Wednesday, October 19, 2011

Terlalu Sombong


Jadi ceritanya saya sedang diklat selama dua bulan di suatu kota di bilangan Jawa Barat *ceritanya nama dan tempat dirahasiakan. Berhubung lama diklat yang tidak bisa dibilang pendek, otomatis kami akan saling mengenal cukup dalam antara satu teman dengan yang lainnya. Termasuk salah satu temanku ini...

Dia seringkali menjadi penyelamat kami dengan bertanya kepada dosen di saat kami sekelas benar-benar tidak tau apa yang harus ditanyakan, entah karena sudah pernah mempelajari materi yang disampaikan, atau juga karena mengantuk dan tidak nyimak hehe. Tapi intinya, di saat kelas sedang sunyi senyap, dan dosen meminta kami untuk bertanya, hanya temanku itulah yang akhirnya mengacungkan jari dan bertanya.


Saat itulah kesombonganku mulai muncul, dengan memandang bahwa pertanyaan temanku itu "gitu doang", "nggak mutu" dan seringnya "nggak nyambung". Dan nggak cukup sampai di situ, setiap pendapat yang keluar dari temanku itu juga seringnya malah mengulang apa yang sudah disampaikan dosen, atau kalau enggak justru memberi pendapat dengan menanyakan apa yang baru saja disampaikan dosen, atau dihubung-hubungkan dengan hal-hal yang dia tau saja padahal sama sekali tidak ada hubungannya. Ok, sampai titik ini, aku udah cukup emosi, tapi yah sudah sebagai orang jawa yang baik (dan juga buruk), saya hanya memendam emosi itu tanpa berusaha meredamnya.


Sampai suatu ketika,ada kejadian yang mengakhiri zaman jahiliyah ku...


Di suatu sesi kelas, temanku itu (lagi-lagi) memberikan pertanyaan (atau entah komentar) kepada dosen dengan panjang lebar yang aku juga malas menyimak. Namun ketika dia nggak selesai-slesai bicara dan suaranya mulai terbata-bata, akhirnya aku tertarik mendengarkan apa yang dia sampaikan, sampai aku seperti mendengar petir geledek ketika dia bilang: "Oh, ini..maaf ya Pak karena sebatas ini saja yang saya tahu, yang lain itu di luar yang saya bisa".


Aku seperti digurui bahwa selama ini aku nggak pernah mencoba mengerti keadaan bahwa bisa jadi kemampuan temanku itu sebatas itu, bahwa kemampuannya untuk menangkap dan memahami ceramah dosen selama ini mungkin tidak semudah proses pembelajaranku dan teman-teman yang lain. Aku nggak pernah berusaha mengerti bahwa bisa jadi temenku perlu bantuan, atau kasarnya: temenku itu nggak sepintar kami! Tapi ternyata apa yang kulakukan selama ini? Menganggapnya aneh, dan aku justru nggak kepikiran untuk "memakai sepatu nya".


Dan sejak saat itu, aku jadi lebih berempati pada temanku itu. Dan ternyata banyak dari sikap-sikapnya yang ternyata telah hilang dari diriku.


Diantaranya, ketika kami ada tugas kelompok, dia menanyakan berulang-ulang kepada kami (aku dan teman2 di kelompok), tentang detail apa yang seharusnya dia lakukan,mengulang apa yang dia pahami untuk memastikan pemahamannya benar, dan meminta copy tentang apa yang sudah kami kerjakan sebagai contoh untuk pekerjaan dia. Dia seolah-olah takut melakukan kesalahan karena ini merupakan tugas kelompok. Dan ketika suatu ketika aku menjelaskan sesuatu padanya dengan kecepatan yang tidak kusadari (terlalu cepat), dia mengatakan "jangan cepat-cepat, saya mah masih pentium dua", di depan teman-temanku yang lain. Aku sungguh tertegun. Karena menyadari dengan sepenuh hati, betapa susahnya mengakui kelemahan diri di depan umum, yang sepertinya tak mampu kulakukan dengan mudah. Mendadak aku gelisah karena menyadari entah telah berapa lama dan seberapa dalam kesombongan menguasai diriku. Astaghfirullahal'adzim.


Dan,hari ini, ada yang membuatku kalah telak lagi. Dalam kerja kelompok penelitian, kami kesulitan untuk mengakomodasi masukan dari salah seorang dosen pembimbing, karena memang masukan itu berbeda dengan rumusan yang sudah kami putuskan. Sebenarnya masukan nya tidak signifikan, jadi akhirnya kami sekelompok memutuskan untuk tetap jalan dengan keputusan kami, dan mengabaikan masukan dosen tersebut. Dan di luar dugaan, temanku itu memberi ide untuk memasukkan usulan dosen itu di bagian kueosioner, dengan mengatakan: "masukin aja kali ya di kuesioner, efeknya ga begitu besar tapi biar masukan pak dosen didengarkan". Astaga, aku nggak menyangka temanku itu masih saja memikirkan bagaimana kami bisa mengabaikan masukan dosen dengan mudahnya. Ah, kemana saja telingaku selama ini??


Tuhan, hambamu ini telah berlaku sangat jahat pada makhluk-Mu yang tulus dan rendah hati.

*gambar diambil random dari google picture

Wednesday, October 12, 2011

How I Met Your Father

So kid,this is a story about how I met your father..

But don't worry,it's not like the original movie (How I met your mother) which contains looong session and episodes, mine will be short,,,yet,so sweet that I would be so glad to share this story to everybody who asked me,until now.

Listen carefully Miss/Mr Widiaribowo-Junior, coz this story is specially dedicated for you.. And,this is also a time to thanks to everybody who coincidentally help us to make our love story as in the dreamland *yaelah

So,it was around June 2010 when I commented in the status/posting of my facebook friend,aunt Noni. The status is about how abundant is the Angkot in Bogor!(She might be in Bogor at that time). I forgot what I said in that comment,but then here it is your father commented on my comment, and we continue to exhcange comments on your anut Noni posting in facebook, until soo long only the two of us :p Yes, finally we ended that conversation in that comments.

But,your father, is kind of niat that he sent me direct message through facebook that night,asking me whether I'm doing good and whether I'm staying in jakarta.and that conversation continue long long again until the day after,when finally he asked my number and asked whether we can meet that weekend,but I said I only can meet on the next 2 weekend.

So on the first meeting we went to the mall which has the most convenient mushollas in Jakarta: Pondok Indah Mall,where I have never been there. Since I don't know the way at all,I depend on his navigation skill in jakarta road which I have to admit not bad at all :p We first have an appointment in Halte busway Dukuh Atas (ah ya I came like 15 minutes late :p),and directly headed to PIM which takes us around 30 minutes by bus and continue by taxi. Here we ended our first meeting by having lunch (forget the place,rice bowl?), and watch movie (right?),haha how on earth I forget what I did in the first date. And he accompany me until I am home and lended me 3 books of Pidi Baiq, which I do sooo much like Pidi Baiq since then.

And the second meeting is the next weekend,we have appointment in Taman Suropati on sunday morning, after I finished jogging and he finished playing tennis in GOR sumantri Kuningan. But those was not kind of real date since he brought his tennis friend,Uncle Abol/Gian, and I was with a friend too for jogging, Aunt Ai. So,there were four of us in our second date, eating breakfast ( I guess it was gudeg), near Taman Suropati. It was a fruitful chit chat since I got the first good impression of your father when he is with his friend and with my friend. After the meeting, aunt Aik said that your father might really fall in love with me, haha. (And later I found out that uncle Abol said I'm so similar with your father in term of the-so-javanese-thing in us :p). We went home by our own after having breakfast,and that's we ended our second date.

Before we met for the third date, there was a yellow package reached my room in kos-kosan. It was a CDMA handphone, with an A4 paper size full of hand writing and pictures of smiling faces (picture is written by hand!!). Who else? It's your father sending me a CDMA phone,telling me that it is cheaper for him to call me through this phone than to my existing number in my phone (different provider), he bought the same CDMA phone too. It was surprising me, yet making me realize that he might be real serious with me, until what I found out on our third meeting the next following weekend.

It was on july 2010,around three weeks after the first time we met.
We met on sunday,after I finished jogging and he finished playing tennis with his friends again. But I took my time to take a bath,which he directly had breakfast with his friends after tennis,and later he told me that he hadn't taken a bath :p.
We met in Plaza Indonesia to watch Shrek movie, and continue our walks to Thamrin City to get some batik for him attending wedding, and stop by in Grand Indonesia,eating Burger King.

And here we go,in the convenient (fast food) restaurant, he said, "would you be my wife?"

I really stop breathing for few seconds, choosing the best words to answers, thinking what expression should I show,but my mouth kind of not able too cooperate with me as what came out as my answer was only a word:

"When?"
(Hahahaa)

And he answered my answer with a (long) presentation: on why it needed one year to marry me, on how he plan for one year to make savings for wedding preparation and life after wedding,he also told me exactly how much he earn for a month, and his vision and mission on a marriage. Me? Only paying attention to him very carefully since I didn't prepare any presentation at all. But while listening to him talking that time, I realize that this is the man who will make collaboration with the rest of my life...

So kid, I was about to end the story, that is how I met your father. But we didn't married one year after that, as finally we decided to make it faster :D We married around six month after that,on Februari 2011. Our family meet each other twice before the wedding. And during the first family meeting, your grandpa (father of your father), said this when his family come to my family to propose me (well,many people considered this as an engagement): "our family would like to propose your daughter, please let us know which one is called Wiwien". Hahaha,yes, his family never met me before,only by photos and by your father's story about me.

At last but the most important part, I didn't chose your father randomly by my facebook friends list in Jakarta or so (don't worry! Haha), me and your father have ever met before, 8 years ago. In fact, we attended the same high school in Jogja and he is my senior,one of the heads of student body.So,I knew him by his popularity (well yeah :p), but we never managed to chat personally at all. I also still surprise that we still remember each other when we met in Facebook last year.

So kid, while you're there so close to God,thanks Him for the director of this story to happen..you know,that's amazing of God through Mark Zuckerberg! Lol.

And, anyway, your father's name is Anas Yusuf Widiaribowo, that's why I called you widiaribowo-junior earlier in this writing :D

Okay Kid, don't you feel so excited to meet your father?


PS:if you noticed the different in the font/writings in this post, that's because I wrote it first in Ms Word when I'm out of the internet connection. Promise will never do it again! :p

Thursday, September 29, 2011

Having a baby

Nah teman-teman, jadi ceritanya sekarang ini saya sedang hamil.. Alhamdulillah, suatu kehormatan bagi kami mendapat kepercayaan untuk menerima tamu Tuhan ini *ouuh bahasaku


Awalnya lucu, jadi ini adalah test pack yang ketiga kalinya kami coba. Tiap pakai test pack sebelum-sebelumnya, pasti berujung dengan aku datang bulan pada malam harinya. Maka ketika menstruasi ku terlambat kali ini, aku nggak buru-buru ambil test pack. Sampai suatu ketika, sekretaris di tempat kerjaku juga hamil, dan entah kenapa dia semangat untuk menyuruhku nge-test juga, dengn bilang "aku masih ada test pack sisa di rumah, kemarin beli 2 soalnya" dan taraaa..aku pakailah test pack itu dan positiff! sampai suaminya sekretarisku itu bercanda kalo test pack nya cuma khusus buat hasil yang positif..haha!

Nah seperti pasangan muda pada umumnya, kami akhirnya menemui dokter kandungan pada 15 september yang lalu, untuk mendapat "legalitas" kehamilan ini.. *hehe aneh ya bahasaku. Dan ternyata ketika di USG, masih 0,4 cm...tapi kalau menurut perhitungan dokter berdasar jadwal menstruasi, usianya udah mulai jalan 7 minggu... Sebenarnya ak dan suami agak berspekulasi bahwa mungkin usianya masih 3-4 minggu, kami punya alasan kenapa begitu tapi malu mau bilang ke dokternya,hahah udah ah..jadi mari kita anggap sesuai hitungan dokter saja, sampai nanti bisa diukur dengan tepat lagi ketika bayi sudah mulai tumbuh, amiiiin :D


Alhamdulillah sejauh ini badanku selama hamil terasa sehat dan menyenangkan, enggak ada muntah dan mual, dan setelah dinyatakan hamil baru terkadang kerasa mual kalau pas sore naik mobil. Dan ternyata dokter ku pun termasuk yang nyantai, dia tidak menganggap wanita hamil sebagai orang sakit, jadi pada prinsipnya bisa melakukan apaaaaa saja selama tidak ada keluhan. Pantangan makanannya pun konservatif banget, yang penting enggak instan, junk food, vetsin, daging mentah dan soda. Makanya pas ak agak parno karena selama hamil ini (dan belum tau kalau ternyata hamil) sempt naik pesawat terbang, dokternya dengan santainya bilang nggak papa. Trus multivitaminnya juga dikasih Folavit yang notabene "cuma" berisi asam folat 400 mg. Untuk suplemen makanan, direkomendasikan Nutrilite (nama produk: Daily) karena berupa ekstrak sayuran dengan nutrisi lengkap dan organik *sekalian ngiklan, hehe, dan juga Salmon Omega 3 dari Nutrilite juga untuk pemenuhan DHA bagi pertumbuhan otak janin, insya Allah. Untuk susunya, oleh dokternya disarankan susu cair (UHT/pasteurisasi) apapun, tidak perlu susu hamil, karena pengawet susu cair lebih sedikit dibandingkan susu hamil dalam bentuk bubuk,,ituu kata dokternya. Yang jelas, ak sangat sepakat dengan dokter itu dan mengikuti rekomendasinya..ahh suka deh sama ibu dokterku..tapi ntar mau nyoba dokter satunya lagi ah *haha piye to iki ora konsisten :p, hehe soalnya emang sejak awal ada 2 dokter recommended untuk dicoba,,,let's see...


Nah, ada satu hal yang baru kusadari selama hamil ini...ternyata magh saya jadi manja.. Kalau dulu baru kambuh dalam keadaan ekstrim (misalnya telat makan dan lagi dalam perjalanan jauh sehingga perut berisi angin semua), sekaraang..bisa kambuh di saat lapar. Daan, lapar saya itu kira2 setiap 3 jam sekali, hahaha. Jadi kalau ibu2 yang lain kalau perut kosong jadi mual, aku jadi melilit sakit perut karena magh. Makanya untuk mengatasi itu, ak slalu bawa pisang atau buah manis kemanapun pergi. Pernah bawa jeruk, hasilnya lebih parah karena ternyata jeruk yang udah manis pun bikin asam lambung meningkat *jiaah... Makanya sekarang kalaupun sedang di kelas atau sedang ngapain aja (di mall misalnya), dengan cueknya ak mengeluarkan pisang dan mengunyah dengan lezatnya kalau lapar, enyaakk :D


Sebagai newbie dalam dunia perhamilan, maka mulai juga lah saya browsing sana sini, tanya-tanya sama sesama temen2 bumil dan temen2 dokter, tanya ini itu, sampai akhirnya menemukan satu buku yang komprehensif banget ttg kehamilan ini, judulnya "Having a Baby", dari dr.Mehmet Oz (dokter Oz nya amerika itu). Berhubunga baru dibeli kemarin, mungkin isinya bisa saya review di posting selanjutnya. Yang jelas, bersyukur banget rasanya punya temen2 hamil yang ternyata jumlahnya banyak,,berasa punya banyak konsultan gratis.. ayoo..hamil-lah teman-teman *nyuruh seenaknya


Oke, gitu dulu..yang terpenting dari isi posting kali ini adalah mohon doa restu semoga kehamilan saya selalu sehat, mudah dan menyenangkan...bayinya nanti sholeh/sholehah, sehat, lengkap, dan cerdas, dan menjadi penyejuk hati bagi orang tuanya, serta berkontribusi dalam mewujudkan Islam sebagai rahmat sekalian alam di bumi ini.

Kiranya Allah memberikan hidup berkah dan umur panjang kepada saya dan suami sehingga bisa menuntaskan amanah Tuhan ini dengan segala syukur dan kerendahan hati.

Amiin :)

Ps: maaf fotonya gak nyambung, what do you expect from 8 weeks pregnancy photo? belum keliatan euy :p

Wednesday, July 6, 2011

Yang Menjaga Diri dari Meminta-minta

Hari mulai gelap ketika aku pulang kantor kemarin, kira2 menjelang maghrib, pukul setengah 6 sore. Seperti biasa, aku pulang jalan kaki dengan cepat-cepat, selain karena ingin segera sampai rumah, juga biar kayak orang bule yang kl berjalan cepat sekali *haha. Tak berapa jauh di belakangku, terdapat seorang bapak-bapak yang juga berjalan cepat. Mukanya nggak tampak jelas karena memang jarak kami tidak cukup dekat. Dengan bekal kecurigaan dan rasa waspada, aku memacu langkah dengan cepat, namun tak berapa lama ternyata bapak itu mendahuluiku dengan mudahnya....lega karena ternyata kecurigaanku tidak terbukti (ternyata Bapak itu nggak ngejar aku, hehe).

Pandanganku langsung tertuju pada penampilan bapak itu, kaosnya coklat muda (campuran hijau kusam dan coklat) dengan topi kain dan sandal jepit yang sudah "tepos" (sangat tipis karena sering digunakan), dan ternyata dia menenteng kotak kayu kecil yang bertuliskan "semir sepatu" lengkap dengan sandal jepit biru yg bagus dan bersih di dalam kotak tersebut. Entah kenapa hatiku tergetar melihat Bapak itu, dia berjalan dengan ringan dan sangat cepat, mungkin karena dia terbiasa berjalan setiap harinya. Dia berjalan jauh cepat mendahuluiku, sampai akhirnya kami terhenti bersama di palang kereta api ketika kereta akan lewat.

Waktu itu kereta sudah selesai lewat, tetapi palang kereta tetap belum dibuka. Meski demikian, tetap beberapa sepeda motor menerabas palang, dan semakin banyak saja yang ikutan menerabas walaupun petugas KAI berlari keluar gardu jaga berteriak2 mengingatkan kalau masih akan ada satu kereta lagi yang lewat. Di tengah aku cuma geleng-geleng kepala melihat kesemrawutan tersebut, bapak semir sepatu tadi ternyata berjalan mendekati kerumunan motor di baris depan palang kereta, mengingatkan mereka untuk tidak menyeberang rel karena masih ada satu kereta lagi yang lewat. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi aku cuma melongo melihat kejadian itu, hingga palang kereta itu dibuka dan Bapak semir sepatu itu kembali berjalan cepat dan menghilang di tikungan.

Dan Tuhan sepertinya masih memberiku kesempatan untuk dipertemukan lagi dengan bapak itu saat makan siang di belakang kantor hari berikutnya. Bapak itu berjalan menawarkan jasa semir sepatu di antara orang2 yang sedang makan, atau tepatnya berkeliling2 di antara orang2 yang sibuk makan dan tidak menggubris kehadirannya--Bapaknya juga tau diri untuk tidak random menawari semua orang, hanya orang2 yang terlihat tidak ngobrol/terlihat tidak menunduk serius makan. Waktu itu belum ada seorangpun yang menyemirkan sepatu padanya, hingga dia sampai di depan tempatku makan, "Mbak mau semir sepatu?"katanya sambil tersenyum sangat lebar, meski wajahnya pucat dan lesu.

Dan singkat cerita, dia sudah selesai menyemirkan sepatuku dan meletakkan sepatuku di bawah kakiku (*aneh rasanya ada orang menunduk naruh sepatuku gini). Sesaat saat itu juga aku langsung bilang, "makasih Pak" walaupun belum membayar, dan Bapak itu membalas "saya yang makasih Mbak". Maka bisa ditebak, ketika aku mengulurkan uang, mukanya senang sekali dan langsung nyerocos mendoakan kebaikanku dan rejekiku, dengan segala kesyukuran yang terpancar di wajahnya.

Ahh....lagi-lagi ada yang bergejolak dalam diriku. Di tengah hingar-bingar kota Jakarta dengan segala kemewahan dan kebutuhan hidup yang tak ada habisnya, ternyata ada orang yang mencukupkan diri dengan apa yang dia terima. Dia melakukan apa saja yang dia bisa untuk membuktikan bahwa kasih sayang Tuhan tidak terbatas bagi mereka yang bekerja nyaman di ruang ber-AC, bagi mereka yang punya modal, bagi mereka yang pintar dan dianugerahi keberuntungan mendapatkan kemudahan rejeki.

Ah, orang-orang seperti itulah yang seharusnya kita beri rejeki... Orang yang tidak dianugerahi nikmatnya pekerjaan seperti layaknya kita, tapi terus berusaha...yang selalu menampakkan syukur di wajahnya...yang sebenarnya selalu kekurangan, tapi menahan diri dari meminta-minta....

Thursday, April 28, 2011

Update Masakan

Wah, akhirnya update masakan juga..setelah terakhir nulis tentang masakan bulan juli di sini. Nah,berhubung pergantian status saya bulan februari kemarin, masakan kali ini sudah teruji oleh lidah Mas Anas, yang untungnya selalu makan di saat lapar, jadiii...pasti habis :D.

Tema masakan kali ini masih sekitar masakan sehari-hari yang bisa dimasak dengan sangat cepat (soalnya kan pulang kantor *alesan buat nutupin males). Juga, karena kami sama-sama suka sayuran, maka masakannya juga gak jauh-jauh dari dedaunan, walaupun sumpah kami bukan kambing. Oh ya, karena kamera ku lagi di Jogja, jadi ini dipotret dengan kamera HP. Makanya untuk menyamarkan kualitas kamera, lay out foto dibuat dekoratif *berasa manten aja pake dekor.
Langsung saja yaa...

Sayuran Bumbu Bakmi
Bahan:

1. Sayuran (buncis, jagung muda, wortel)--atau bisa juga sawi hijau dan sawi putih
2. Bakso
3. Tahu
Bumbu:
Kemiri, Bawang Putih, Bawang Merah, Garam, Merica
Cara:
1. Haluskan semua bumbu, lalu tumis
2. Masukkan Bakso dan Tahu yang telah dipotong2 (waktu itu tahunya kurebus dl bentar)
3. Masukkan semua sayuran yang telah dipotong2, dimulai dari yang paling lama matang.
4. Masukkan sedikit air, tunggu sampai kering, dan selesai.. Cepet kan? :D
5. Untuk pengajian, taburkan sledri dan bawang goreng
*kenapa namanya bumbu bakmi? karena pake kemiri, itu saja..dan rasanya pun berasa seperti mie jawa :p
**untuk cara bikin telur dadar, skip yow
Tumis Kangkung
Inii lebih cepet lagi.....
Bahan dan Bumbu:
1. Kangkung
2. Bawang putih diiris2, garam, merica
3. Terasi
Cara:
1. Tumis bawang dan terasi
2. Masukkan Kangkung
3. Tambah sedikit air,
sudaaah :p
Balado Terong Panggang
Bahan dan Bumbu:

1. Terong dipotong memanjang,kira2 seukuran jari tangan
2.Cabe merah (yg banyak)
3. Tomat
4. Bawang putih dan Bawang Merah
5. Garam, Merica
Cara:
1. Panggang terong yang telah dipotong dalam oven kira-kira 10-15 menit (bisa juga digoreng sangan tanpa minyak di wajan anti lengket)
2.Campur dan haluskan semua bumbu, lalu dipanggang juga, kira-kira 5 menit
3. Tuangkan bumbu ke atas terong, lalu panggang sekali lagi selama kira-kira 10 menit
*berbeda dengan cara masak kalau digoreng, terong panggang ini masih terasa juicy dan pedasnya seger dan mantep bangettt, buat penyuka pedas..pas banget!


Tempe Kering
Tempe kering ini merupakan favoritku, karena rasanya pedas dan tentu saja manis, hoho
Bahan
1. Tempe, diiris memanjang,agak tipis
2.Cabe merah
3.Bawang Merah, Bawang putih
3.Gula jawa, kecap, garam
4.Daun serai, salam
Cara
1. Bumbui tempe yang telah diiris dengan garam dan bawang putih
2.Goreng tempe sampai kering
3.Cincang cabe merah,bawang merah,bawang putih, lalu tumis
4.Tambahkan gula jawa, daun serai dan salam, masukkan sedikit air dan garam
5.Tambahkan tempe yang sudah digoreng, tambahkan kecap, masak sampai kering.
*bisa juga ditambahkan kacang plong yang sudah digoreng

Nah, tempe kering di atas juga bisa diganti dengan kentang, cara bikinnya sama persis. Bedanya, aku hanya pakai sedikit gula jawa dan tanpa kecap, jadi rasa kentangnya pedes banget, balado beneran deh. Trus untuk resep tumis juga bisa diganti dengan beragam sayuran yang ada, misal di bawah ini aku bikin tumis buncis ma jagung muda, dengan kaldu pakai hati ayam. enakk.

Perkedel Tahu Panggang
Bahan:
1. Tahu putih
2.Telur
3. Wortel
4.Buncis
5.Bawang Merah
6.Bawang Putih
7. Sledri dan daun bawang
8. Garam, merica
Cara:
1. Iris bawang merah dan goreng setengah matang
2.Haluskan bawang putih, garam, merica
3.Cincang buncis dan wortel, dan juga sledri dan daun bawang (potong kecil2)
4.Hancurkan tahu yang sudah direbus sebentar
5.MAsukkan bumbu yang telah dihaluskan ke dalam adonan tahu, tambahkan dengan sayuran cincang, bwang goreng, dan telur
6.Olesi loyang dengan mentega, masukkan adonan tahu, panggang selama 20 menit-an
*mungkin bisa juga digoreng tapi lebih baik meminimalisir minyak


Yang paling spesial...

Nah, ini menu yg paling spesial. Bukan karena dikasih saos bentuk cinta (*hahahaha),tapi karena ini adalah menu pertama yang kita buat berdua (menu selanjutnya adalah apfelstrudel yg gagal, dan kue ubi yang mendekati gagal),semua itu dibuat dengan oven hadiah dari ratih.Dan nggak tanggung-tanggung, kita mulai bikinnya jam 11 malem karena belum ada tanda2 ngantuk :)) Sejak awal mas anas emang niat banget pengin bikin ini, sampe dibela-belain ke supermarket beli loyang oven tapiiii ternyata loyangnya kegedean (ga bisa masuk oven),haha. akhirnya pinjem wadah seadanya dari dapur kosan, hehehe.

Makaroni Panggang

Bahan
1.Makaroni
2.Daging Cincang
3.Keju
4.Bawang bombai, Bawang putih
5.Garam, Merica
6.Susu
Cara
1.Tumis daging cincang dan bawang bombai yang telah dicincang, masukkan sedikit garam dan merica
2.Rebus makaroni,tambahkan sedikit garam dan mentega dalam rebusan (supaya tidak lengket),tiriskan jika sudah kenyal
3.Campurkan daging ke dalam makaroni, tambahkan keju yang telah diparut, dan susu cair. Coba dirasain,kurang garem, merica atau apa
4.tuangkan adonan dalam loyang yang sudah dioles mentega, taburkan keju parut di atasnya
5.Panggang selama 30 menit (atau dikira2, hehe). Sajikan selagi hangat, dengan saos.nyamm
*adonan juga bisa ditambahkan sosis.


Hoho,okee,segitu duluu..semoga bermanfaat buat para pembaca sekaliaan. Dan juga, tambahin ya kalo ada salah2. Alhamdulillah, rasanya senang bisa menghidangkan masakan sendiri, selain hemat dan puas ketika melihat masakan kita laris manis,juga bisa bikin kita berasa Farrah Quinn..haha :p

Tuesday, April 26, 2011

Ujian

Terhitung sejak tahun 2007, karena satu kejadian penting dan lainnya, aku meniatkan diri untuk selalu hidup dengan dasar kesyukuran, untuk terus menyadari dan mencari bukti kasih sayang Tuhan dalam hidupku, sehingga mengingatkanku untuk selalu ceria, berpositive thinking, anti mengeluh, tidak membenci dan iri terhadap nikmat orang lain. itu komitmen yang selalu kuniatkan.

Namun kadang, Tuhan tahu kapan saatnya manusia perlu diuji atas komitmen umat Nya.

Kira-kira sebulan yang lalu, tepat tengah malam pukul satu (okay, tengah malam harusnya pukul 12 yak?), hapeku berbunyi, seseorang menelponku. Karena benar-benar tertidur, antara sadar dan tidak, aku tidak mengangkat telepon itu. hingga dua kali. kemudian gantian HP Mas Anas yang berbunyi. Karena ak yakin penelepon itu adalah orang yang sama dengan yang menelponku tadi, aku meminta mas anas mengambil HP nya dan menjawab telepon tengah malam itu.

Benar saja, ternyata penelpon itu adalah Kakak mas anas yang berada di Malang, memberitahukan bahwa Mama (ibu mas Anas), terkena serangan stroke lagi (stroke pertama tahun 2008), dan sedang dibawa ke rumah sakit. Semua kantuk kami mendadak hilang seketika. sesaat setelah telepon ditutup, kami hanya diam terpaku, banyak pikiran yang mendadak mengantri dalam otak kami, sekaligus aku melihat raut kesedihan di wajah mas anas yang nggak bisa ditutupi.

Dan hampir tiap wiken sejak malam itu, kami pergi ke Malang untuk menjenguk Mama di rumah sakit. Kami selalu pulang ke Malang dengan penuh semangat dan harapan semoga kedatangan kami membawa kesembuhan bagi Mama, atau sekedar memulihkan ingatan Mama sepenuhnya. Meski seringkali, semangat yang tinggi itu mengelabuhi kemampuan fisik kami, hingga berujung pada demam dan flu tiap kali pulang dari Malang, tentu saja karena Jakarta-Malang (via Surabaya) dengan kereta yang memakan waktu sekitar 13 jam, plus dua jam bis dari Surabaya ke Malang ditempuh dalam 2 hari wiken saja, ternyata mampu menggoyahkan kekuatan fisik kami.

Hingga akhirnya dua kali wiken kami absen menjenguk Mama, selain untuk mengisi kekuatan fisik lagi, juga untuk menunggu dompet terisi lagi ;-) Mas Anas beberapa kali meminta maaf kepadaku, aku yakin dia juga nggak tau kenapa minta maaf...tapi yang jelas, kejadian ini membuat kami menyesuaikan beberapa mimpi di sana-sini, terutama tentang rencana-rencana kita di masa depan yang berkaitan dengan finansial *hayaahhh

Beberapa saat setelah Mama diperbolehkan pulang dari rumah sakit, aku mendapat kabar kalau adik laki-lakiku baru saja mendapat hasil CT scan (setelah merasa pusing yang tidak sembuh-sembuh), dan tim Sardjito dokter saat ini sedang proses "rapat" untuk mengambil tindakan (baca:operasi otak) dengan beberapa diagnosa kelainan yang harus segera ditangani. Melalui telepon, Ibu menceritakan detail gangguan yang dialami adiku karena penyakitnya itu, dengan beberapa kali terhenti dlm bercerita, tentu saja ibu menangis. Aku lantas berusaha membesarkan hati ibu, mengatakan bahwa semoga ini cara Allah memberikan surga bagi kita..mungkin kita belum punya cukup "poin" untuk lulus ujian masuk surga, sehingga kita diberi kesempatan ini. Dan tentu saja, mengatakan pada ibu untuk menganggap ini akan mudah,dan bahwa harta tidak dibawa mati (sebelumnya kita membahas perkiraan biaya operasi tersebut). Ibu mengatakan kalau senang mendengarnya, dan kami berusaha membahas hal yang lain (waktu itu ngomongin Indosat dan kucing di kosan! haha), dan telepon ditutup.

Meski terlihat sangat kuat dalam telepon, tapi tenggorokanku mulai tercekat ketika telepon ditutup, aku ingin menangis.

Dan sepertinya, saat ini kami harus ikhlas untuk bye-bye pada rencana-rencana kami di masa dpn... Aku dan mas anas memiliki tabungan di satu rekening khusus untuk menyiapkan mimpi masa depan kami tersebut,dengan label "apapun yang terjadi, rekening ini nggak akan tergoda untuk diambil". Tapi sepertinya, Mama, adik..dan keluarga itu lebih dari apapun. Semoga nanti dapat ganti yang lebih berkah dan banyak, amiiin.

Sepertinya, itulah cara Tuhan berbicara dengan kami, aku merasa tangan-tangan Nya sedang bekerja untuk skenario hidupku, untuk menyisipkan satu dan dua nilai kehidupan yang belum kumiliki... Aku dan mas anas bahu membahu mengingatkan untuk ikhlas, dan selalu berterima kasih atas segala nikmat kehidupan yang telah kita miliki. Inilah ujiannya, masih bisakah kami melihat nikmat dan kasih sayang Nya di tengah keadaan-keadaan ini? Masih ikhlas kah kami mengatakan "Tuhan, kami adalah hambamu yang selalu bersyukur" ?

Dan pagi itu,ketika berjalan kaki hendak menyeberang jalan menuju kantorku, aku melihat seorang perempuan berusia 40 tahunan dengan baju dan topi lusuh, tanpa alas kaki, menarik gerobak bertuliskan "beli barang bekas", berhenti di sampingku untuk ikut menyeberang. Dan setelah beberapa detik, dia menoleh ke arahku sambil mulai menyeberang: "Mari-mari nak...", aku menoleh ke arahnya dan masih ragu-ragu menyeberang (takut seperti biasa), dia berhenti di tengah jalan dan mengatakan "Mari nak menyeberang bareng ibu...", aku baru tersadar dan mulai menyeberang dengan cepat-cepat... Muka ibu itu terlihat sangat ceria, aku merasa dia tersenyum dengan sangat ringan dan mudah, seolah senyum itu selalu ada di wajahnya...

Ah.... di tengah usahaku menguasai hati dan pikiran supaya selalu berbaik sangka kepada Mu, lagi -lagi aku merasa Tuhan sekali lagi sedang mengajakku berbicara melalui ibu-ibu tadi. Raut wajahnya yang ringan, mudah tersenyum, ringan memberi bantuan...aku merasa sedang di dekat orang yang selalu bersyukur atas tiap keadaan, walaupun "hanya" mengandalkan uang dari barang bekas, walaupun terus mengais di bak sampah rumah mewah di Menteng, walaupun berpakaian lusuh, walaupun selalu berjalan tanpa alas kaki....

"say:"nothing can happen to me except what Allah has ordained for me, He is our Master. It is in Allah that the believers put their TRUST" " (At-Tawba 51)

Doakan mama dan adik cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala ya bloggers......

Banyak penarik gerobak pembeli barang bekas seperti ini di jalan-jalan sekitar Menteng.
Seorang teman bule ku pernah bertanya kepadaku: "What? mereka membeli barang bekas dari orang-orang kaya di sini? kenapa orang-orang kaya itu nggak memberinya aja?"

PS: Mas Anas yang saya sebut2 di atas adalah suamiku, lupa njelasin, hehehe

Monday, March 7, 2011

Rasanya Menikah

Hehe,geli juga kalo membaca ulang judul blog ini: Rasanya Menikah. Tapi itulah pertanyaan yang belakangan paling sering kudengar tiap ketemu orang-orang, sejak menikah sebulan yang lalu (yaiks,udah sebulan aja): "Gimana rasanya nikah?". Biasanya aku akan kebingungan menjawab pertanyaan itu, dan pengin bertanya ulang meminta pertanyaan yg lebih spesifik, misal dia mau tanya pestanya, akadnya,persiapannya, atau malem harinya (bukain kado maksudnya, hehe), tapi seingatku jawaban yang selalu keluar dr mulutku hanyalah: "hehehehe". Sungguh jawaban yang tidak memuaskan.

Nah oke, untuk menjawab pertanyaan itu, mungkin aku bisa ceritakan beberapa cerita yang bisa kuceritakan (mbulet).

1. Hari H
Alhamdulillah ketika hari H, ketegangan tidak seperti yang kubayangkan. Semua berjalan smooth, kebisingan orang2 yang bertanya tentang ini itu juga tidak terjadi. Bahkan ketika periasku bilang "mbak ini siap2 ya, konde untuk jilbabnya akan terasa berat", tapi ketika dipasang...voila, aku gak merasakan apa2, ringan! Apalagi ketika kulihat wajahku di cermin, cantiknyooo! (hahahaha,okee,aku janji narsis skali ini aja, jangan berhenti mbaca yak). Selama acara berlangsung, aku dan si mas saling memastikan bahwa kami tetap tersenyum,selalu tersenyum sepanjang waktu, selain untuk menghormati tamu, juga karena kami meng-hire fotografer candid (hehehe). Tapi ternyata cara untuk "sadar senyum" ini efektif untuk menjaga keceriaan sepanjang acara. dan benar saja, di akhir acara, aku bilang pada keluargaku kalau aku sama sekali nggak merasa capek, dan jawaban mereka simpel: "tentu saja, orang bahagia mana ada capeknya".

Nah, kayaknya kunci utama untuk tampil fit dan prima saat menikah hari H adalah: settinglah hati anda supaya tetap bahagia!

2. Hari hari pertama menikah
Dari beberapa blog yang kubaca, ternyata hal ini terjadi juga pada pasangan muda lainnya: belum menyadari kalau sudah hidup bersama! Beberapa diantaranya misalnya, masih menyebut pasangan dengan istilah "pacar" intead of "suami/istri", masih kaget2 ketika keluar kamar mandi dan ada orang lain di kamar, bahkan lebih cepat untuk tidur jika saling memunggungi daripada berhadap2an, haha.

Daan...itu terjadi juga pada kami.. jadi kayaknya untuk yang satu ini, aku gak bisa ngasih saran seharusnya gimana :))

Sesaat setelah akad nikah selesai dilangsungkan, petugas KUA bertanya kepada mas: "Apakah anda sudah punya istri?", dan dengan spontan mas menjawab: "belum", lalu petugas KUA nya berkata: "naah, baru aja nikah, udah lupa kalau beristri". hahaha, skak mat :))


3. Sakit
Seminggu setelah resepsi pernikahan, kami berangkat ke Jakarta. Aku merasa itulah masa sebenar2nya menikah, sudah tidak bersama bapak ibu dan papa mama mertua lagi, adik kakak, juga segenap pakde budhe om tante dan kakek nenek. Saat itulah kami mulai merasa menjadi satu pasang, bukan lagi satu-satu yang digabung. Suatu ketika, aku sakit sampai harus nggak masuk kantor. Dengan perasaan bersalah karena nggak bisa menyiapkan sarapan seperti biasanya, aku malah dibawa ke puskesmas (dokter terdekat dr kosan yang buka pagi hari itu). saat diperiksa itu, aku melihat mas mengirimkan sms kepada atasannya, meminta izin masuk siang karena memeriksakan istri ke dokter. dan kejadian pagi itu, cukup membuatku berjanji untuk sekuat tenaga menjaga kesehatan. (oh ya, OOT, ternyata memeriksakan di puskesmas itu gratis tis..lengkap dengan obatnya, dan...sembuh!)

cuma pose, hehehe
4. Kesepian
Selain itu, menikah juga lebih mudah membuat kita merasa kesepian kalau di rumah sendirian, dari makna sebenarnya (baca: kangen), sampai kejadian-kejadian sepele. Misalnya, dapur di kosan kami berada di lantai 1, sementara kamar kami di lantai 2. Sebisa mungkin aku memasak ketika mas belum pulang, atau sedang ke masjid, kecuali kalau memang kita berencana memasak bersama mencoba resep baru (hehehe, untung mas seneng masak juga). Tapi semalem aku masih masak saat mas udah pulang. Dan saat sedang memasak itu, ak mendengar suara langkah kaki menuruni tangga. Ternyata mas turun menghampiriku sambil brgumam "di atas sendirian...". hahahaha *I'm blushing :D*gambar diambil random

Daan..begitulah cerita kami diawali. Semoga Allah menghimpun yang terserak di antara kami, memberkahi kami berdua, meningkatkan kualitas keturunan kami, menjadikan kami pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah, serta pemberi rasa aman dan tentram bagi umat. Amiin. (doa yang nyontek).

Yang terpenting dari semua itu, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang menyadari betapa besar kuasa Tuhan yang telah menjodohkan manusia, dan betapa maha kasih sayangnya Tuhan dalam hidup kita dengan menumbuhkan cinta kasih diantara manusia yang begitu banyak jumlahnya di dunia ini. Subhanallah.

Wednesday, February 2, 2011

Persiapan Menikah

Akhirnyaaa aku menulis juga posting ini dengan judul yang vulgar...nah, jadi ternyata sodara-sodara, menikah itu emang perlu persiapan (yaelah, baru nyadar win? :p). Maksudku gini, sejak awal konsep pernikahan kami (olalaa udah pake kami-kami an aja sekarang), adalah pernikahan sederhana, mengundang orang dekat, menjamu dg sederhana, bersalaman, dan pulang, diperkirakan total waktu 1,5 jam maksimal dengan undangan yang tidak begitu banyak.

Sejak awal aku meyakini bahwa semuanya akan biasa saja, saya tetap bekerja setiap hari, tetap tinggal di kosan seperti biasa, dan tetap bermain kesana sini.. Tapi ternyata, suatu ketika jerawatku mulai bermunculan, tiba-tiba sakit sering perut (bisa jadi maag sih), dan yang paling kelihatan adalah sariawan! :D Maka,untuk pertama kalinya aku takjub dengan diri sendiri: wow,mungkin saya stress juga! haha :))

Nah, supaya tidak beralut-larut dalam jerawat dan sariawan, mari kita tuangkan semuanya ke dalam tulisan, biar lebih produktif dan jadi kenangan :-)

Apa saja persiapan menikah itu (yang udah saya lakukan)?
1. Belajar
Ibarat mau ujian, aku dulu menyengajakan untuk belajar dari buku-buku dan internet tentang menikah, baik itu tentang hak dan kewajiban suami istri, psikologi nya dan juga biologisnya ;-) Pokoknya seperti belajar "Married for Beginners" lah, hehe. Maklumlah, aku benar-benar belajar dari nol sejak diajak nikah *malu*. Untungnya ada beberapa teman yang udah nikah, jadi bisa tanya tanya, juga krn aku mau nikah, trus ada yang ngasih buku "Menjadi Pengantin Sepanjang Masa" (yeaah), trus berburu diskonan di Ulang Tahun Gramedia, dan sampai dibela2in beli buku online karena harganya diskon 20 %. Itu prosesnya, mengenai hasilnya kayak apa, mohon doanya teman-teman yaa semoga sukses;-) Dan buat yg mau kasih tips n trik, mash terbuka lebar diterima, hehe.
Tips: kalau emang udah pengin nikah, belajarlah dari sekarang, jgn SKS-an kayak saya :D

2. Urusan KUA
Nah ini cukup menyita perhatian kami karena kami tinggal di Jakarta, si mas asli Jawa Timur, dan kami akan menikah di Jogja! Mantep kan? alhasil, kami mengandalkan jasa pengiriman untuk mengirim dokumen (foto, KTP, kartu keluarga, surat pengantar KUA di Jawa timur) dikirim ke jakarta, ditandatangani, dan dikirim lagi ke Jogja untuk diurus di KUA jogja. daan bisa ditebak, ditengah-tengah itu ada masalah pengiriman, maka kami kirim ulang karena dokumen pertama nggak nyampai, haha. Kami memang berniat untuk meminimalisir pulang kampung untuk menghemat biaya. Seingat kami, dalam proses persiapan ini, kami hanya pulang beberapa kali, yaitu 1. Kenalan dengan orang tuaku, 2.Lamaran (ya, mudik berikutnya langsung lamaran), 3. Kunjungan ke Tuban (menjawab lamaran). Awalnya kami fikir ini sudah cukup, tapi ternyata kami harus mudik ke Jogja sekali lagi kemarin karena ada Verifikasi dari KUA terhadap calon penganten, daaannn ternyata dalam verifikasi itu yang harus kami lakukan adalah: tanda tangan saja! (haha, kirain mau diwawancara penuh keseriusan atau diperiksa kadar kegantengan dan kecantikan kami, tiwas udah dandan *bercanda*)
Tips: berbeda dengan tips poin nomor 1, untuk tips urusan KUA ini, jangan ngurus di KUA dr sekarang kl belum tau kapan nikah atau belum tau nikah ma siapa, hehe. Prosesnya gampang kok, asal gak kayak bus AKAP aja (Antar Kota Antar Propinsi) :p

3. Tes Kesehatan Pra Nikah
Ini sebagai syarat dari KUA di Jogja (kenapa di Jogja, karena aku ga tau apakah KUA lain juga mensyaratkan, soalnya temenku nikah di Jakarta belum ditanyain ttg tes kesehatan ini). Tes kesehatan ini bisa dilakukan di mana saja (ga harus di jogja) asal di puskesmas/rumah sakit negeri. Dan berhubung kemarin harus pulang ke Jogja untuk urusan KUA, maka sekalian lah tes kesehatan di Jogja, tentunya lebih murah. Di tes ini, kita dapat form "Tes Kesehatan Pra Nikah" (sebelumnya ngurus surat pengantar dulu dari kelurahan). Tes ini terdiri dari serangkain tes urine (untuk melihat kehamilan), darah, gigi, suntik imunisasi tetanus bagi calon perempuan, konsultasi gizi dan terakhir konsultasi psikologi. Saat menjalani ini, aku merasa, hmm..program pemerintah bagus juga ternyata...
Tips: tes kesehatan ini hanya untuk syarat administratif, kecuali kita emang pengin medical check up yg "beneran", mending cek aja di puskesmas, kalau di Laboratorium swasta bisa sampai 2 jutaan.

4. Ubo Rampe Pernikahan
Nah ini macem-macem,dari mulai undangan, suvenir, gedung, katering, baju, susunan acara, prosesi akad, dkk. No comment deh *tiba-tiba sakit perut, hahaha
PS: Ubo Rampe itu maksudku segala hal yang berkatian dengan pesta pernikahan, kalau arti sesungguhnya apa itu ubo rampe, aku nggak tahu :D

5. Cuti Nikah
Nah menurutku yang paling penting dari cuti nikah adalah: pastikan jadwal cuti kita dan jadwal cuti (calon)pasangan kita adalah sama...maksudnya, ngapain ambil cuti lama-lama kalau toh pasangan kita ternyata udah masuk kerja..bisa-bisa honeymoon tanpa honey ntar :D

Okee sepertinya itu dulu persiapan yang bisa (ingat) untuk diceritakan. Oh ya, kami juga telah membuat blog pernikahan di weddingannouncer.com (www.anas-wiwien.weddingannouncer.com). Sebenarnya kami cuma tau dari teman juga yang udah nikah dengan memanfaatkan website itu, tapi ternyata dari komentar teman-teman di buku tamu web kami, banyak yg bilang websitenya inovatif dan touching. Hehe, jadi mungkin bs dicoba ntar buat teman-teman yang berencana menikah juga, gratis kok websitenya!

Mohon doa teman-teman semoga rencana pernikahan kami lancar, dan pernikahan kami tersebut penuh berkah, penuh cinta, ketenteraman dan dirahmati oleh Allah SWT (sakinah, mawaddah, wa rohmah). Amiiiiin.

ps: gambar di atas diambil random dari Google, adalah gambar Halte Busway Dukuh Atas, tempat pertama kali kami bertemu kembali di Jakarta :p

Wednesday, January 19, 2011

Insya Allah Menikah

and with the warm heart and full smile, not to forget followed by submitting to God's will, I finally decide to accept somebody's plan to make a collaboration with the rest of my life...

*ternyata deg-degan juga nulisnya.

Daan..di antara posting blog ku yang sebelum-sebelumnya yang memang *gak*serius, mungkin postingan pertama di tahun 2011 ini menjadi yang paling serius sepanjang hidup saya.

Insya Allah saya akan menikah, teman-teman....

Saya tau mungkin akan ada beberapa pertanyaan yang muncul, dari pertanyaan "kapan" dan "sama siapa", hingga pertanyaan "kok bisa", hehe.

Mampir yaa bloggers....

http://anas-wiwien.weddingannouncer.com/

Mohon doa setulus hati semoga saya dan si mas mampu membentuk keluarga sakinah, mawaddah, wa rohmah dan mampu memberikan cahaya bagi kehidupan dunia akhirat. Amiiin.

Wednesday, November 24, 2010

Menabung


Beberapa hari terakhir, aku sedang giat-giatnya belajar tentang menabung dan investasi (baca: belajar doang,hahaha). Singkat cerita, kusimpulkan bahwa menabung dan investasi memang memerlukan upaya yang sungguh-sungguh, disertai niat yang teguh, dan tekad yang kuat *jiaah. Jadi tidak otomatis kalau penghasilan besar, pasti akan langsung bisa menabung. Tidak. Semua itu tergantung dari niat, tekad, dan rencana.

Dan benar saja..
Siang tadi aku pulang ke kantor dari acara meeting di luar, naik taksi, dengan argo yang harus kubayar 14 ribu sekian (anggaplah 15 ribu). Sesampai di kantor, kubayarlah supir taksi itu dengan uang 100 ribu yang merupakan satu-satunya uang di dompetku selain beberapa keping uang receh. Bisa ditebak, si supir taksi tidak ada kembalian, cuma ada 50 ribuan, dua lembar. Melihat taksi ku berhenti lama di depan loby, seorang bapak satpam yang kukenal menghampri kami, dan meminta taksi untuk maju karena ada mobil yang akan menurunkan penumpangnya di loby kantor juga. Maka kubuka lah kaca taksi, dan bapak itu menyapaku dengan "ada apa mbak?", maksudnya, kenapa aku nggak turun2 juga dari taksi dan malah dari tadi nanya2 ma si tukang taksi itu dan mengaduk2 isi tas ku. Spontan aku tanya dengan hopeless "Maaf Pak, bisa pecah uang nggak ya?" meskipun aku udah berfikir siapa lagi yang bisa kutanyain ya, karena maaf, aku nggak menduga pak satpam itu menyimpan uang pecahan sebanyak itu.

Tentu saja aku salah, bapak satpam itu langsung mengatakan "Oooh..punya mbak, sebentar..sebentar..." dan dia kemudian masuk ke pos satpam, sambil kuikuti di belakangnya. Dia mengeluarkan sesuatu dari lemari kecil di pos itu, dan akhirnya mengeluarkan lembaran2 uang seribuan, dua ribuan,lima ribuan, dan yang terbesar 10 ribuan, dan menjajarnya di meja. "Maaf mbak receh banget nggak papa ya?". Uang-uang itu sudah ditata rapi per-sepuluhribu (tau kan maksudnya? setiap 10 lembar uang seribu, dia membungkusnya dengan memberi lipatan sebagai penanda, juga setiap dua lembar uang 5ribu dilipat lagi, dst.). Dan singkat cerita, aku bayarlah transaksiku ke supir taksi dengan suksesnya.

Sepanjang jalan dari pos satpam itu menuju ruanganku, aku tak henti-hentinya salut dan malu pada pak satpam ku itu. Setelah melihat uang-uang itu, aku tau betul dr mana pak satpam itu mendapatkannnya. Sebagai orang yang menggunakan jasanya untuk menitipkan motorku dan meminta tolong mengeluarkan motor ketika terjepit motor lainnya di parkiran,aku tau uang-uang itu kemungkinan dari pemberian penghuni kantor yang membawa mobil dan motor. Pak satpam itu tentu saja nggak pernah meminta tips sama sekali, bahkan raut berharap di wajahnya pun tidak ada. Aku yakin kebanyakan pemakai kendaraan sepertiku memberinya bukan karena jasanya, tapi lebih karena kebaikannya, karena keramahnnya menyapa kami setiap pagi, ringan tangannya membantu kami, dan lebih karena kesyukuran kami apalagi ketikat tau bapak itu adalah satpam honorer saja, diantara puluhan satpam honorer dan negeri yang lainnya di kantor kami.

Ah, aku hanya ngak pernah menyangka, bapak itu mengumpulkan sedikit demi sedikit dari yang dia terima, sedemikian niatnya....

Betul, nabung yuk!!

PS: gambar uang di atas adalah uang recehan hasil penukaran

Friday, November 12, 2010

"Alhamdulillah, Terima Kasih Banyak..."

Sore itu aku pulang dari kantor seperti biasa menjelang maghrib, dan seperti biasa pula terhenti di pertigaan RSCM Salemba karena lampu merah plus banyaknya mobil dan motor yang pulang dari kantor. Saat itu hujan gerimis cukup membasahkan, dan kulihat berderet-deret penjual Bakpao dengan gerobaknya berjajar di pinggir jalan, berharap kendaraan yang terjebak macet lampu merah melarisi dagangan mereka.

Salah seorang penjual berhasil menyita perhatianku selama berhenti di lampu merah itu. Dia berdiri dekat dengan gerobaknya di trotoar jalan, merapat pada payung yang dia letakkan di atas gerobak, meski demikian, tentu saja kaos bagian belakangnya tetap basah kena percikan hujan yg terus menerus. Pandangannya lurus ke arah kami, ke arah kendaraan yang berjajar berhenti di jalan,mukanya terlihat tenang, tidak kemrungsung, tidak pula emosi (beda dengan kami yang mungkin wajahnya akan terlihat emosi/jengkel krn macet). Pandangannya terlihat sangat fokus kepada kami, memperhatikan kalau2 ada gerakan sedikit dari kami yang mengarah pada "Pak beli satu, Pak". Tapi tidak, tidak ada yang memanggilnya, yang mengacungkan jarinya/melambaikan tangan untuk memberi perintah dilayani beli bakpao. Dan melihat muka bapak itu, dia sangat tenang dan damai, seolah dia memaklumi kami yang tidak mau membeli bakpaonya, sangat menyadari bahwa mungkin kami tidak lapar, kami malas kehujanan menjulurkan tangan memanggil bakpao. Sama hal nya denganku, memakai mantol di atas motor, membuatku sangat kerepotan untuk mengambil dompet dari tas, merubah posisi mantol yg bisa membuat air akhirnya membasahiku, dan tentu saja, aku sedang tidak lapar atau apalagi kepingin Bakpao. Ah..tapi bapak itu hanya memandang kami dengan tenang, matanya tetap lurus memperhatikan kami dengan seksama, hatinya tenang walaupun nampak raut pengharapan dari wajahnya.

Dan beberapa detik sebelum lampu hijau, akhirnya kuputuskan untuk melambaikan tanganku, lalu mengacungkan satu telunjuk, sambil mulutku berintonasi jelas, tanpa bersuara (krn ga akan dengar) "rasa kacang hijau", kataku. Dan benar saja, Bapak itu langsungggggg bergerak seperti kaget, membuka panci tempat bakpao dikukus, cepat2 mengambil kertas pembungkus bakpao, dan BERLARI ke arahku, karena saat itu sudah lampu hijau. Dari jarak beberapa meter dia sudah melihat bahwa aku mengeluarkan uang 10 ribuan, maka dia menuju ke arahku sambil merogoh saku2 nya untuk memberi ku kembalian (aku udah tau kalau harga satu bakpao = 5 ribu).

Dan ketika akhirnya dia tiba di tempatku, menyerahkan bakpao, dan kuserahkan uang sepuluh ribuan dg mengatakan "Ambil kembaliannya, Pak", spontan dia langsung berucap "Alhamdulillah, terimakasih banyak mbak.." sambil memberikanku wajah yang sangaat cerah, yang cahayanya memasuki hatiku hingga membuatku sangaat bahagia, jauuh lebih bahagia dari terakhir kali aku menerima uang yang berpuluh2 kali lipat lebih banyak jumlahnya.

Dan basah setelah hujan sore itu, berhasil meneduhkan hatiku.

Ah.....

Friday, November 5, 2010

Telepon Ibu

Gambar Jalan Kaliurang Saat Hujan Pasir dan Abu, diambil dari Kompas

Jumat, 5 November 2010.

Baru saja aku telpon ibu. Semalam, tivi-tivi menyiarkan siaran langsung mengenai letusan Merapi di tengah malam. Suasana jalanan di jogja terlihat sangat padat, orang2 mengenakan Mantol yang tertutup abu, dengan motor penuh abu, kaca mobil juga ber-abu. Ku-sms orang tua dan adik-adikku di Jogja, tidak ada yang membalas. Kutelp juga tidak diangkat. Hal itu justru membuatku sangat tenang, karena aku yakin mereka tengah tidur. All is well. Dan lagi-lagi aku kembali harus meyakini bahwa Media tidak cukup meng-cover both side, yaitu walaupun 20 KM dari puncak Merapi adalah wilayah bahaya dan harus dievakuasi, tapi Media tidak mengatakan bahwa masih ada 50 KM lebih di Jogja yang masih aman, yang tidak sebahaya itu. Dan benar saja,pagi tadi Ayah, Ibu dan adik2 beruntun membalas smsku, mereka bilang sudah di sekolah, masuk seperti biasa. All is well.

Dan sambil memakan sarapan pagiku yang telat beberapa menit lalu, aku telpon Ibu. Suaranya tidak begitu jelas karena ibu pakai masker di dalam rumah, dan ternyata seluruh sekolah diliburkan,ibuku sudah pulang, ayahku dan adik adikku sudah di rumah juga. Memoriku langsung berlari pada tahun 2006 saat gempa Jogja dimana kami serumah cuma bisa berdiam duduk di teras semalaman, walaupun mulut kami bercerita tentang apa saja, tapi hati kami tak berhenti gemetar mengingat-Nya, itu terlihat dari muka kami yang sangat pucat pasrah dan tidak fokus pada pembicaraan yang sebenarnya hanya untuk "nylamur" itu. Dalam telponnya tadi, ibuku mengatakan "agak seperti itu suasananya..", ketika aku bilang teringat tahun 2006.

Aku teringat, tahun 2006 itu banyak hal tidak mungkin,ternyata bisa terjadi. Aku nggak mau menampik fakta bahwa sebagian masyarakat Jogja masih menganggap "selagi ada Raja, Jogja akan baik-baik saja". Tapi toh, gempa itu juga merusak sebagian Kraton. Kami yang menganggap bahwa kami kuat, bisa melakukan apa saja, membantu korban Tsunami di Aceh yang jauh pun kami bisa, tapi tahun 2006 itu bahkan kami tidak bisa membantu tetangga kita sendiri, bukan karena tidak mampu lagi memberikan apa yg kita punya, tapi karena ada yang mengunci lutut kita,lemas, shock, kaget, tak menyangka kejadian ini bisa menimpa kami.

Perlahan, kami-atau mungkin tepatnya aku, mulai menerima fakta bahwa banyak hal di luar kuasa kita. Ah ya, tau maksudku kan? Betapa banyak kita telah belajar tentang percaya kepada kuasa Tuhan, tentang Iman, dan bahkan mengatakan bahwa bahwa kita Islam (yang berarti "submission", penyerahan diri) masih saja terkaget-kaget dengan tanda-tanda dari Yang Kita Imani. Atau lebih parahnya, ternyata justru tanda-tanda alam seperti itu yang membuat kita tertunduk lagi, patuh lagi, berserah lagi....

Tuhan,
Kiranya Engkau berkenan,
kuatkanlah keyakinan kami akan pertolonganMu,
akan kasih sayangMu lewat hembusan udara bercambur abu,
akan pengajaranMu tentang ingatan kami sebelum dilahirkan,
ketika Engkau bertanya "Apakah aku ini Tuhan-mu?"
dan kami menjawab "Benar, Engkau adalah Tuhan kami. Kami menjadi saksi"
Sehingga kami terus ingat janji kami, terus mengimani, dan berserah diri.


Namun Tuhan,
jika kiranya permohonan kami ini terlalu mewah bagi kami,

maka cukupkanlah kami dengan berucap laa haula wala quwwata illaa billaah.

Tuesday, October 19, 2010

Oleh Oleh dari Sana Sini

Haloooo...lama sekali saya tidak ngeblog sodara-sodaraa *sambil mbersihin sarang laba-laba*

Ada banyak hal yang terlewati,entah karena kesibukan bekerja *dan bermain*, tapi lebih banyak karena meninggalkan jakarta selama sebulan terakhir ini, dan ini beberapa dari oleh2nya:

1. Palembang
Palembang menjadi kota yang akhirnya menegaskanku bahwa pada dasarnya pusat kota-kota di Indonesia memiliki karakteristik yang hampir sama antara kota yang satu dengan lainnya. Tentu, jika kita melongok ke sedikit saja ke pedalaman Palembang, pasti sudah mulai terlihat perbedaan. Tapi yang kubilang pusat kota di sini adalah rute dari Bandara ke hotel di pusat kota, pusat-pusat pemerintahan, dan pusat perbelanjaan (isi mall-nya: McD, KFC, Matahari, StarBuck, XXI,dkk) semua setipe lah, sama majunya, sama tata kota *semrawut*nya, dan jenis-jenis mobil yang lalu lalang di jalan. Mungkin yang membedakan adalah seberapa luas kemajuan kota tersebut, misalnya kalau di Palembang radius 3 KM dari pusat kota sudah bisa ditemui pedesaan, tetapi di Medan misalnya, perlu radius 5 KM dari pusatnya. Mungkin. Tapi setidaknya hal ini membuatku sedikit lega bahwa setidaknya kemajuan masih dinikmati secara relatif sama, walaupun hanya di kota-kota besarnya saja. tinggal tunggu waktu aja kali ya, sampai kapan kemajuan itu akan menyebar ke wilayah yang lebih luas *entah kapan*

"Benteng Kuto Besak"
Seorang teman mengomentari fotoku dengan "wah sempat ke BKB juga ya?" yang awalnya kufikir, for some*superclever*reasons, BKB kepanjangan dari BangKa Belitung

"Kebanggaan Kota"
Menurutku ada yg harusnya lebih dibanggakan dari Jembatan Ampera, yaitu ruang terbuka di sekitarnya yang biasa digunakan untuk event-event besar,olahraga, atau sekedar jalan-jalan sore menikmati *coklatnya*air sungai musi,hehe. But you've got my point kan?all city need open space for its people!

2. Pontianak

Pontianak menjadi spesial karena menjadi kota pertamaku menginjakkan kaki di pulau Kalimantan, dan sedikit banyak akan menentukan impresi pertamaku terhadap kalimantan *ah tp semoga tidak lah. Hal pertama yang membuatku terkejut adalah, ternyata hampir semua rumah di Pontianak tidak menyentuh tanah! Ajaib! Tanpa bantuan jin atau sim salabim jadi apa prok prok prok *aduh jayus bgt deh aku*. Jadi karena tanah di Pontianak cenderung berawa dan selalu tergenang air sepanjang waktu (banyak atau sedikit), maka mereka membangun rumah dengan model panggung dengan pilar kayu besi (sejenis kayu yg semakin kuat kalau terkena air) dan baru membuat pondasi cor di atas pilar-pilar kayu itu. Hal ini membuatku kaget karena rumah-rumah itu kelihatannya seperti rumah normal dengan pondasi beton tertanam di tanah, tetapi kalau didekati lagi makan akan terlihat bahwa rumah tersebut beberapa centi di atas tanah dan beberapa pilar kayu terlihat di sana. Ahh, harusnya aku ingat pelajaran SD bahwa rumah adat daerah Kalimantan Barat adalah Rumah Panggung (eh iya bukan sih? hahaha).

"Sungai berkelok di tengah kota pertanda bahwa kita berada di Kalimantan" :D


"Ga berasa kan kalau ini di Pontianak? Kan udah kubilang pada dasarnya kota-kota besar di Indonesia relatif sama"
*btw gambar yang ada di samping tulisan itu Tugu Khatulistiwa, just in case ada yg penasaran :p

3. Manado
Hal yang paling menarik dari kota di paling ujung utara pulau Sulawesi ini adalah, tentu saja, BUNAKEN ;-)
Dan yang harus kuakui dengan jujur *dan dg sangat maluuuu* adalah awalanya kufikir Bunaken itu adalah pulau dengan pasir putih yang bersih, ombak kecil yang indah, angin sepoi yang semilir dan memiliki cottage-cottage ramai selayaknya di Bali dan Lombok (Ok, aku blum pernah ke Lombok sih). Tapiiii ternyata....Bunaken (hanyalah) pulau singgah untuk menyewa peralatan snorkling dan diving, tempat beli oleh2 kaos dkk, dan mungkin museum Taman Nasional Bunaken. Ada sih beberapa cottage, satu cottage sangaaattttt mahal dan lainnya cottage yang kurang layak. Ahhhh kecewaaa...
Tapi memang, keindahan taman lautnya membayar semua kekecewaanku...Jadi yang harus dilakukan utk menikmati Bunaken adalah menyewa kapal dari Pelabuhan Manado dan melakukan snorkling dan atau diving di taman lautnya.

Ada yang harus kuceritakan tentang bapak ini.
Namanya Pak Lodeh, dia adalah pengemudi kapal umum yang kami tumpangii, dia rutin mengangkut penduduk (bukan wisatawan ya) ke Pulau Bunaken sehari-harinya. Penumpang membayar 10.000,dan ada kurang lebih 10-15 orang di kapal (tanpa pelampung). Jadi penghasilan dia Rp.300.000 per hari (asumsi sehari satu kali PP dengan penumpang penuh, jarang bisa laku sehari dua kali PP krn pasar dia adalah penduduk setempat), dipotong biaya solar Rp.200.000. Matanya tidak bening,warna yang seharusnya putih menjadi kecoklatan kusam, pendengarannya sangat kurang, kita perlu berteriak supaya dia mendengar (aku pernah hampir tenggelam saat snorkling dan dia mengira aku tertawa, padahal teriak-teriak minta tolong). Sehari bersamanya, akhirnya kami (aku kesana bersama Theresia), menyimpulkan bahwa kemungkinan matanya rusak karena sering terkena air asin (masuk ke laut memasang jangkar kapal dg mata telanjang tiap hari), dan pendengarannya kurang karena sepanjang hidupnya berada di samping mesin kapal yang bersuara amat sangat keras . Semakin aku mengenal dia, semakin aku menyadari betapa banyaknya orang seperti Pak Lodeh ini, dan fikiran yang selalu menggangguku selama sehari menyewa kapalnya adalah tau kah dia bahwa aku seharusnya ikut bertanggung jawab atas kemajuan dia dan wilayahnya?

"Kita difoto dong, biar difoto sama orang jakarta dan kenang-kenangan dibawa ke jakarta"
Kata mereka ketika kami akan berpisah (kurang lebih begitu kata-katanya, tetapi mereka menggunakan campuran aksen Manado). Mereka adalah penumpang kapal umum yang pergi bersama kami, mereka datang ke Bunaken untuk datang di upacara Lebaran Ketupat.

Tak Pernah Protes pada Keadaan
Ini adalah yang sehari-hari dilakukan penduduk setempat ketika menggunakan kapal: saat sudah sampai di tempat tujuan, kapal tidak bisa sampai menyentuh daratan, sehingga mereka harus melinting celana, menenteng sendal, bahkan gendong2an dan membawa baju ganti supaya tidak basah menyeberang pantai ke tempat tujuan. Mereka bukan turis, dan pergi ke Bunaken untuk berbagai keperluan (mengunjungi Saudara dan ikut upacara), dan ini sudah jadi keseharian mereka. Ajaibnya, mereka melakukan ini sambil tertawa-tawa seolah menyenangkan sekali. Ah, aku jadi malu ketika sekali waktu pulang dr kantor kehujanan dengan kaki basah dan sudah merasa menjadi orang paling menderita sedunia.

"Jembatan kayu dari Hotel menuju ke pantai : ide yang cerdas!"

"and finally: snorkling!"
btw itu lagi pose buat foto aja ya, aslinya kalau snorkling badannya tengkurep :p

4. Puncak, Bogor
Pergi ke Puncak dan berjalan di antara perkebunan teh merupakan impianku sejak SMP (ah baru setaun yang lalu sih ya, yeaaahhh :p). Dan ketika hal itu terwujud, ada satu hal yang sangat terasa: tidak ada yang lebih indah dan mendamaikan daripada menikmati keindahan alam, hamparan bukit kecil teh yang hijau, menikmatinya dengan flying fox dari atas, atau menyusuri pematang perkebunan teh dengan menunggang kuda. dan semua itu ada di Tea Walk Gunung Mas, Bogor (biarin lah promosi dikit, emang pantes soalnya!). Dan ketika udara pagi di perkebunan teh itu membuatku menyadari betapa Maha Kasih Sayangnya Tuhan dalam tiap udara segar yang Dia izinkan kita hirup.

"Ach...."

dan lagi-lagi, aku harus "terganggu" dengan penghasilan Bapak Petugas Kuda
Mereka hanya bekerja sabtu dan minggu karena kalau hari kerja nggak ada orang yang berkunjung, dengan sekali sewa kuda 25 ribu, dan dia harus mendampingi kudanya kemanapun si penunggang membawa, sementara dia hanya mendapatkan 30% dari total penghasilan hari itu, sisanya disetorkan ke pemilik kuda. dan ketika ku tanya mengapa bapak itu tidak membeli kuda sendiri, dia menjawab "Mahal kak, harganya 15 juta, dan kalau mau nyicil harus DP 5 juta". Pak, itu masih tak terjangkau ya untuk Bapak yang sudah bekerja 20 tahun di sini?
 
Copyright 2010 Wien Wien Solution. Powered by Blogger
Blogger Templates created by DeluxeTemplates.net
Wordpress by Wpthemescreator
Blogger Showcase