senyum bapak-bapak penyapu taman yang kulewati. Bapak itu menyapaku sejak melihatku pertama kali jalan kaki beberapa bulan yang lalu, padahal juga nggak kenal :)) Pernah suatu pagi, kuberikan roti tawar yang baru saja kubeli dari tukang roti keliling. Aku inget banget waktu itu pertanyaan dia ketika kuberi roti itu adalah "Buat ibu gimana?". Mungkin dia tahu bahwa aku baru saja membeli roti itu dan mengapa malah kuberikan padanya. Dan sejak itu, bapak itu selalu menyempatkan menyapaku setiap aku melewatinya.
Pernah juga suatu ketika, aku berpapasan dengan bapak-bapak memikul papan-papan kayu sebanyak 8 buah, menjual alas kayu pencuci baju tradisional (tau kan?)...yang menghabiskan waktu 5 menit bagiku untuk mengetahui barang apakah yang sebenarnya ia jual. Kesetiaan si bapak menjual barang "langka" itu seperti menunjukkan keyakinan si bapak itu bahwa Tuhan selalu memberi rejeki dalam setiap usaha kita,seberapapun hasilnya...
Ah, jalanan ini sungguh menyenangkan...Tuhan telah memberikan kasih sayangnya sejak pagi melalui semangat para orang-orang yang banyak menghabiskan harinya di pinggir jalan.
Ps: gambar diambil di sepanjang Sunda Kelapa-Halimun
Monday, November 14, 2011
Kesungguhan Hati
Jadi kemarin aku dan mas anas pertama kalinya mengunjungi salah satu sahabat kecilku yang sejak 6 bulan terakhir tinggal di Jakarta timur, yang sampai sekarang membuatku sangat menyesal, kenapa tidak mengunjungi nya dari dulu, sejak pertama kali dia tiba di Jakarta ini...Dia di Jakarta untuk mempersiapkan seleksi pekerjaan yang akan dia lamar pada sekitar awal tahun 2012 nanti (dengan pertimbangan berbagai hal, identitas dia akan sengaja disamarkan). Aku tau dia sangat menginginkan pekerjaan itu, entah karena minat ataupun dorongan kebutuhan keluarganya. Aku hanya nggak pernah menyangka dia bisa se "niat" itu menjalani persiapan melamar pekerjaanya, dengan hidup sendirian di ibukota, berlatih ini itu sepanjang hari, dengan tidak ada jaminan lamaran pekerjaanya akan diterima.
Sebelum berangkat ke kosnya, aku menelpon dia terlebih dulu, sekedar untuk memastikan dia tidak pergi karena perjalanan ke kos dia cukup jauh, sehingga sayang kalau sampai sana ternyata dia pergi. Dia mengangkat teleponku dan memberi arahan sangat jelas kemana aku harus pergi dan tempat mudah untuk bertemu dia, suaranya sangat excited dengan kedatangan kami. Dan benar saja, dia sudah menunggu di pinggir jalan dan langsung menemukan kami dengan mudah ketika kami lewat. Mukanya sangat senang bertemu dengan aku dan mas anas, dia menjabat tangan kami, menciumnya dengan menempelkan ke dahinya *well, bukan mencium yak namanya :p. Lantas kami berjalan kaki menuju kosan dia karena kos dia tidak bisa dijangkau kendaraan.
Belakangan aku tau bahwa dia telah menunggu kami di pinggir jalan itu hampir setengah jam lamanya (kami terjebak macet luar biasa ketika hampir tiba di tempatnya), dan belakangan aku juga tau bahwa dia baru tertidur ketika aku sebelum kami berangkat..katanya dia lantas mandi, sholat dan siap2 menjemput kami di pinggir jalan.
Ketika memasuki kamar kos nya, aku semakin mengerti kesungguhan nya dalam usahanya mempersiapkan diri melamar pekerjaan. Aku tidak menjumpai apapun di kamarnya selain kasur, sajadah, satu lemari kecil setinggi perut, galon air, dan beberapa peralatannya mempersiapkan melamar kerja nya nanti. Aku sangat kesulitan membayangkan dia hidup dengan peralatan sedemikian minimnya di jakarta, tanpa teman, tanpa saudara, selama hampir 6 bulan hingga saat ini. Tetangga kosan nya pun didominasi oleh supir angkot dan pelayan toko, yang cukup menggambarkan berapa harga kosan yang dia sewa. Meski di tengah kesederhanaan yang sedemikian hebatnya, kosannya nyaman dan bersih, beberapa tetangga kosan yang kami temui pun saling bertegur sapa dengan ramah. Ah, inilah kehidupan yang sesungguhnya...
Di saat aku dan mas anas beristirahat di dalam kosannya, kami baru sadar kalau dia menghilang...maka kutelpon lah dia karena aku khawatir dia repot2 membuatkan minum atau upaya lain untuk memuliakan tamu seperti orang jawa pada umumnya. Dan benar saja, tak berapa lama setelah kutelepon, dia datang dengan membawa satu plastik berisi 2 buah kue sobek ukuran besar dan 1 plastik biskuit yang cukup untuk bersepuluh, serta beberapa aqua gelas yang kalau dihitung hitung harganya bisa lebih dari sepuluh persen harga sewa kosannya selama sebulan. Dia datang sambil mengucap "Ya..begini ini tempat tinggalku mbak..." ucapnya dengan senyum lebar basa-basi.. Ah..kamu sudah tumbuh cepat sekali..
Dia lantas bercerita banyak hal, tentang apa yang sudah dia lakukan selama 6 bulan di jakarta ini, betapa senangnya dia atas kemajuan usaha yang telah dicapai jika dibanding ketika dia masih di Jogja, dan betapa dia tidak kangen lagi dengan semua yang dia tinggalkan di jogja, karena dia cuma ingin fokus lulus pada ujian lamaran pekerjaannya nanti. Aku cuma bisa tercekat mendengarnya, betapa banyak hal telah berubah dari dia yang sebelumnya merupakan anak manja dan "urakan", anak usia 18 tahun yang dulu pernah terperdaya hingar bingar masa muda di masa SMA. Tuhan telah banyak berbicara padanya lewat perubahan jalan hidupnya yang drastis dan tidak disangka-sangka. Entah apalagi perjalanan spiritual nya, tapi kini dia taat menjalankan sholat, bahkan doa setelah sholat dia jauuuh lebih lama dari yang aku dan mas anas lakukan. Ah Tuhan, dia minta apa?
Untuk mengakhiri pertemuan kami hari itu, aku mengajak dia untuk makan malam di suatu tempat yang kira-kira dia ingin kunjungi, yang tentu saja dia tidak bisa menyebut nama-nama tempat di manapun karena dia memang tidak tau. Hanya ada 2 tempat yang pernah dia kunjungi, dan itu jaraknya kira-kira 2 KM dari tempat dia tinggal. Akhirnya kami membawanya ke Botani Square, Bogor, yang membuatnya bertanya "Bogor itu Pegunungan ya?", dan saat itu kami juga mengetahui bahwa dia belum pernah denger tentang Kebun Raya Bogor, tentang Jalan Sudirman Jakarta Pusat, tentang Car Free Day, tentang Gambir, dan mungkin tentang-tentang yang lainnya.
Ah Tuhan, sebagai apa hamba ini yang selama ini tidak membantunya membuka mata?? Kemana saja hamba ini sejak 6 bulan yang lalu ketika tahu dia berada di Jakarta?? Mengapa tak sedikitpun kebahagiaan kubagi padanya selama hampir setengah tahun dia hidup tanpa siapa-siapa di Jakarta??
Dan sungguh sejak sepulang dari kosannya malam itu, aku masih berjuang melawan rasa bersalahku telah "menelantarkan" dia selama ini. Apalagi karena akulah satu-satunya orang yang dia kenal sangat baik di Jakarta ini. Dan sambil berjanji pada diriku sendiri untuk mengajaknya pergi setiap ada kesempatan, aku mohonkan doa sepenuh hati semoga Tuhan memudahkan hidupnya, mendengar keluh kesahnya, memeluk lelahnya, menenteramkan hatinya, dan mengabulkan segala doa nya.
Dia pantas menerima kasih sayangMu yang Agung, Tuhan.
*foto diambil dari http://mrsigit80.blogspot.com/2011/09/kesederhanaan.html
Wednesday, October 19, 2011
Terlalu Sombong

Jadi ceritanya saya sedang diklat selama dua bulan di suatu kota di bilangan Jawa Barat *ceritanya nama dan tempat dirahasiakan. Berhubung lama diklat yang tidak bisa dibilang pendek, otomatis kami akan saling mengenal cukup dalam antara satu teman dengan yang lainnya. Termasuk salah satu temanku ini...
Dia seringkali menjadi penyelamat kami dengan bertanya kepada dosen di saat kami sekelas benar-benar tidak tau apa yang harus ditanyakan, entah karena sudah pernah mempelajari materi yang disampaikan, atau juga karena mengantuk dan tidak nyimak hehe. Tapi intinya, di saat kelas sedang sunyi senyap, dan dosen meminta kami untuk bertanya, hanya temanku itulah yang akhirnya mengacungkan jari dan bertanya.
Saat itulah kesombonganku mulai muncul, dengan memandang bahwa pertanyaan temanku itu "gitu doang", "nggak mutu" dan seringnya "nggak nyambung". Dan nggak cukup sampai di situ, setiap pendapat yang keluar dari temanku itu juga seringnya malah mengulang apa yang sudah disampaikan dosen, atau kalau enggak justru memberi pendapat dengan menanyakan apa yang baru saja disampaikan dosen, atau dihubung-hubungkan dengan hal-hal yang dia tau saja padahal sama sekali tidak ada hubungannya. Ok, sampai titik ini, aku udah cukup emosi, tapi yah sudah sebagai orang jawa yang baik (dan juga buruk), saya hanya memendam emosi itu tanpa berusaha meredamnya.
Sampai suatu ketika,ada kejadian yang mengakhiri zaman jahiliyah ku...
Di suatu sesi kelas, temanku itu (lagi-lagi) memberikan pertanyaan (atau entah komentar) kepada dosen dengan panjang lebar yang aku juga malas menyimak. Namun ketika dia nggak selesai-slesai bicara dan suaranya mulai terbata-bata, akhirnya aku tertarik mendengarkan apa yang dia sampaikan, sampai aku seperti mendengar petir geledek ketika dia bilang: "Oh, ini..maaf ya Pak karena sebatas ini saja yang saya tahu, yang lain itu di luar yang saya bisa".
Aku seperti digurui bahwa selama ini aku nggak pernah mencoba mengerti keadaan bahwa bisa jadi kemampuan temanku itu sebatas itu, bahwa kemampuannya untuk menangkap dan memahami ceramah dosen selama ini mungkin tidak semudah proses pembelajaranku dan teman-teman yang lain. Aku nggak pernah berusaha mengerti bahwa bisa jadi temenku perlu bantuan, atau kasarnya: temenku itu nggak sepintar kami! Tapi ternyata apa yang kulakukan selama ini? Menganggapnya aneh, dan aku justru nggak kepikiran untuk "memakai sepatu nya".
Dan sejak saat itu, aku jadi lebih berempati pada temanku itu. Dan ternyata banyak dari sikap-sikapnya yang ternyata telah hilang dari diriku.
Diantaranya, ketika kami ada tugas kelompok, dia menanyakan berulang-ulang kepada kami (aku dan teman2 di kelompok), tentang detail apa yang seharusnya dia lakukan,mengulang apa yang dia pahami untuk memastikan pemahamannya benar, dan meminta copy tentang apa yang sudah kami kerjakan sebagai contoh untuk pekerjaan dia. Dia seolah-olah takut melakukan kesalahan karena ini merupakan tugas kelompok. Dan ketika suatu ketika aku menjelaskan sesuatu padanya dengan kecepatan yang tidak kusadari (terlalu cepat), dia mengatakan "jangan cepat-cepat, saya mah masih pentium dua", di depan teman-temanku yang lain. Aku sungguh tertegun. Karena menyadari dengan sepenuh hati, betapa susahnya mengakui kelemahan diri di depan umum, yang sepertinya tak mampu kulakukan dengan mudah. Mendadak aku gelisah karena menyadari entah telah berapa lama dan seberapa dalam kesombongan menguasai diriku. Astaghfirullahal'adzim.
Dan,hari ini, ada yang membuatku kalah telak lagi. Dalam kerja kelompok penelitian, kami kesulitan untuk mengakomodasi masukan dari salah seorang dosen pembimbing, karena memang masukan itu berbeda dengan rumusan yang sudah kami putuskan. Sebenarnya masukan nya tidak signifikan, jadi akhirnya kami sekelompok memutuskan untuk tetap jalan dengan keputusan kami, dan mengabaikan masukan dosen tersebut. Dan di luar dugaan, temanku itu memberi ide untuk memasukkan usulan dosen itu di bagian kueosioner, dengan mengatakan: "masukin aja kali ya di kuesioner, efeknya ga begitu besar tapi biar masukan pak dosen didengarkan". Astaga, aku nggak menyangka temanku itu masih saja memikirkan bagaimana kami bisa mengabaikan masukan dosen dengan mudahnya. Ah, kemana saja telingaku selama ini??
Tuhan, hambamu ini telah berlaku sangat jahat pada makhluk-Mu yang tulus dan rendah hati.
*gambar diambil random dari google picture
Wednesday, July 6, 2011
Yang Menjaga Diri dari Meminta-minta
Pandanganku langsung tertuju pada penampilan bapak itu, kaosnya coklat muda (campuran hijau kusam dan coklat) dengan topi kain dan sandal jepit yang sudah "tepos" (sangat tipis karena sering digunakan), dan ternyata dia menenteng kotak kayu kecil yang bertuliskan "semir sepatu" lengkap dengan sandal jepit biru yg bagus dan bersih di dalam kotak tersebut. Entah kenapa hatiku tergetar melihat Bapak itu, dia berjalan dengan ringan dan sangat cepat, mungkin karena dia terbiasa berjalan setiap harinya. Dia berjalan jauh cepat mendahuluiku, sampai akhirnya kami terhenti bersama di palang kereta api ketika kereta akan lewat.
Waktu itu kereta sudah selesai lewat, tetapi palang kereta tetap belum dibuka. Meski demikian, tetap beberapa sepeda motor menerabas palang, dan semakin banyak saja yang ikutan menerabas walaupun petugas KAI berlari keluar gardu jaga berteriak2 mengingatkan kalau masih akan ada satu kereta lagi yang lewat. Di tengah aku cuma geleng-geleng kepala melihat kesemrawutan tersebut, bapak semir sepatu tadi ternyata berjalan mendekati kerumunan motor di baris depan palang kereta, mengingatkan mereka untuk tidak menyeberang rel karena masih ada satu kereta lagi yang lewat. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi aku cuma melongo melihat kejadian itu, hingga palang kereta itu dibuka dan Bapak semir sepatu itu kembali berjalan cepat dan menghilang di tikungan.
Dan Tuhan sepertinya masih memberiku kesempatan untuk dipertemukan lagi dengan bapak itu saat makan siang di belakang kantor hari berikutnya. Bapak itu berjalan menawarkan jasa semir sepatu di antara orang2 yang sedang makan, atau tepatnya berkeliling2 di antara orang2 yang sibuk makan dan tidak menggubris kehadirannya--Bapaknya juga tau diri untuk tidak random menawari semua orang, hanya orang2 yang terlihat tidak ngobrol/terlihat tidak menunduk serius makan. Waktu itu belum ada seorangpun yang menyemirkan sepatu padanya, hingga dia sampai di depan tempatku makan, "Mbak mau semir sepatu?"katanya sambil tersenyum sangat lebar, meski wajahnya pucat dan lesu.
Dan singkat cerita, dia sudah selesai menyemirkan sepatuku dan meletakkan sepatuku di bawah kakiku (*aneh rasanya ada orang menunduk naruh sepatuku gini). Sesaat saat itu juga aku langsung bilang, "makasih Pak" walaupun belum membayar, dan Bapak itu membalas "saya yang makasih Mbak". Maka bisa ditebak, ketika aku mengulurkan uang, mukanya senang sekali dan langsung nyerocos mendoakan kebaikanku dan rejekiku, dengan segala kesyukuran yang terpancar di wajahnya.
Ahh....lagi-lagi ada yang bergejolak dalam diriku. Di tengah hingar-bingar kota Jakarta dengan segala kemewahan dan kebutuhan hidup yang tak ada habisnya, ternyata ada orang yang mencukupkan diri dengan apa yang dia terima. Dia melakukan apa saja yang dia bisa untuk membuktikan bahwa kasih sayang Tuhan tidak terbatas bagi mereka yang bekerja nyaman di ruang ber-AC, bagi mereka yang punya modal, bagi mereka yang pintar dan dianugerahi keberuntungan mendapatkan kemudahan rejeki.
Ah, orang-orang seperti itulah yang seharusnya kita beri rejeki... Orang yang tidak dianugerahi nikmatnya pekerjaan seperti layaknya kita, tapi terus berusaha...yang selalu menampakkan syukur di wajahnya...yang sebenarnya selalu kekurangan, tapi menahan diri dari meminta-minta....
Friday, November 12, 2010
"Alhamdulillah, Terima Kasih Banyak..."
Salah seorang penjual berhasil menyita perhatianku selama berhenti di lampu merah itu. Dia berdiri dekat dengan gerobaknya di trotoar jalan, merapat pada payung yang dia letakkan di atas gerobak, meski demikian, tentu saja kaos bagian belakangnya tetap basah kena percikan hujan yg terus menerus. Pandangannya lurus ke arah kami, ke arah kendaraan yang berjajar berhenti di jalan,mukanya terlihat tenang, tidak kemrungsung, tidak pula emosi (beda dengan kami yang mungkin wajahnya akan terlihat emosi/jengkel krn macet). Pandangannya terlihat sangat fokus kepada kami, memperhatikan kalau2 ada gerakan sedikit dari kami yang mengarah pada "Pak beli satu, Pak". Tapi tidak, tidak ada yang memanggilnya, yang mengacungkan jarinya/melambaikan tangan untuk memberi perintah dilayani beli bakpao. Dan melihat muka bapak itu, dia sangat tenang dan damai, seolah dia memaklumi kami yang tidak mau membeli bakpaonya, sangat menyadari bahwa mungkin kami tidak lapar, kami malas kehujanan menjulurkan tangan memanggil bakpao. Sama hal nya denganku, memakai mantol di atas motor, membuatku sangat kerepotan untuk mengambil dompet dari tas, merubah posisi mantol yg bisa membuat air akhirnya membasahiku, dan tentu saja, aku sedang tidak lapar atau apalagi kepingin Bakpao. Ah..tapi bapak itu hanya memandang kami dengan tenang, matanya tetap lurus memperhatikan kami dengan seksama, hatinya tenang walaupun nampak raut pengharapan dari wajahnya.
Dan beberapa detik sebelum lampu hijau, akhirnya kuputuskan untuk melambaikan tanganku, lalu mengacungkan satu telunjuk, sambil mulutku berintonasi jelas, tanpa bersuara (krn ga akan dengar) "rasa kacang hijau", kataku. Dan benar saja, Bapak itu langsungggggg bergerak seperti kaget, membuka panci tempat bakpao dikukus, cepat2 mengambil kertas pembungkus bakpao, dan BERLARI ke arahku, karena saat itu sudah lampu hijau. Dari jarak beberapa meter dia sudah melihat bahwa aku mengeluarkan uang 10 ribuan, maka dia menuju ke arahku sambil merogoh saku2 nya untuk memberi ku kembalian (aku udah tau kalau harga satu bakpao = 5 ribu).
Dan ketika akhirnya dia tiba di tempatku, menyerahkan bakpao, dan kuserahkan uang sepuluh ribuan dg mengatakan "Ambil kembaliannya, Pak", spontan dia langsung berucap "Alhamdulillah, terimakasih banyak mbak.." sambil memberikanku wajah yang sangaat cerah, yang cahayanya memasuki hatiku hingga membuatku sangaat bahagia, jauuh lebih bahagia dari terakhir kali aku menerima uang yang berpuluh2 kali lipat lebih banyak jumlahnya.
Friday, November 5, 2010
Telepon Ibu
Baru saja aku telpon ibu. Semalam, tivi-tivi menyiarkan siaran langsung mengenai letusan Merapi di tengah malam. Suasana jalanan di jogja terlihat sangat padat, orang2 mengenakan Mantol yang tertutup abu, dengan motor penuh abu, kaca mobil juga ber-abu. Ku-sms orang tua dan adik-adikku di Jogja, tidak ada yang membalas. Kutelp juga tidak diangkat. Hal itu justru membuatku sangat tenang, karena aku yakin mereka tengah tidur. All is well. Dan lagi-lagi aku kembali harus meyakini bahwa Media tidak cukup meng-cover both side, yaitu walaupun 20 KM dari puncak Merapi adalah wilayah bahaya dan harus dievakuasi, tapi Media tidak mengatakan bahwa masih ada 50 KM lebih di Jogja yang masih aman, yang tidak sebahaya itu. Dan benar saja,pagi tadi Ayah, Ibu dan adik2 beruntun membalas smsku, mereka bilang sudah di sekolah, masuk seperti biasa. All is well.
Dan sambil memakan sarapan pagiku yang telat beberapa menit lalu, aku telpon Ibu. Suaranya tidak begitu jelas karena ibu pakai masker di dalam rumah, dan ternyata seluruh sekolah diliburkan,ibuku sudah pulang, ayahku dan adik adikku sudah di rumah juga. Memoriku langsung berlari pada tahun 2006 saat gempa Jogja dimana kami serumah cuma bisa berdiam duduk di teras semalaman, walaupun mulut kami bercerita tentang apa saja, tapi hati kami tak berhenti gemetar mengingat-Nya, itu terlihat dari muka kami yang sangat pucat pasrah dan tidak fokus pada pembicaraan yang sebenarnya hanya untuk "nylamur" itu. Dalam telponnya tadi, ibuku mengatakan "agak seperti itu suasananya..", ketika aku bilang teringat tahun 2006.
Aku teringat, tahun 2006 itu banyak hal tidak mungkin,ternyata bisa terjadi. Aku nggak mau menampik fakta bahwa sebagian masyarakat Jogja masih menganggap "selagi ada Raja, Jogja akan baik-baik saja". Tapi toh, gempa itu juga merusak sebagian Kraton. Kami yang menganggap bahwa kami kuat, bisa melakukan apa saja, membantu korban Tsunami di Aceh yang jauh pun kami bisa, tapi tahun 2006 itu bahkan kami tidak bisa membantu tetangga kita sendiri, bukan karena tidak mampu lagi memberikan apa yg kita punya, tapi karena ada yang mengunci lutut kita,lemas, shock, kaget, tak menyangka kejadian ini bisa menimpa kami.
Perlahan, kami-atau mungkin tepatnya aku, mulai menerima fakta bahwa banyak hal di luar kuasa kita. Ah ya, tau maksudku kan? Betapa banyak kita telah belajar tentang percaya kepada kuasa Tuhan, tentang Iman, dan bahkan mengatakan bahwa bahwa kita Islam (yang berarti "submission", penyerahan diri) masih saja terkaget-kaget dengan tanda-tanda dari Yang Kita Imani. Atau lebih parahnya, ternyata justru tanda-tanda alam seperti itu yang membuat kita tertunduk lagi, patuh lagi, berserah lagi....
Tuhan,
Kiranya Engkau berkenan,
kuatkanlah keyakinan kami akan pertolonganMu,
akan kasih sayangMu lewat hembusan udara bercambur abu,
akan pengajaranMu tentang ingatan kami sebelum dilahirkan,
ketika Engkau bertanya "Apakah aku ini Tuhan-mu?"
dan kami menjawab "Benar, Engkau adalah Tuhan kami. Kami menjadi saksi"
Sehingga kami terus ingat janji kami, terus mengimani, dan berserah diri.
Namun Tuhan,
jika kiranya permohonan kami ini terlalu mewah bagi kami,
maka cukupkanlah kami dengan berucap laa haula wala quwwata illaa billaah.
Tuesday, October 19, 2010
Oleh Oleh dari Sana Sini
Ada banyak hal yang terlewati,entah karena kesibukan bekerja *dan bermain*, tapi lebih banyak karena meninggalkan jakarta selama sebulan terakhir ini, dan ini beberapa dari oleh2nya:
1. Palembang
Seorang teman mengomentari fotoku dengan "wah sempat ke BKB juga ya?" yang awalnya kufikir, for some*superclever*reasons, BKB kepanjangan dari BangKa Belitung
*btw gambar yang ada di samping tulisan itu Tugu Khatulistiwa, just in case ada yg penasaran :p
3. Manado
Hal yang paling menarik dari kota di paling ujung utara pulau Sulawesi ini adalah, tentu saja, BUNAKEN ;-)
Dan yang harus kuakui dengan jujur *dan dg sangat maluuuu* adalah awalanya kufikir Bunaken itu adalah pulau dengan pasir putih yang bersih, ombak kecil yang indah, angin sepoi yang semilir dan memiliki cottage-cottage ramai selayaknya di Bali dan Lombok (Ok, aku blum pernah ke Lombok sih). Tapiiii ternyata....Bunaken (hanyalah) pulau singgah untuk menyewa peralatan snorkling dan diving, tempat beli oleh2 kaos dkk, dan mungkin museum Taman Nasional Bunaken. Ada sih beberapa cottage, satu cottage sangaaattttt mahal dan lainnya cottage yang kurang layak. Ahhhh kecewaaa...
Tapi memang, keindahan taman lautnya membayar semua kekecewaanku...Jadi yang harus dilakukan utk menikmati Bunaken adalah menyewa kapal dari Pelabuhan Manado dan melakukan snorkling dan atau diving di taman lautnya.
Kata mereka ketika kami akan berpisah (kurang lebih begitu kata-katanya, tetapi mereka menggunakan campuran aksen Manado). Mereka adalah penumpang kapal umum yang pergi bersama kami, mereka datang ke Bunaken untuk datang di upacara Lebaran Ketupat.
"and finally: snorkling!"btw itu lagi pose buat foto aja ya, aslinya kalau snorkling badannya tengkurep :p
4. Puncak, Bogor
Thursday, September 2, 2010
tentang sebuah kegelisahan kecil ini
Sore itu aku pulang kantor tepat beberapa detik menjelang adzan maghrib. Karena saat itu aku sedang nggak puasa, jadi pulang saat jam maghrib adalah pilihan tepat, tentu saja karena jalanan akan sangat sepi. Ada beberapa orang yang lalu lalang di halaman kantor, kebanyakan dari mereka adalah para OB (office boy) yang membawa bungkusan2 plastik dan beberapa minuman pembuka puasa dalam gelas plastik (kolak, bubur biji salak, dll). Pasti mereka sedang dimintai tolong untuk membelikan makanan buka puasa oleh para atasan di kantor yang masih harus lembur.
Tepat saat aku berada di gerbang halaman kantor, adzan maghrib mulai berkumandang. Dari sisi trotoar di luar pagar kantor, kulihat seorang bapak OB, bertubuh kecil dan usia hampir 50an, yang awalnya jalan kaki, dan buru2 berlari cukup kencang ketika mendengar suara adzan pertama kali. Digenggamnya erat kedua bungkusan plastik besar di tangannya sambil terus berlari memasuki gerbang, melewati halaman dan masuk gedung kantorku. Ahh, tanpa dia katakan, aku sangat paham apa yang ada di fikirannya: keinginan yg sangat kuat untuk mengejarkan makanan berbuka bagi siapapun yang saat itu menyuruhnya. Dan mungkin dari sejumlah makanan itu, tidak ada yang dia beli untuk dirinya sendiri, mungkin dia sudah membawanya dari rumah. Dan mungkin juga, siapapun yang menyuruh OB itu, hingga saat ini nggak pernah tau kalau ada yang pernah berlari-lari untuknya, demi dia bisa berbuka tepat waktu.
Betapa sore itu, aku diajarkan kesungguhan dalam menunaikan tugas, menuntaskan pekerjaan, dan tentu saja, pelajaran tentang ketulusan pengabdian.
Dalam perjalanan pulang sore itu, tak henti-hentinya kutanya pada diriku sendiri, sejauh apa kesungguhanku dalam memenuhi tugas dari yang menyuruhku. setulus apa pengabdianku pada yang telah mempercayaiku. Terkadang aku merasa, bahwa negeri yang telah menyuruhku, memberiku tugas, dan mempercayaiku ini, cuma bisa pasrah, tanpa marah, walau mungkin sangat gelisah, melihat orang2 kepercayaannya tidak begitu mencintainya.
Tuhan, lindungi jalanku.
Thursday, June 17, 2010
Monday, May 10, 2010
Tinggal Minta
Saat itu pagi-pagi sekali, saat aku bangun pagi, mata masih kriyip-kriyip tapi sambil minum segelas besar air putih di ruang tengah, teman kos ku langsung menyapa dengan wajah sangat berbinar. Dia akhirnya bercerita kalau kemarin baru saja ditawarin kerja di tempat baru setelah beberapa bulan terakhir apply sana sini dan wawancara sana-sini. Uniknya, tempat yg menawarinya itu justru bukan salah satu yang dia apply dulu. Sebenarnya temanku itu pernah bekerja 4 tahun sbg accounting, tp terpaksa dia harus resign krn alasan yg memang menurutku jg harus resign. Nah, tiba-tiba aja, ada orang yang tahu kl temenku lagi nyari2 kerjaan baru, dan orang itu merekomendasikan ke perusahaan ini dan...ditawarin kerja lah temanku itu!
Aih, pas denger itu, rasanya merinding. Aku merasa dengan nyata kalau ada yang mengatur semua itu, temenku itu usaha sana sini, dan baru berhasil sekarang, tapi hasilnya justru dari tempat lain yang tidak pernah diduga. Memoriku langsung flashback, pada cerita bu guru saat SD, tentang Siti Hajar yang lari-lari di bukit gurun pasir selama 7 kali untuk mencari air, tapi justru air keluar dari pijakan kaki Ismail, dengan begitu saja. Dan benar saja, temanku itu menutup cerita dengan : "duh kayaknya yang penting kita usahaaa aja, urusan berhasilnya dari arah mana, itu pasti udah dijanjiin. kita Tinggal Minta...."
Malam harinya, seperti cerita bersambung, seorang sahabatku menelepon, kami bercerita kesana kemari dan saling update kabar karena memang kita terpisah ribuan kilo. Nah, salah satu inti ceritanya adalah dia sedang menunggu jawaban atas aplikasi magangnya di suatu tempat yang sangaaaaaaat ia inginkan dan impi-impikan. Dan sebagai orang yang telah mengenalnya bertahun2, aku paham betul kalau dia menginginkan sesuatu, pasti sudah tak terhitung usaha yang telah dia lakukan..pokoknya luar biasalah dia.. (hehe, ho'o ora to Mbak? kok aku lebay yo :p). Waktu itu dengan penuh kepasrahan, dia minta ke aku buat ikut ndoain semoga dia ketrima. dan teringat cerita teman kosku pagi harinya, maka kubilang lah pada sahabatku itu kalau "Kalau udah usaha ini itu, kita tuh cuma tinggal minta mbak...minta yang sebenar-benarnya, sampai rasanya hati kita yang minta, bukan mulut yg bicara...". Dan benar saja, beberapa jam setelahnya, dia menulis di wall FB ku:
"aku keterima magangnya Win :) baru dapet email nya beberapa jam setelah nelp kamu.. kekuatan doa emang bener adanya ya win..bener katamu, bener kata ibu ku..cuma tinggal minta...gak sampe sebulan, aku dapet...makasih ud ngingetin ya.." ---> hehe, bisa di cek di FB ku lah siapa ini :D
Huupff... di akhir mingguku ini, akhirnya kututup dengan bertanya pada diriku sendiri, tentang keinginan yang jika boleh ingin sekali kesampaian, ingin sekali terwujudkan. Kayaknya sekarang waktunya menasehati diriku sendiri: ya, aku cuma tinggal minta......
There is always A Shinning Hope.Kita cuma tinggal minta, bagi orang-orang yang percaya :)
-foto diambil agustus 2008
Tuesday, March 30, 2010
Ikan, Laron, Semut

Tapi bingung aku bingung
Aku senang aku senang
Tapi heran aku heran
Dan akupun bertanya
Pada semua ikan di kolam
Tidakkah kau mrasa bosan di situ
Dan dia pun menjawab
Tiada bosan walau berada di tempat sekecil ini
Karna ku di sini
Setiap hari
Bersama Tuhanku
Dan akupun bertanya
Pada laron-laron beterbangan
Buat apa kau hidup semalan
Dan dia pun menjawab
Tiada tersia walau hanya smalam aku hidup di dunia
Karna dalam semalam aku hidup
Kusebut Tuhanku
Dan akupun bertanya
Pada semut-semut di sarangnya
Tidakkah kau mrasa lelah bekerja
Dan dia pun menjawab
Tiada lelah walau spanjang hidup aku terus bekerja
Karna setiap saat
Dalam bekerja
Bersama Tuhanku
Dan aku bertanya pada hatiku
Sejauh apa hidup tanpa Tuhanku
Dan aku bertanya pada jiwaku
Selama apa hidup tanpa Tuhanku
Dan aku bertanya pada diriku
Sekeras apa kerja tanpa Tuhanku
Tuesday, February 9, 2010
yang setia menemani perjalanan
Hari ini aku pulang dari kantor lebih malam dari biasanya. Bukan karena aku rajin, tapi tepat ketika aku selesai merapikan meja dan tas, atasanku mengatakan kalau memesankan mie rebus untuk makan malam, bersama dengan 9 orang lain yang masih tinggal di ruanganku. Karena masih banyak orang yang tinggal (total di ruanganku hanya 16 orang), akhirnya aku dengan senang hati tinggal lebih lama di kantor, toh sesampai di rumah pasti juga mencari makan, fikirku.Sambil menunggu pesanan, ada beberapa pekerjaan yang kurapikan, tapi lebih banyak membuka berita2 di media online dan sesekali chatting.
Di pojok ruangan, di dekat pintu, duduk seorang bapak sedang membaca kompas hari ini. wajahnya terlihat sangat tertarik membaca halaman demi halaman, yang aku yakin hampir semua telah dibacanya karena sudah hampir dua jam bapak itu membaca koran tersebut. Aku tahu dia sedang menunggu, tapi sama sekali tidak tampak raut "kemrungsung" atau kesal di wajahnya. Dia tidak pernah melihat jam, atau tidak pernah pula melihat pintu tertutup di sampingnya, yang berisi seseorang yang ditunggunya, sejak dua jam yang lalu, atau bahkan sejak bapak itu datang ke kantor ini pagi-pagi sekali hari ini.
Dan dia lakukan hal itu setiap hari, dari pagi hingga malam. Setiap kali sembari menunggu, bapak itu rajin sekali menawarkan bantuan kepada kami untuk melakukan apa saja yang bisa dia kerjakan, dari membantu memfoto kopi, menyajikan makanan, menyambungkan telepon, sampai wira wiri sana sini mengantar dan mencari-cari surat. Jika sedang dibantu bapak itu, saya seperti selalu diingatkan untuk ringan tangan, mengutamakan orang lain, dan tidak mengeluh.
Bapak itu adalah supir direktur kami, bapak supir tersebut mengantarkan pak direktur yang datang pagi hari pukul 7 sebelum seluruh staffnya datang, dan pulang malam hari minimal pukul 7, setelah semua staffnya pulang.
dan hari ini, pukul 20.00, aku masih melihat bapak supir duduk di samping pintu direktur. kali ini beliau bersandar pada dinding, tertidur.
bahkan dalam tidurnya, bapak sopir itu masih mengajarkan padaku kesetiaan hati untuk mengabdi....
Wednesday, February 3, 2010
JOKI
Kapan ya jalan ini bersih dari praktik ini? Bukan sekadar bersih karena hilang, tapi bersih karena mereka punya tempat yang lebih layak di pagi hari, daripada di jalan ini. Tempat yang lebih layak bagi anak kecil yang rambutnya tersisir rapi sehabis mandi, bagi seorang ibu yang menggendong bayi (entah anak siapa), bagi seorang pemuda gagah yang (memaksakan diri) berdandan rapi, dan juga bagi bapak-bapak paruh baya yang mukanya sudah terlihat matang. Karena aku melihat mereka semua berdiri berjejer di pinggir jalan pagi ini (lagi). dan menurutku, mereka seharusnya berada di tempat lain yang jauh jauh lebih layak, bukan?
Tuhan..berikanlah orang-orang itu keringanan dalam menyambung kehidupan dari hari ke hari.
Atau Tuhan....berikanlah kekuatan yang lebih bagi orang2 di dalam gedung sana untuk memberikan pagi hari yang indah bagi setiap orang di negeri ini.
dan semoga, waktu tidak pernah membuatku lupa bahwa aku pernah membuat tulisan ini menjelang pagi hari, saat aku akan melihat mereka berjejer lagi.
(Amin).
Thursday, October 22, 2009
Salam dari Metrojaya!
Mungkin aku akan menceritakan beberapa hal yang terjadi akhir-akhir ini dalam poin-poin saja.
I. Perencana VS Jalani Aja
Akhir-akhir ini aku banyak bertemu dan lumayan bercakap dengan beberapa orang baru yang senasib untuk menjemput masa depan (haha, ya, baca: melamar pekerjaan). dari situ, setidaknya aku akan menggolongkan ada dua golongan pencari kerja : 1. tipe orang perencana, 2. tipe orang jalani aja. waktu itu aku sedang mengikuti seleksi di sebuah Tempat-Dimana-Orang2-Bertanya-Apakah-Aku-Yakin-Akan-Berkarir-Di-Sana, singkatnya sebut saja nama tempat itu TDOBAAYABDS (kok dilafalkan kayak tobyat yo? hehe). dan inilah pertanyaan standarnya: "yakin win?" , dan kujawab dengan lebih standar : "ya kan masih apply, coba-coba aja..". Orang yang sudah mengenalku pasti akan langsung tahu kalau itu bukan jawaban yang sebenarnya. Aku harus mengakui bahwa diriku adalah tipe perencana. Lamaa sekali bagiku untuk berkontemplasi menjawab pertanyaan-pertanyaan “yakin win?”itu. dan justru pada tes wawancara, dan pertanyaan itu muncul dari pewawancara, inilah jawabanku…jawaban yang sebelumnya tak kunjung kutemukan:
“Insya Allah, karena saya ingin mengabdikan diri secara maksimal melalui bidang yang saya senangi dan pelajari”. Dan aku masih percaya dengan keyakinanku bahwa bekerja, berkarir, adalah sebuah pengabdian dan aktualisasi diri. Aku harus mengatakan bahwa : it has nothing to do with money. Aku hanya ingin berkarya dan mengabdi. Dan pada akhirnya, bekerja karena pengabdian akan mendapatkan bayaran yang lebih kekal, bagi orang-orang yang percaya.
II. Pelajaran penting: 4 x 33 = 132, bukan 120
Waktu itu aku sedang berdiskusi dengan orang berwibawa dan dia sedang menilai pula kewibawaanu (yaelah). Diskusi kami:
Orang yang berwibawa: “Kamu tau kah jumlah anggota DPD?”
Aku: “kurang yakin pastinya…tapi tiap provinsi itu ngirim 4 dan ada 33 provinsi..”
(aku mengakhiri jawabanku kyk gitu karena kufikir ya semua orang pasti udah tau lah hasil perkaliannya, dan tak kusangka orang tsb kembali bertanya..)
Orang yang berwibawa: “jadi jumlahnya berapa?”
Aku: (ya gampanglah batinku…) “ya sekitar 120an Pak”—jawabku sekenanya,dg nada2 anak social yang tidak telaten berhitung (well, dasar akunya aja ding).
Orang yang berwibawa: “hmm…jadi…4 dikali 33 itu sama dengan 132 ya….” (dengan senyum penuh kemenangan).
Dan aku hanya bisa berkata sangat manis dalam hati : yaa…maksudku juga begitu—walaupun sebenarnya masih heran juga karena menganggap kalau 120 dan 132 itu GAK BEDA JAUH!
III. Menyesal
Aku baru aja bikin kesalahan besar. Aku membatalkan janji dengan orang yang meyakini aku akan memenuhi janji itu. Sebenarnya janji itu batal karena ada kecelakaan yang tak terduga, tapi tetep aja, aku yang berkontribusi utama atas batalnya janji itu. Dan dia tidak marah. Dia tidak menyalahkan aku. Rasanya aku sekejap pengin hadir di hadapannya, supaya dia melihat wajahku yang menyesal telah mengacaukan semuanya. Dulu dia pernah bertanya padaku mengapa aku mempercayainya, dan aku tidak mau menjawab waktu itu. Sekarang, aku harus menjawab bahwa, salah satunya adalah, karena “dia menawarkan kedamaian yang selalu kurindukan”.
salam hangat dari metrojaya,
-wien-
ps: aku baru tahu kalau metrojaya itu kepanjangan dari Metropolitan Jakarta Raya..^^
Monday, October 12, 2009
Meyakini Jalan Kehidupan

Beberapa hari terakhir ini, aku berulangkali diberitahu adanya kecurangan di beberapa tempat yang tidak kuduga sehingga merugikan pihak-pihak yang tidak diajak berbuat curang.
Awalnya aku menganggap bahwa kecurangan tidaklah mungkin terjadi di tempat-tempat seperti itu. Toh teman-teman yang memberi tahuku itu juga tidak melihat dengan mata kepala sendiri, dan tidak mengalaminya sendiri. Mereka hanya : "katanya...", "biasanya...", "ya jelas lah gak perlu bukti lagi...". Tapi hati nuraniku berkata, aku harus jadi orang yang akademik, yang menentukan iya atau tidak karena bukti yang nyata (kata dosenku, bukan hanya asumsi, tp lengkap ditulis footnote nya, hehe).
Jadi, singkat cerita, aku tidak percaya semua itu di atas. Aku hanya mau meyakini bahwa setiap manusia pada dasarnya akan menjalani kehidupan berdasarkan apa yang dikatakan hati nurani. Dan pada akhirnya, kejujuran lah yang mampu memberi ketenangan yang kekal.
Haha, aku terlalu idealis ya?
Maafkan aku.
Tapi aku yakin, aku nggak sendirian. Aku percaya masih banyak orang di negeri ini yang memiliki harapan akan kejujuran sebagai dasar dalam segala kehidupan.
Dan aku akan bersama-sama mereka. Yang percaya bahwa episentrum kehidupan adalah konsistensi. Yakni, mereka yang secara konsisten meyakini bahwa kehidupan adalah pengabdian yang terus menerus. Oleh karenanya, kita harus memberikan yang terbaik, tanpa noda kecurangan sedikit pun. Ingatkah kau akan pepatah bahwa siapa yang menanam, dia akan mengetam?
Friday, October 2, 2009
Senja Utama
Malam itu, aku pulang ke Jogja dengan kereta Senja Utama dari Jakarta. Ketika tiba di Stasiun Senen, seorang temanku langsung bilang :"Bandingkan dengan keadaan di Stasiun Gambir, beda kan...?". Lepas dari perbedaan fisik seperti kebersihan dan keteraturan, hal pertama yang langsung kurasakan adalah tingginya tekanan hidup yang dialami orang-orang di sana.Well, apa yang kemudian terjadi emang merefleksikan pikiranku. Beberapa meter dari situ, kami melihat seorang bapak, mungkin sekitar 35 tahunan, ia membuang berlembar2 uang seratus ribu dan lima puluh ribu ke arah badan seorang perempuan yang menggendong anak kecil. mungkin istrinya. entah apa yang mereka teriak-teriakkan. tetapi orang-orang di sekitar situ hanya melirik, tanpa ada yang mendekat dan melerai (termasuk aku). ho ya, what do I expect?! ada orang datang dan "ngaruhke" apa yang terjadi? (emang Lu pikir ini Godean!)
Di dalam kereta, aku memang sudah berniat untuk TIDUR! selain karena kurang tidur beberapa hari sebelumnya, juga karena sudah ada janji jam 7 pagi di Jogja.
Meski begitu, tidurku "terganggu" banyak hal,yang mungkin sebenarnya juga "mengganggu" banyak orang di kereta senja itu. Malam itu, aku malu pada peminta-minta dan pedagang kaki lima di sepanjang malam di kereta senja itu.
Awalnya kupikir, aku akan sangat terganggu dengan kehadiran mereka. Hingga berlagak seperti anak manja, aku berkali-kali menolak naik kereta senja karena takut. Tapi ketika pertama kali naik, aku SANGAT SALUT dengan kegigihan mereka menawarkan barang dagangannya, meladeni orang yang menawar barang dengan tetap lembut dan tidak ada nada emosi, serta kesungguhan hatinya mencari rejeki hingga larut sekali. di setiap stasiun yang kereta senja berhenti, pasti ada pedagang yang masuk, jam berapapun itu, dari jam 9 malem, 11, bahkan jam 1 dan jam 3 malem! dan kau tahu? mereka menjajakan dengan nada yang sama, tetap keras, tetap semangat, dan sungguh seolah memperlakukan bahwa kami--para penumpang kereta yang sering ngumpat2 mereka---adalah raja.....
Aku tak mau mengatakan bahwa mereka hanya bekerja untuk uang dan karena tuntutan ekonomi. motivasi itu pasti sangat picik dan terlalu kurang untuk menghadapi kerasnya berjuang mencari rejeki di kereta senja.
aku melihat bahwa ada semangat lain dalam mereka bekerja. awalanya aku mengira orang-orang seperti itu hanyalah orang yang pasrah, yang "yah mau gimana lagi", dan orang-orang yang tidak punya pilihan. tetapi semakin sering aku mengamati mereka, aku belajar banyak bahwa mungkin orang-orang seperti itu yang dinamakan "narimo ing pandum", yang menganggap pekerjaannya adalah ibadah, yang bersyukur atas kehidupan yang dimilikinya.
Mereka selalu senang melayani kami, senang ketika kami melirik ke arah dagangannya, dan langsung tersenyum ramah bahkan ketika kita baru menanyakan "apa itu?".
Setiba di Stastiun Tugu, aku dijemput ayah yang ternyata sudah menunggu satu jam. di jalan pulang kami berpapasan dengan tetangga kami yang bekerja sebagai polisi. Padahal waktu itu baru pukul 6 pagi. Ayahku kemudian bercerita kalau tetanggaku itu, sebagai polisi, sangat rajin dan disiplin. Kalau dia dapat jadwal jam 7 pagi, dia pasti sudah sampai kantor setengah jam sebelum jam7, walaupun katanya dia bisa saja datang jam 7 dari rumah dan tiba telat-telat sedikti. "Kenapa?" tanyaku. dan ayahku menajwab, "ya katanya itu bagian dari dia mensyukuri pekerjaannya".
ah aku malu seberapa kesyukuran yang sudah kulakukan dengan hidupku, dengan pekerjaanku.
Kereta senja, semoga keteduhan dan kelapangan jiwa selalu memberi cahaya bagi orang-orang yang berjuang di dalamnya.




